Walau Gerhana Tidak Tampak, Warga Denpasar Tetap Gelar Persembahyangan - Kompas.com

Walau Gerhana Tidak Tampak, Warga Denpasar Tetap Gelar Persembahyangan

Kompas.com - 31/01/2018, 21:50 WIB
Warga Denpasar menggelar Persembahyangan di pura atau kediaman masing-masing seiring purnama dan gerhana total.KOMPAS.com/Robinson Gamar Warga Denpasar menggelar Persembahyangan di pura atau kediaman masing-masing seiring purnama dan gerhana total.

DENPASAR, KOMPAS.com - Kota Denpasar dan sekitarnya tertutup mendung pada Rabu (31/1/2018) dari siang hingga malam. Hal ini menyebabkan warga tidak dapat menyaksikan fenomena alam Super Blue Blood Moon.  

Padahal sejumlah titik keramaian sudah dipenuhi warga. Antara lain Pantai Sanur, Pantai Kuta, Lapangan Puputan dan Pura Jagagnatha, Denpasar. Ada yang datang bersama keluarga, sahabat, maupun orang per orang.

Walau bulan tidak kelihatan, umat Hindu di Bali tetap menjalani aktivitas Persembahyangan. Umat Hindu Bali, selalu menggelar persembahyangan setiap bulan purnama, baik di pura desa maupun pura keluarga atau pelinggih yang terletak di halaman rumah.

Dalam persembahyangan ini dipersembahkan sesajian berupa canang yang diberi dupa. Warga Denpasar, Komang Suartana saat ditemui di pelataran Pura Jagagnatha Denpasar mengaku datang bersama keluarga untuk melakukan persembahyangan.

(Baca juga : Pantauan Super Blue Blood Moon di Bosscha Tertutup Untuk Umum )

Menurutnya, hal ini rutin dilakukan setiap purnama, baik ada gerhana maupun tidak. "Memang tiap purnama sembahyang apalagi bulan ini kan ada dua kali purnama," kata Suartana.

Warga Denpasar lainnya, Nyoman Gede Sudiantara memilih menggelar persembahyangan di kediamannya. Dia mengatakan, rumahnya memiliki Sanggah atau Pura rumah tangga yang memiliki simbol-simbol seperti di pura umum.

"Di Sanggah juga ada simbol Batara Hyang Guru yang berastana di Rong atau ruang tiga yaitu Siwa, Paramasiwa, dan Sadasiwa," kata Sudiantara.

Berdoa di malam purnama merupakan kebiasaan turun temurun. Doa dilakukan 4 kali dalam sebulan sesuai perputaran bulan, yaitu dua kali saat tilem atau bulan mati, kajeng kliwon, dan purnama.

(Baca juga : Pentingnya Super Blue Blood Moon bagi Dunia Astronomi )

Purnama kali ini memang terasa lebih spesial karena dalam satu bulan masehi terjadi dua kali purnama dan gerhana bulan total. Peristiwa yang sangat jarang terjadi.

Persembahyangan purnama dilakukan dengan ngasap atau agniorta sesuai ajaran Hindu. Gerhana bagi orang Bali juga dikenal dengan sebutan Bulan Kepangan atau bulan kemakan. Di beberapa wilayah, warga membunyikan kul-kul atau kentongan agar bulan selamat.

Dalam kepercayaan Hindu Bali, bulan disebut juga dengan Dewi Ratih. Dewi Ratih adalah dewi cantik yang bisa meberikan aura kecantikan.

"Persembahyangan malam ini tentu ada hubungannya dengan bulan kepangan, dalam kepercayaan Hindu Bali bulan disebut juga Dewi Ratih atau Syang Hyang Candra," kata Sudiantara. 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorReni Susanti
Komentar
Close Ads X