Kerukunan di Desa Keberagaman, Tempat Ibadah Berdekatan dan Pernikahan Beda Agama Sudah Biasa

Kompas.com - 14/01/2018, 14:33 WIB
Pintu gerbang menuju Desa Wirotaman, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, Sabtu (13/1/2018). Desa yang ada di pelosok perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang itu memiliki warga pemeluk beragam agama seperti Islam, Hindu, Kristen dan Katolik. KOMPAS.com/Andi HartikPintu gerbang menuju Desa Wirotaman, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, Sabtu (13/1/2018). Desa yang ada di pelosok perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang itu memiliki warga pemeluk beragam agama seperti Islam, Hindu, Kristen dan Katolik.
|
EditorFarid Assifa

Kepala Desa Wirotaman, Ahmad Soleh mengatakan, ada tradisi yang membuat kerukunan dalam beragama itu tetap terjaga, yaitu silaturahmi. Setiap ada hari besar keagamaan, pemeluk agama yang lain datang ke rumah tetangganya yang sedang merayakan hari besar keagamaan untuk mengucapkan selamat.

“Kalau Idul Fitri, umat yang non-muslim ikut keluar rumah, mereka bersilaturahmi. Kalau Natal, kayak kemarin, pemeluk agama yang lain keluar ikut mengamankan jalannya Natal dan bersilaturahmi. Begitu juga kalau Nyepi,” katanya.

“Diawali dari itu, akhirnya kerukunan jalan dan tidak ada konflik. Jadi jalinan silaturahmi yang paling menonjol,” imbuhnya.

Tradisi saling bersilaturahmi atau biasa di sebut anjangsana itu sudah terjalin selama bertahun-tahun dan tetap terjaga hingga saat ini.

Baca juga : Pesan Toleransi Antar-umat Beragama dalam Perayaan Idul Adha...

Tidak hanya itu, di dalam kehidupan sosial, warga di desa tersebut selalu mengedepankan asas kebersamaan dan gotong-royong, antar-pemeluk agama sekalipun. Jika ada satu warga yang membutuhkan pertolongan, mereka dengan sukarela menolong tanpa memandang latar belakang agamanya. Bagi mereka, menolong adalah sebuah kewajiban bagi yang membutuhkan.

“Kalau mau menolong masih melihat agamanya, ya tidak jadi menolong,” kata Suwardi, salah satu tokoh Agama Hindu.

Hal yang sama disampaikan oleh Hari Cahyono Adi, seorang tokoh Agama Kristen. Dikatakannya, jika ada salah satu pemeluk agama tertentu membangun tempat ibadah, pemeluk agama yang lain ikut membantu.

“Misalnya ketika ada pembangunan mushala, kami yang non-muslim ikut membantu,” jelasnya.

M Repan Efendi, salah satu tokoh Agama Islam di desa itu mengatakan, kehidupan sosial antar pemeluk agama di desa itu sudah terjalin dengan kokoh. Setiap ada hajatan desa, seperti bersih desa, selalu diikuti dengan doa dari tiga agama tersebut.

“Masyarakat sini sudah terbiasa saling kerja sama dalam segala hal, terutama dalam bidang sosial kemasyarakatan,” ungkapnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X