Adik Pelaku Sebut Penganiaya Komandan Brigadir Persis Labil dan Temperamen

Kompas.com - 02/02/2018, 19:31 WIB
Polrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo beserta Dewan Penasehat PP Persis Maman Abdurahman, Ketua DPRD Kota Bandung Isa Subagja, hadir menjelaskan penangkapan pelaku penganiayaan terhadap Komandan Brigadir Persatuan Islam Indonesia (Persis) HR Prawoto. KOMPAS.com/AGIE PERMADIPolrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo beserta Dewan Penasehat PP Persis Maman Abdurahman, Ketua DPRD Kota Bandung Isa Subagja, hadir menjelaskan penangkapan pelaku penganiayaan terhadap Komandan Brigadir Persatuan Islam Indonesia (Persis) HR Prawoto.
|
EditorReni Susanti

BANDUNG, KOMPAS.com - Fahmi (41) adik kandung dari Asep Maptuh (45), penganiaya Komandan Brigadir Persatuan Islam Indonesia ( Persis) HR Prawoto menyebut, kakaknya berkepribadian labil dan temperamen sejak tiga tahun lalu.

“Saya kurang tahu apa depresi atau gimana, tapi ada gelagatnya seperti itu (depresi). Kalau temperamen atau labil ada, sepertinya gara-gara keadaan mungkin,” ujar Fahmi di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Jumat (2/1/2018).

Menurut Fahmi, kondisi temperamen kakaknya sudah terjadi sejak tiga tahun lalu. Bahkan istri pelaku meninggalkannya karena sifat tempramennya tersebut. “Perilaku aneh tersebut terjadi sejak tiga atau dua tahun lalu,” jelasnya.

Ia mencontohkan, ketika ada keinginan yang tidak bisa didapatkan, pelaku akan marah-marah hingga merusak perabotan rumah.

“Semenjak ada kelainan itu saya jarang ngobrol, ada sekitar dua tahun sampai tiga tahun. Saya juga canggung karena rumah dirusaknya atau gimanalah. Padahal itu rumah saya, ditempatin sama dia,” ucapnya.

(Baca juga : Komandan Brigadir Persis Pusat Meninggal Usai Dianiaya Warga Depresi )

Asep merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara. Sebelum memiliki sikap temperamen, Asep sangat dihormati adik-adiknya.

“Dia itu dulu paling dihormati adik-adiknya, suka membantu,” tuturnya.

Sifat temperamennya itu tumbuh lantaran bisnis dan usahanya yang selalu gagal. “Dulu serabutan kerjanya atau bisnis, tapi selalu gagal,” jelasnya.

Sejak saat itu, kakaknya mulai temperamen. Asep kerap merusak ketika keinginannya tak terkabul. Namun selama itu ia belum pernah melukai orang. “Sebelumnya belum pernah melukai orang, baru kali ini,” tuturnya.

Ketua Komite Etik Dokter RS Sartika Asih sekaligus Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, Leonny Widjaja mengatakan, ada 90 jenis lebih gangguan jiwa. Diagnosis sementara, pelaku mengalami gangguan kepribadian.

“Kalau sementara gangguan kepribadian, ini sementara ya,” jelasnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X