Ikan, Madu, dan Para Perempuan yang Berinovasi di Tepi Sungai Kapuas

Kompas.com - 30/01/2018, 15:18 WIB
Salah satu aktivitas masyarakat nelayan di Desa Ujung Said, Kecamatan Jongkong, Kabupaten Kapuas Hulu (24/1/2018) KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWANSalah satu aktivitas masyarakat nelayan di Desa Ujung Said, Kecamatan Jongkong, Kabupaten Kapuas Hulu (24/1/2018)
|
EditorCaroline Damanik

Dalam keseharian, pembagian peran sebenarnya sudah cukup terwakili dalam setiap rumah tangga, seperti misalnya masyarakat nelayan. Kaum lelaki bertugas mencari ikan, sedangkan kaum perempuan bertugas mengolah ikan hasil tangkapan tersebut.

Begitu juga dengan madu hutan, kaum lelaki yang tergabung dalam periau (kelompok petani madu hutan) memanen sarang lebah hutan (apis dorsata) dan kaum perempuan juga terlibat dalam proses memisahkan madu dengan sarang lebah.

Namun, selama ini kelompok perempuan di kedua desa tersebut belum tersentuh pendampingan. Padahal, kawasan di kedua desa ini memiliki potensi yang bisa dikembangkan.

“Sebagian besar pengolahan produk turunan seperti ikan asin dan kerupuk dikerjakan oleh kaum perempuan yang turut menopang perekonomian keluarga mereka,” ungkap Herculana.

Para ibu yang tergabung dalam kelompok ini diberi pelatihan membuat produk turunan, membuat nugget, sosis dan abon, selain ikan asin dan kerupuk yang sejak puluhan tahun mereka geluti.

Dengan adanya keterampilan baru tersebut, para perempuan ini diharapkan bisa lebih inovatif dalam memasarkan produk olahan ikan yang mereka produksi.

Proses panen madu hutan di Desa Semangit, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (27/10/2017). Proses panen madu hutan ini menggunakan teknik panen lestari sehingga panen bisa dilakukan lebih dari satu kali dalam setahun. KOMPAS.com / YOHANES KURNIA IRAWAN Proses panen madu hutan di Desa Semangit, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (27/10/2017). Proses panen madu hutan ini menggunakan teknik panen lestari sehingga panen bisa dilakukan lebih dari satu kali dalam setahun.
Senada dengan Herculana, Staf Pemberdayaan Perempuan Konsorsium Dian Tama, Anatalia Sri Lestari menjelaskan, proses pendampingan terhadap kaum perempuan ini menargetkan lima kelompok dengan jumlah anggota mencapai 150 orang.

“Proses pendampingan dilakukan dengan pelatihan pengolahan ikan, namun seiring berjalannya waktu, kami berpikir, sayang sekali kalau kaum perempuan yang sudah terbentuk dalam kelompok hanya ditingkatkan kapasitasnya melalui produk saja. Kami juga mengajak mereka untuk berpikir kritis, berinovasi dan menyuarakan pendapatnya di forum masyarakat,” ungkap Sri.

Oleh karena itu, kelompok perempuan ini menambah daftar organisasi kelembagaan di tengah masyarakat yang sudah terbentuk sebelumnya di desa, seperti kelompok nelayan, kelompok pengawas masyarakat (pokmaswas) dan kelompok petani madu hutan yang tergabung dalam wadah Asosiasi Periau Mitra Penepian (APMP).

Selain memberikan pendampingan untuk peningkatan kapasitas masyarakat, program ini juga membangun infrastruktur berupa rumah produksi yang digunakan untuk mengolah produk madu hutan maupun ikan.

Rumah produksi ini dilengkapi dengan mesin pengolahan dengan sumber energi terbarukan yang berasal dari panel surya dengan menggunakan tenaga matahari dan ramah lingkungan.

Ditemui terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Kapuas Hulu, Muhammad Sukri, menyambut baik adanya program dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menyentuh langsung ke tingkat masyarakat, terutama yang mengarah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarkat.

