"Ketika Saya Minta Legalisir, Akta Cerai Ini Justru Dinyatakan Palsu"

Kompas.com - 18/01/2018, 11:50 WIB
Panitera Pengadilan Agama Purwodadi, Grobogan, Jateng, Edy Iskandar menjelaskan akta cerai Imam Santoso?, warga Kuripan, Purwodadi adalah palsu, saat ditemui di kantornya, Rabu (17/1/2018). KOMPAS.com/Puthut Dwi PutrantoPanitera Pengadilan Agama Purwodadi, Grobogan, Jateng, Edy Iskandar menjelaskan akta cerai Imam Santoso?, warga Kuripan, Purwodadi adalah palsu, saat ditemui di kantornya, Rabu (17/1/2018).

GROBOGAN, KOMPAS.com  - Imam Santoso (46), warga Kelurahan Kuripan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah kaget bukan kepalang ketika menerima dokumen akta cerai dari perwakilan keluarga istrinya beberapa bulan lalu.

Meski perceraian itu tidak dikehendakinya, Imam hanya bisa pasrah lantaran ia mengaku tak tahu menahu perihal prosedur perceraian. Terlebih lagi Imam juga disibukkan dengan pekerjaannya yang sering merantau ke luar kota.

Praktis, hasrat Imam yang bersikeras mempertahankan biduk rumah tangganya pupus di tengah jalan. Padahal ia tidak pernah menerima surat panggilan dari pengadilan.

Imam dan istrinya, Siti Lestari (36), menikah akhir Januari 2001. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang kini duduk di bangku SMA. Pada 2010 lalu, sang istri mengutarakan keinginannya untuk bercerai. 

(Baca juga : Pembuat Akta Cerai dan Buku Nikah Palsu Dibekuk)

Pada 2005, Siti akhirnya memutuskan untuk bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia hingga saat ini.

"Dalam akta cerai yang saya terima tertulis bahwa Pengadilan Agama (PA) Purwodadi menyatakan kami telah resmi bercerai pada Desember 2010," ungkap Imam di Pengadilan Agama Purwodadi, Grobogan, Rabu (17/1/2018).

Yang membuat Imam heran, meski di akta cerai ditulis 2010, mengapa keluarga Siti baru menyerahkan akta tersebut enam bulan lalu. "Saya juga tidak pernah sama sekali dipanggil ke pengadilan," tuturnya.

Imam Santoso saat mempertanyakan legalitas akta cerai miliknya di Pengadilan Agama Purwodadi, Grobogan, Jateng, Rabu (17/1/2018).KOMPAS.com/Puthut Dwi Putranto Imam Santoso saat mempertanyakan legalitas akta cerai miliknya di Pengadilan Agama Purwodadi, Grobogan, Jateng, Rabu (17/1/2018).
Sebelum datang ke PA Purwodadi, Imam berniat memperbarui dokumen identitas kependudukan di Kantor Kelurahan Kuripan. Saat itu ia berpikir, karena sudah menerima akta cerai, status kekeluargaanya telah berubah. 

Petugas Kelurahan Kuripan kemudian menyarankan Imam meminta legalisir akta cerai ke PA Purwodadi.

"Karena kebetulan kerjaan saya di Jakarta rampung, hari ini pun saya langsung berkeinginan mengubah KTP dan KK. Namun, ketika saya meminta legalisir, akta cerai ini justru dinyatakan bermasalah alias palsu. Saya marah dan bingung karena merasa ditipu," terang Imam.

(Baca juga : Buku Nikah dan Akta Cerai Palsu, Modus untuk Nikah Lagi )

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BPBD Sebut Ada 21 Kecamatan di Luwu Berpotensi Banjir

BPBD Sebut Ada 21 Kecamatan di Luwu Berpotensi Banjir

Regional
Oknum Brimob yang Diduga Jual Senjata ke KKB Akan Dijerat Pidana Umum

Oknum Brimob yang Diduga Jual Senjata ke KKB Akan Dijerat Pidana Umum

Regional
Kronologi Seorang Tukang Kayu Tewas Tersengat Listrik Saat Buat Kerangka Jendela Pesanan Pembeli

Kronologi Seorang Tukang Kayu Tewas Tersengat Listrik Saat Buat Kerangka Jendela Pesanan Pembeli

Regional
Aktivitas Merapi Meningkat, Bupati Magelang Minta Jalur Evakuasi Diperiksa

Aktivitas Merapi Meningkat, Bupati Magelang Minta Jalur Evakuasi Diperiksa

Regional
Hamil 9 Bulan, Lisnawati Tewas Setelah Jatuh Terpelesat Saat Terjadi Gempa, Ini Kronologinya

Hamil 9 Bulan, Lisnawati Tewas Setelah Jatuh Terpelesat Saat Terjadi Gempa, Ini Kronologinya

Regional
Pencarian Santri yang Hanyut di Air Terjun Tibu Atas Dilanjutkan, Tim Penyelam Diturunkan

Pencarian Santri yang Hanyut di Air Terjun Tibu Atas Dilanjutkan, Tim Penyelam Diturunkan

Regional
3 Anggota DPRD Cilacap Positif Covid-19, Kontak dengan Anggota Dewan yang Meninggal

3 Anggota DPRD Cilacap Positif Covid-19, Kontak dengan Anggota Dewan yang Meninggal

Regional
Celingak-Celinguk dan Melarikan Diri, Aksi Pasien Covid-19 di Solo Ini Terekam CCTV

Celingak-Celinguk dan Melarikan Diri, Aksi Pasien Covid-19 di Solo Ini Terekam CCTV

Regional
Pengakuan Pria yang Bunuh Selingkuhannya di Hotel: Saya Menyesal dan Khilaf

Pengakuan Pria yang Bunuh Selingkuhannya di Hotel: Saya Menyesal dan Khilaf

Regional
Jalan Kaki 7 Jam Sejauh 27 Km di Sumbawa, Gubernur NTB: Alam Kita Indah Kalau Hutan Terjaga

Jalan Kaki 7 Jam Sejauh 27 Km di Sumbawa, Gubernur NTB: Alam Kita Indah Kalau Hutan Terjaga

Regional
Gubernur NTT: Kondisi Komodo Baik-baik Saja

Gubernur NTT: Kondisi Komodo Baik-baik Saja

Regional
Seorang Ibu Hamil Tewas akibat Gempa Mamuju, Korban Jatuh Terpeleset

Seorang Ibu Hamil Tewas akibat Gempa Mamuju, Korban Jatuh Terpeleset

Regional
Warga Geruduk dan Hentikan Paksa Aktivitas Galian C di Luwu, Ini Penyebabnya

Warga Geruduk dan Hentikan Paksa Aktivitas Galian C di Luwu, Ini Penyebabnya

Regional
Libur Panjang, 6.000 Penumpang Datangi Bali, Mayoritas dari Jakarta

Libur Panjang, 6.000 Penumpang Datangi Bali, Mayoritas dari Jakarta

Regional
NTT Disebut Punya Iradiasi Panas Matahari Tertinggi di Indonesia, Ini Harapan Gubernur Viktor

NTT Disebut Punya Iradiasi Panas Matahari Tertinggi di Indonesia, Ini Harapan Gubernur Viktor

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X