Kompas.com - 23/01/2018, 19:59 WIB
Sejumlah pengendara nekat melintas di atas material longsor meski kondisi tanah masih dalam status bahaya terjadi longsor susulan, Selasa (23/1/2018). Slamet WidodoSejumlah pengendara nekat melintas di atas material longsor meski kondisi tanah masih dalam status bahaya terjadi longsor susulan, Selasa (23/1/2018).
|
EditorErwin Hutapea


TRENGGALEK, KOMPAS.com - Tanah longsor yang memutus total jalur utama penghubung antara Kecamatan Kampak dan Kecamatan Munjungan, Trenggalek, Jawa Timur, Selasa (23/1/2018), membuat pembersihan material longsor belum bisa dilakukan. Warga terpaksa membuat jalan setapak di atas material longsor meski kondisinya masih dalam status bahaya.

“Hari ini kami masih sebatas melakukan koordinasi bersama beberapa pihak. Sebab, sampai saat ini tanah masih labil dan masih dalam proses penelitian oleh tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM),” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Trenggalek, Muhammad Sholeh, di lokasi.

Ketebalan material longsor berupa tanah dan pohon menutup seluruh badan jalan dengan ketebalan mencapai 5 hingga 10 meter, sedangkan panjang material longsor mencapai 200 hingga 300 meter. Selain itu, kondisi tanah yang masih labil ditambah cuaca sering turun hujan menyulitkan rencana pembersihan material longsor.

“Material longsor ini sangat banyak sekali. Kondisi tanah juga masih labil sehingga sangat hati-hati untuk menentukan dan melakukan proses pembersihan material longsor,” ujar Muhammad Sholeh.

“Kemarin dan hari ini kami sudah meneliti secara detail. Untuk pembersihan material masih sangat rawan karena kami menemukan ada beberapa retakan yang berpotensi longsor susulan. Pembersihan bisa dilakukan mulai besok, diawali membersihkan material yang menutup aliran air,” ucap Farma Feradi, peneliti dari UGM.

Baca juga: Tanah Longsor di Bali Renggut Nyawa Pasangan Suami Istri

Sementara itu, sejumlah warga setempat membuat jalur setapak di atas material longsor sebagai jalur darurat. Meski kondisi tanah masih labil dan sering terjadi longsoran kecil, beberapa warga nekat melintas dengan berjalan kaki maupun menggunakan sepeda motor.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Warga memilih melintas meski kondisi jalur sulit dan membahayakan karena jalur alternatif yang ada kondisinya juga lebih sulit dan jarak tempuh lebih jauh.

“Saya dari Munjungan mau ke arah Trenggalek. Jalannya sangat sulit dan menantang, tapi lumayan dekat. Saya memilih jalur ini daripada yang alternatif. Jalannya lebih sulit dan jarak juga lebih jauh sekali,” ucap Rianto (38), warga yang nekat melintas di atas material longsor.

Rencananya, pembersihan material longsor akan melibatkan anggota Basarnas Pos Trenggalek, kepolisian, Perhutani, dan anggota TNI. Pembersihan akan dilakukan dengan menggunakan dua alat berat jenis loader dan dua ekskavator.

Baca juga: Terjadi Tanah Longsor di Tawangmangu, 300 Warga Mengungsi

 

Pada Selasa pagi hingga sore, Pemerintah Kabupaten Trenggalek masih berkoordinasi dengan berbagai pihak guna membahas metode pembersihan material longsor. Sebab, butuh waktu antara dua hingga tiga bulan untuk dibersihkan secara total. Yang menjadi prioritas utama pembersihan material longsor agar membuka akses sehingga segera terhubung.

“Yang kami utamakan adalah terlebih dahulu membuka jalur agar bisa dilalui masyarakat. Untuk proses pembersihan akan lama sekali apabila harus dibersihkan total, dan sangat membahayakan. Opsi lainnya adalah kami bersihkan sebagian dan dibangun jalur baru di atas jalur lama,” papar Muhammad Sholeh.

Ribuan kubik tanah yang menutup total jalur utama penghubung Kecamatan Kampak menuju Kecamatan Munjungan ini berada di Desa Ngadimulyo. Longsor terjadi dari sisi tebing setinggi sekitar 150 meter dan luas sekitar empat hektar. Atas peristiwa ini, belum ada laporan orang hilang maupun korban jiwa.