“Kami harapkan, ke depan program dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang bekerja di Kapuas Hulu ini bisa selaras dengan program pemerintah sehingga dalam progress-nya bisa berbagi peran dan saling bersinergi karena pemerintah daerah juga punya keterbatasan,” ujar Sukri.

Keberadaan kelompok perempuan serta keterlibatan perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga diharapkan tidak hanya berhenti sebatas pendampingan saja, tapi bisa terus berlanjut terutama dalam berinovasi.

Sebab, menurut Sukri, inovasi dalam membuat dan memasarkan produk unggulan Kapuas Hulu, baik itu madu hutan, produk olahan ikan maupun pariwisata masih terus diperlukan oleh pemerintah daerah.

“Paling tidak (kaum perempuan) bisa memberdayakan diri sendiri dan terus berinovasi dan tidak berhenti sampai di sini saja,” ucapnya.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Multazam, Pelajar SMA yang Terjatuh di Gunung Piramid, Ditemukan Meninggal

Multazam, Pelajar SMA yang Terjatuh di Gunung Piramid, Ditemukan Meninggal

Regional
Dua Pegawai Positif Covid-19, Kantor Pusat Bank Banten Diminta Tutup Sementara

Dua Pegawai Positif Covid-19, Kantor Pusat Bank Banten Diminta Tutup Sementara

Regional
Satu Jenazah Ditemukan di Luwu Utara, BPBD Sebut Bukan Korban Banjir

Satu Jenazah Ditemukan di Luwu Utara, BPBD Sebut Bukan Korban Banjir

Regional
Ini Alasan Gubernur Banten Perpanjang PSBB Tangerang Raya

Ini Alasan Gubernur Banten Perpanjang PSBB Tangerang Raya

Regional
4 Pegawai Positif Covid-19, Puskesmas Wringinanom Ponorogo Tutup 10 Hari

4 Pegawai Positif Covid-19, Puskesmas Wringinanom Ponorogo Tutup 10 Hari

Regional
Puncak Gunung Piramid di Mata Pendaki: Saya Harus 'Ngesot' karena Sangat Sulit

Puncak Gunung Piramid di Mata Pendaki: Saya Harus "Ngesot" karena Sangat Sulit

Regional
Warga Berupaya Rebut Jenazah Covid-19, Buka Kantong Jenazah, dan Menciumnya

Warga Berupaya Rebut Jenazah Covid-19, Buka Kantong Jenazah, dan Menciumnya

Regional
Pencarian WN Amerika di Teluk Ambon Diperluas, Korban Belum Ditemukan

Pencarian WN Amerika di Teluk Ambon Diperluas, Korban Belum Ditemukan

Regional
PSBB Tangerang Raya Diperpanjang hingga 8 Kali, Ini Penyebabnya

PSBB Tangerang Raya Diperpanjang hingga 8 Kali, Ini Penyebabnya

Regional
Wisma Atlet Jakabaring Palembang Tak Lagi Rawat Pasien Covid-19

Wisma Atlet Jakabaring Palembang Tak Lagi Rawat Pasien Covid-19

Regional
Kasus Fetish Kain Jarik, Polisi: Pengakuan Tersangka Ada 25 Korban

Kasus Fetish Kain Jarik, Polisi: Pengakuan Tersangka Ada 25 Korban

Regional
Sulitnya Mendaki Gunung Piramid, Turun dari Puncak Harus 'Ngesot'

Sulitnya Mendaki Gunung Piramid, Turun dari Puncak Harus "Ngesot"

Regional
Miris, Remaja Ini Tewas Dikeroyok Teman Usai Dituduh Curi Uang Rp 100.000

Miris, Remaja Ini Tewas Dikeroyok Teman Usai Dituduh Curi Uang Rp 100.000

Regional
Detik-detik Remaja Tewas Dikeroyok Temannya, Berawal dari Curi Uang Rp 100.000

Detik-detik Remaja Tewas Dikeroyok Temannya, Berawal dari Curi Uang Rp 100.000

Regional
Detik-detik Menegangkan Polisi Kejar Pencuri Mobil dari Jakarta, Tertangkap di Bypass Lohbener

Detik-detik Menegangkan Polisi Kejar Pencuri Mobil dari Jakarta, Tertangkap di Bypass Lohbener

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X