Stok Aman, NTB Tidak Membutuhkan Beras Impor - Kompas.com

Stok Aman, NTB Tidak Membutuhkan Beras Impor

Kompas.com - 19/01/2018, 06:18 WIB
Pembeli beras di stand Bulog NTB, tak hanya memilih beras yang berkualitas baik tapi juga murah.KOMPAS.com/Fitri Pembeli beras di stand Bulog NTB, tak hanya memilih beras yang berkualitas baik tapi juga murah.

MATARAM, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat ( NTB) menilai beras impor belum perlu masuk ke daerah lumbung padi tersebut.

Sebab, stok beras NTB hingga lima bulan ke depan aman. Harga beras di pasaran pun masih di bawah harga eceran tertinggi (HET). 

Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) NTB, Achmad Makmun mengatakan, ketersediaan beras di 16 gudang Bulog NTB mencapai 25.000 ton. 

“Berarti sampai Mei, masih ada stoknya. Saat ini jumlahnya 25.000 ton. Rata-rata salur 4.000 ton, kemudian sisanya untuk cadangan untuk operasi pasar,” kata Makmun, Kamis (18/1/2018).

(Baca juga : Stok Beras Melimpah, Bulog Sulsel Tolak Beras Impor)

Selain itu, NTB akan segera memasuki panen raya. Dari data Dinas Pertanian NTB yang diperolehnya, masa panen masih terus belanjut, dan puncaknya akan terjadi pada Maret. Karena itu pihaknya tidak mengkhawatirkan ketersediaan beras untuk NTB. 

Berdasarkan catatan Bulog, dalam 10 tahun terakhir, NTB menjadi 5 daerah terbesar pemasok pangan nasional. Produksi NTB di 2017 lalu surplus, sebanyak 21.000 ton beras. NTB pun berhasil mengirim beras ke Bali dan NTT.

Jumlah ini, sambung dia, di luar data pengiriman pedagang antar pulau. Makmun menyebutkan, tak ada sejarahnya NTB terima impor beras.

Meskipun sekali waktu persediaan terganggu karena NTB terlalu banyak mengirim ke luar daerah saat musim tanam bulan Desember-Januari.

Makmun menilai, impor beras adalah kebijakan pusat untuk menjaga stok beras nasional. Namun itu tidak berpengaruh bagi masyarakat NTB.

Apa yang dikatakan Makmun memang terlihat di sejumlah pasar tradisional di Pulau Lombok, khususnya di Kota Mataram. masyarakat masih bisa menentukan pilihan akan membeli beras jenis apa yang sesuai dengan uang di kantong mereka.

“Kalau saya sih cari yang berasnya pulen tapi murah, kalau duit kurang ya beli yang medium yang harganya murah,” kata Holida, warga Mataram.

(Baca juga : Anggota DPD Minta Kepala Daerah Tolak Beras Impor )

Pedagang beras di Pasar Kebon Roek Ampenan, menawarkan sejumlah pilihan beras pada pembeli, mulai dari Rp 8.200/kg untuk beras medium dari Bulog hingga beras premiun seharga Rp 11.500/kg, dan C4 super yang harganya Rp 11.000/kg.

Harga tersebut mengalami kenaikan Rp 1.000/kg, karena memasuki musim penghujan.

Kepala Dinas Pertanian NTB, Husnul Fauzi menjelaskan, NTB belum perlu beras impor. Karena Januari ini, 114 hektar sawah di NTB siap panen. Sisanya, 30.000 ha akan panen di bulan Maret. 

"Akan ada 500.000 ton beras di akhir Maret untuk wilayah NTB. Jadi masih aman untuk mencukupi kebutuhan 4,5 juta penduduk NTB,” tutur Husnul.

Tolak Beras Impor 

Sejumlah petani yang bermitra dengan Bulog, nampak gelisah di depan kantor Bulog. Salah satunya H Jalal, yang selama ini menggarap 7 hektar lahannya.

