Kompas.com - 29/01/2018, 09:24 WIB
Setelah ditangkap dan dipenjarakan selama hampir tiga bulan di Malaysia, Hamida (30), TKI asal Kampung Indumakombong, Kecamatan Matakali, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, akhirnya dideportasi ke kampungnya hanya membawa anaknya. KOMPAS.ComSetelah ditangkap dan dipenjarakan selama hampir tiga bulan di Malaysia, Hamida (30), TKI asal Kampung Indumakombong, Kecamatan Matakali, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, akhirnya dideportasi ke kampungnya hanya membawa anaknya.
|
EditorErwin Hutapea


POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com – Nasib apes menimpa Hamida (30), seorang tenaga kerja Indonesia asal Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Bermaksud hendak mengikuti jejak suaminya menjadi TKI di Malaysia untuk memperbaiki nasib keluarganya, ia malah ditangkap dan dipenjara pihak Imigrasi Malaysia karena terbukti masuk ke wilayah Malaysia secara ilegal.

Hamida yang dideportasi dari Malaysia ke kampung halamannya di Polman pada Jumat (26/1/2018) hanya dengan membawa seorang anaknya berusia dua tahun dan satu tas pakaian.

TKI asal Kampung Indumakombong, Kecamatan Matakali, Polman, ini kemudian diserahkan kepada keluarganya oleh Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar di rumah dinasnya.

Hamida ditangkap bersama anaknya oleh pihak Imigrasi Malaysia saat ia tengah bekerja di pabrik pengolahan kayu di Kuala Lumpur, Malaysia, bersama suaminya. Hamida masuk ke Malaysia secara ilegal menggunakan paspor pelancong. Meski paspornya sudah lama tidak berlaku, ia masih tetap berada di Malaysia dan bekerja di pabrik itu.

Hamida sempat dipenjara di Malaysia selama hampir tiga bulan sebelum ia dideportasi ke kampung halamannya.

"Suami saya juga bekerja di sana, Pak" kata Hamida.

Baca juga: Sempat Koma dan Terkendala Biaya, Sarah TKI Asal Karawang Akhirnya Pulang

Alasan keberangkatannya menjadi pahlawan devisa ke Malaysia, selain bermaksud menyusul suaminya yang sudah lebih dahulu menjadi TKI di sana, juga karena harapan hendak memperbaiki taraf hidup keluarganya agar masa depan mereka bisa lebih baik. Namun, harapannya buyar.

Kabid Disnaker Polman Indar Jaya mengatakan, dalam catatan Disnakertrans, Hamida diketahui berangkat ke Malaysia melalui jalur ilegal. Ia baru diketahui sebagai TKI di Malaysia setelah ditangkap petugas Imigrasi Malaysia. Di Polman, menurut Indar, ada sembilan agen resmi penyalur tenaga kerja, empat di antaranya masih aktif.

"Kami akan tertibkan agen yang lain" ujar Indar.

Sementara itu, Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar mengimbau kepada masyarakat Polman yang ingin bekerja di Malaysia atau di luar negeri agar melalui jalur resmi dengan cara mendaftar di kantor Disnaker. Menurut Bupati, pengurusan dokumen TKI di Disnaker tidak dipungut biaya sepersen pun alias gratis.

"Kalau ada yang mau bekerja di Malaysia, langsung mendaftar di Disnaker, semua biayanya gratis," ucap Andi Ibrahim.

Baca juga: Kisah TKI Tasmi yang Meninggal di Malaysia dan Baru Dipulangkan 1,5 Bulan Kemudian

Kasus TKI bermasalah di Polman bukanlah batu kali ini saja yang terungkap ke permukaan. Sebelumnya, TKI lain yang bermasalah di luar negeri juga sempat membuat pihak Imigrasi dan pemerintah setempat kelimpungan.

Sejumlah TKI bermasalah itu mengaku nekat menempuh jalur ilegal dan menyabung nyawa demi bisa sampai ke Malaysia lantaran prosedur pengurusan TKI dinilai masih sangat birokratis, panjang, dan berliku.

Untuk pengurusannya, calon TKI butuh waktu mengurus sejumlah dokumen pelengkap di berbagai instansi. Itu pun belum ada jaminan dokumen mereka dinyatakan lengkap dan berhak mengantongi paspor.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Regional
Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Regional
Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Regional
Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Regional
Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Regional
Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Regional
Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Regional
Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Regional
Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Regional
Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X