Tanah Ambles di Gunung Kidul Melebar, Petani Khawatir

Kompas.com - 29/01/2018, 16:40 WIB
Polisi memasang garis polisi untuk mengantisipasi warga mendekati tanah ambles di Ngondel Kulon, Desa Krambilsawit, Gunungkidul. KOMPAS.com/Markus YuwonoPolisi memasang garis polisi untuk mengantisipasi warga mendekati tanah ambles di Ngondel Kulon, Desa Krambilsawit, Gunungkidul.
|
EditorReni Susanti

YOGYAKARTA, KOMPAS.com Tanah ambles yang membentuk lubang di tengah ladang di Dusun Ngondel Kulon, Desa Krambilsawit, Kecamatan Saptosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, semakin melebar. Hal ini membuat khawatir petani yang memiliki ladang di sekitar lubang tersebut.

"Setiap minggu semakin melebar. Belum lama ini, di sini, masih ada pohon turi, tetapi sekarang sudah hilang," ujar salah seorang petani, Parwanto, Senin (29/1/2018).

Luas lubang di tanah tersebut saat ini sekitar 20 meter dengan lebar 5-7 meter, dan berkedalaman 5 meter. Setiap hujan turun, air menggenangi lokasi.

"Menurut cerita turun-temurun, ladang ini dulunya ada luwengnya, dan ditutup menggunakan batu. Setelah banyak tanah yang mengendap, kemudian dijadikan lahan pertanian," tuturnya. 

(Baca juga: Tanah Ambles di Gunung Kidul, Fenomena Biasa di Tanah Karst)

Saat ini, intensitas hujan di daerahnya masih tinggi. Ia khawatir tanah ambles meluas hingga ke ladang miliknya yang berlokasi tidak jauh dari lubang tersebut.

"Awalnya tidak seluas ini, tetapi terus melebar meski tidak cepat," ucapnya.

Kepala Desa Krambilsawit Wagiya mengaku tidak bisa berbuat banyak terkait munculnya lubang di tengah ladang tersebut. Ia pun belum melaporkan kejadian ini ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunung Kidul.

"Mau ditutup akses jalannya sulit, selain itu mau habis berapa batunya. Mungkin lama-kelamaan berhenti dan akan berisi tanah kembali," tuturnya.

(Baca juga: Viral di Medsos, Tanah Ambles di Gunung Kidul Membentuk Danau Berair Jernih )

Kasi Logistik dan Kedaruratan BPBD Gunung Kidul Sutaryono mengaku belum mendapatkan laporan dari desa terkait peristiwa alam ini. Namun, ia menduga, di bawah tanah terdapat sungai.

"Seperti di tanah karst, lokasi tersebut kemungkinan ada rongganya. Saat musim hujan, air masuk ke dalam rongga. Terjadi proses kimiawi yang menyebabkan lubang melebar dan ambles," ungkapnya.

Ia meminta masyarakat sekitar tidak khawatir, tetapi tetap waspada terkait peristiwa alam ini. "Tidak usah khawatir, tetapi waspada. Tanah ambles merupakan fenomena biasa di tanah karst," ujarnya. 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Nikahkan Putrinya di Mushala Polsek, Tersangka Pencurian Tak Kuasa Menahan Tangis

Nikahkan Putrinya di Mushala Polsek, Tersangka Pencurian Tak Kuasa Menahan Tangis

Regional
Tertipu Modus Pulsa Gratis, Perempuan Ini Kehilangan Uang Ratusan Juta Rupiah

Tertipu Modus Pulsa Gratis, Perempuan Ini Kehilangan Uang Ratusan Juta Rupiah

Regional
Pukat UGM soal KPK Tangkap Menteri Edhy: Tangkapan yang Signifikan

Pukat UGM soal KPK Tangkap Menteri Edhy: Tangkapan yang Signifikan

Regional
Klaim 80 Persen SMA/SMK Siap Gelar Belajar Tatap Muka, Disdik Papua: Harus Banyak OPD Terlibat

Klaim 80 Persen SMA/SMK Siap Gelar Belajar Tatap Muka, Disdik Papua: Harus Banyak OPD Terlibat

Regional
Tercatat 74 Kasus Positif Covid-19 Baru di NTT, Paling Banyak di Kota Kupang

Tercatat 74 Kasus Positif Covid-19 Baru di NTT, Paling Banyak di Kota Kupang

Regional
Debat Pilkada Karawang Soal Atasi Kemiskinan, Ada Paslon yang Mau Bangun 'Silicon Valley' hingga Tawarkan Kartu Kewirausahaan

Debat Pilkada Karawang Soal Atasi Kemiskinan, Ada Paslon yang Mau Bangun "Silicon Valley" hingga Tawarkan Kartu Kewirausahaan

Regional
25 Petugas Sortir dan Lipat Surat Suara di Solo Diupah Rp 225.000

25 Petugas Sortir dan Lipat Surat Suara di Solo Diupah Rp 225.000

Regional
Kadisdik Jatim Belum Cuti meski Istrinya Maju Pilkada, Inspektorat: Gubernur Sudah Mengingatkan

Kadisdik Jatim Belum Cuti meski Istrinya Maju Pilkada, Inspektorat: Gubernur Sudah Mengingatkan

Regional
Ribuan Buruh Cianjur Unjuk Rasa Tuntut Kenaikan UMK 2021

Ribuan Buruh Cianjur Unjuk Rasa Tuntut Kenaikan UMK 2021

Regional
Nenek Rasiti Rela Serahkan Naskah hingga Tongkat Kuno Warisan Keluarganya ke Pemerintah

Nenek Rasiti Rela Serahkan Naskah hingga Tongkat Kuno Warisan Keluarganya ke Pemerintah

Regional
Hendak Melaut, 2 Nelayan Ini Tersambar Petir, Satu Tewas

Hendak Melaut, 2 Nelayan Ini Tersambar Petir, Satu Tewas

Regional
Cerita Guru Honorer di Bulukumba, Mengabdi 7 Tahun tapi Gaji Tak Cukup Beli Bensin

Cerita Guru Honorer di Bulukumba, Mengabdi 7 Tahun tapi Gaji Tak Cukup Beli Bensin

Regional
Diperiksa KPK Terkait Kasus Zumi Zola, Bupati Muaro Jambi Mengaku Cuma Jadi Saksi

Diperiksa KPK Terkait Kasus Zumi Zola, Bupati Muaro Jambi Mengaku Cuma Jadi Saksi

Regional
Polisi Bongkar Investasi Bodong Bermodus Jual Beli Uang Asing

Polisi Bongkar Investasi Bodong Bermodus Jual Beli Uang Asing

Regional
Viral Video Seorang Ibu Balik Marahi Polisi Saat Ditegur Tak Pakai Helm, lalu Kabur

Viral Video Seorang Ibu Balik Marahi Polisi Saat Ditegur Tak Pakai Helm, lalu Kabur

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X