Baginya, kabar impor beras itu menyakitkan hati petani. Jalal membayangkan masuknya beras dari luar Indonesia akan menggeser beras petani lokal seperti dirinya.

“Saya tidak setuju impor beras itu, akan buat anjlok harga beras kami, sebaiknya pemerintah batalkan impor beras,” ucap Jalal.

Sebagai mitra Bulog, dia berharap pemerintah mendengarkan apa yang menjadi harapan petani. Sebab apa yang disampaikannya merupakan suara ribuan petani lainnya di Pulau Lombok. 

Selama ini, petani harus menghadapi permainan harga pupuk dan serangan hama. Karena itu, impor beras hanya akan membuat petani di NTB, patah arang.


Terkini Lainnya

OTT Kepala Daerah di Lampung Diduga Terkait Proyek Infrastruktur di Mesuji

OTT Kepala Daerah di Lampung Diduga Terkait Proyek Infrastruktur di Mesuji

Nasional
KPK Tangkap Tangan Kepala Daerah di Lampung

KPK Tangkap Tangan Kepala Daerah di Lampung

Nasional
Penyebab Banjir Sulsel, Pintu Air di Dua Bendungan Dibuka

Penyebab Banjir Sulsel, Pintu Air di Dua Bendungan Dibuka

Regional
Lantik Bupati dan Wabup Garut, Ini Janji Ridwan Kamil

Lantik Bupati dan Wabup Garut, Ini Janji Ridwan Kamil

Regional
Takut Longsor, Warga Cisolok Sukabumi Ada yang Mengungsi ke Banten

Takut Longsor, Warga Cisolok Sukabumi Ada yang Mengungsi ke Banten

Regional
Mahasiswa UNG Korban Kekerasan Alami Gangguan Pendengaran Hingga Trauma

Mahasiswa UNG Korban Kekerasan Alami Gangguan Pendengaran Hingga Trauma

Regional
Terpeleset Saat Bermain, Bocah SD Ditemukan Tewas di Dasar Embung

Terpeleset Saat Bermain, Bocah SD Ditemukan Tewas di Dasar Embung

Regional
Fakta Rencana Penutupan TN Komodo oleh Gubernur NTT, Tawarkan Revitalisasi hingga Tanggapan Wapres Jusuf Kalla

Fakta Rencana Penutupan TN Komodo oleh Gubernur NTT, Tawarkan Revitalisasi hingga Tanggapan Wapres Jusuf Kalla

Regional
Sumur Semburkan Lumpur dan Gas, 10 Kepala Keluarga Mengungsi

Sumur Semburkan Lumpur dan Gas, 10 Kepala Keluarga Mengungsi

Regional
Sidang Kasus Penguasaan Lahan, Hercules Cecar Pertanyaan ke Bos PT Nila Alam

Sidang Kasus Penguasaan Lahan, Hercules Cecar Pertanyaan ke Bos PT Nila Alam

Megapolitan
Ridwan Kamil: Dalam Waktu Dekat, Kredit Infrastruktur Daerah Diluncurkan

Ridwan Kamil: Dalam Waktu Dekat, Kredit Infrastruktur Daerah Diluncurkan

Regional
Penagihan Door-to-Door Efektif Kumpulkan Pajak

Penagihan Door-to-Door Efektif Kumpulkan Pajak

Megapolitan
Polri: Hasil Analisis Rekaman CCTV Bom di Rumah Pimpinan KPK Masih Kabur

Polri: Hasil Analisis Rekaman CCTV Bom di Rumah Pimpinan KPK Masih Kabur

Nasional
Biografi Tokoh Dunia: Fabian Gottlieb, Penjelajah Pertama Rusia ke Kutub Selatan

Biografi Tokoh Dunia: Fabian Gottlieb, Penjelajah Pertama Rusia ke Kutub Selatan

Internasional
Pasca-bencana Banjir, PLN Segera Pulihkan Sistem Kelistrikan di Sulsel

Pasca-bencana Banjir, PLN Segera Pulihkan Sistem Kelistrikan di Sulsel

Regional

Close Ads X