“Tanah yang longsor berada di Kilometer 16 Desa Ngadimulyo milik Perhutani Petak 147 Blok D, Dusun Watukembang dan Dusun Suwaru, Kecamatan Kampak, Trenggalek,” ujar Wakil Administratur Perhutani BKPH Kediri Selatan, Andi Iswindiarto.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengusaha Langgar Aturan, Walkot Bobby Robohkan Bangunan di Atas Drainase

Pengusaha Langgar Aturan, Walkot Bobby Robohkan Bangunan di Atas Drainase

Regional
100 Hari Kerja Walkot Bobby Fokus Atasi Sampah, Walhi: Ini Langkah Tepat

100 Hari Kerja Walkot Bobby Fokus Atasi Sampah, Walhi: Ini Langkah Tepat

Regional
Kejar Medali Emas, Provinsi Papua Kirim 14 Atlet Sepak Takraw ke PON XX 2021

Kejar Medali Emas, Provinsi Papua Kirim 14 Atlet Sepak Takraw ke PON XX 2021

Regional
Wabup Luwu Utara Resmikan Program Air Bersih untuk 60 KK di Desa Pombakka, Malangke Barat

Wabup Luwu Utara Resmikan Program Air Bersih untuk 60 KK di Desa Pombakka, Malangke Barat

Regional
Tinjau Vaksinasi di Tanjung Emas, Walkot Hendi Pastikan Vaksin Covid-19 Aman Digunakan

Tinjau Vaksinasi di Tanjung Emas, Walkot Hendi Pastikan Vaksin Covid-19 Aman Digunakan

Regional
Kejari Semarang Bantu Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar, Pemkot Berikan Apresiasi

Kejari Semarang Bantu Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar, Pemkot Berikan Apresiasi

Regional
Penanganan Covid-19 di Kota Medan Dinilai Sudah “On the Track”, Pengamat Kesehatan Puji Kinerja Bobby

Penanganan Covid-19 di Kota Medan Dinilai Sudah “On the Track”, Pengamat Kesehatan Puji Kinerja Bobby

Regional
Ada 499 Pasien Covid-19 dari Luar Semarang, Walkot Hendi Siapkan Hotel untuk Karantina

Ada 499 Pasien Covid-19 dari Luar Semarang, Walkot Hendi Siapkan Hotel untuk Karantina

Regional
Apresiasi Penanganan Covid-19  di Luwu Utara, Kapolda Sulsel: Protokol Kesehatan Jangan Kendor

Apresiasi Penanganan Covid-19 di Luwu Utara, Kapolda Sulsel: Protokol Kesehatan Jangan Kendor

Regional
Bupati IDP Harap Kedatangan Pangdam XIV Hasanuddin dan Rombongan Bisa Bantu Pulihkan Luwu Utara

Bupati IDP Harap Kedatangan Pangdam XIV Hasanuddin dan Rombongan Bisa Bantu Pulihkan Luwu Utara

Regional
Antisipasi Kerumunan, Wali Kota Hendi Batasi Kuota Vaksinasi 'Drive Thru'

Antisipasi Kerumunan, Wali Kota Hendi Batasi Kuota Vaksinasi "Drive Thru"

Regional
Pemkab Luwu Utara Genjot Pembangunan 1.005 Huntap Bagi Korban Banjir Bandang

Pemkab Luwu Utara Genjot Pembangunan 1.005 Huntap Bagi Korban Banjir Bandang

Regional
Pastikan Luwu Utara Bebas BAB Sembarangan, Bupati IDP Harap Hasil Verifikasi Kabupaten ODF Valid

Pastikan Luwu Utara Bebas BAB Sembarangan, Bupati IDP Harap Hasil Verifikasi Kabupaten ODF Valid

Regional
Tercatat 217 UMKM Ajukan Surat PIRT, Bupati Lampung Timur: Jangan Dipersulit

Tercatat 217 UMKM Ajukan Surat PIRT, Bupati Lampung Timur: Jangan Dipersulit

Regional
Dua Bangunan di Kota Metro Jadi Cagar Budaya, Walkot Wahdi: Bisa Jadi Referensi Penelitian

Dua Bangunan di Kota Metro Jadi Cagar Budaya, Walkot Wahdi: Bisa Jadi Referensi Penelitian

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X