Kompas.com - 10/01/2018, 18:11 WIB
Buaya jenis sinyulong atau buaya sapit yang berhasil dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Kerja Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun, Rabu (10/1/2018) akhirnya dilepas ke Sungai Buluh Kecil, di.kawasan Taman Nasional.Tanjung Puting Kompas.com/Budi Baskoro Buaya jenis sinyulong atau buaya sapit yang berhasil dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Kerja Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun, Rabu (10/1/2018) akhirnya dilepas ke Sungai Buluh Kecil, di.kawasan Taman Nasional.Tanjung Puting
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

PANGKALAN BUN, KOMPAS.com - Warga Sungai Arut Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, diminta tak mengkhawatirkan buaya berukuran raksasa yang dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Rabu (10/1/2017) pagi.

Buaya yang semula sempat direncanakan dilepas kembali ke Suaka Margasatwa (SM) Lamandau, itu akhirnya dilepas ke Sungai Buluh Kecil, di dalam kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

(Baca: Seekor Buaya Berukuran Raksasa Dievakuasi BKSDA Kalimantan Tengah)

Fajar Dewanto, Field Diretor Orangutan Foundation International (OFI), menuturkan, buaya jenis sinyulong yang biasanya beredar di kawasan hulu sungai itu, diberangkatkan ke TNTP, via Dermaga Pantai Kubu, 25 kilometer dari kantor SKW II BKSDA Kalimantan Tengah, di Pangkalan Bun.

Dari Pantai Kubu, buaya itu diangkut dengan kelotok oleh staf BKSDA dan OFI.

"Buayanya sudah dalam perjalanan ke Sungai Buluh Kecil untuk lepas liar. Kasihan sudah sejak kemarin," kata Fajar, Rabu (10/1/2017) sore.

Fajar menilai, Sungai Buluh tempat terbaik yang ada bagi hewan pemangsa itu. "Di muara Sungai Buluh banyak buaya muara. Di hulu, habitat dan populasi sinyolong paling baik," lanjutnya.

Pelepasliaran buaya ini, praktis memupus kekhawatiran warga Bantaran Sungai Arut, yang khawatir bila sang predator dilepas di SM Lamandau, akan mudah mengakses Sungai Arut tempat pemukiman padat. Kekhawatiran ini wajar karena SM Lamandau dan Sungai Arut masih dalam satu aliran, dan jaraknya tak jauh.

Penolakan Warga

Sebelumnya, warga bantaran Sungai Arut sempat menyapaikan aspirasi penolakannya terhadap rencana evakuasi buaya berbobot 1 ton dan panjang lebih dari 5 meter itu via media sosial. Salah satunya, dari Koko Sulistyo (42), warga Kelurahan Raja Seberang, Pangkalan Bun.

"Jangan sampai datuknya buaya yang beratnya satu ton itu menyasar ke perkampungan kami. Anak-anak kami, umak-umak kami, nenek-nenek kami, seluruhnya beraktivitas di Bantaran Arut. Tolong dikaji lebih mendalam dampak keselamatannya pada masyarakat. Apa tidak konyol menaruh buaya di SM Lamandau yang jaraknya hanya 4-5 kilometer dari perkampungan kami," kata Koko, saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (10/1/2017) siang.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Resmikan Alun-alun Majalengka, Kang Emil: Silakan Berekspresi di Sini

Resmikan Alun-alun Majalengka, Kang Emil: Silakan Berekspresi di Sini

Regional
798 Tempat Penyokong Wisata Tersertifikasi CHSE, Jabar Siap Sambut Wisatawan Libur Lebaran

798 Tempat Penyokong Wisata Tersertifikasi CHSE, Jabar Siap Sambut Wisatawan Libur Lebaran

Regional
Peringati Hari Kartini, Wali Kota Madiun Minta Perempuan di Pemerintahan Berjiwa Melayani

Peringati Hari Kartini, Wali Kota Madiun Minta Perempuan di Pemerintahan Berjiwa Melayani

Regional
PPKM Diperpanjang, Wali Kota Medan Nyatakan Siap Ikuti Aturan

PPKM Diperpanjang, Wali Kota Medan Nyatakan Siap Ikuti Aturan

Regional
Tinjau Pengolahan Sampah Plastik, Kang Emil Imbau Masyarakat Gunakan “Octopus”

Tinjau Pengolahan Sampah Plastik, Kang Emil Imbau Masyarakat Gunakan “Octopus”

Regional
Selama Larangan Mudik, Wagub Uu Optimis Dapat Tekan Mobilitas Warga Jabar

Selama Larangan Mudik, Wagub Uu Optimis Dapat Tekan Mobilitas Warga Jabar

Regional
Terapkan Prokes dan PPKM di Kesawan City Walk, Pemkot Medan Lakukan Ini

Terapkan Prokes dan PPKM di Kesawan City Walk, Pemkot Medan Lakukan Ini

Regional
Ganjar Nilai Sistem Resi Gudang Grobogan Jadi Teladan Nasional, Mengapa?

Ganjar Nilai Sistem Resi Gudang Grobogan Jadi Teladan Nasional, Mengapa?

Regional
Anggap Warga Sudah Teredukasi Covid-19, Pemkab Wonogiri Longgarkan Kegiatan Ekonomi

Anggap Warga Sudah Teredukasi Covid-19, Pemkab Wonogiri Longgarkan Kegiatan Ekonomi

Regional
Diminta Khofifah Desain Masjid di Surabaya, Kang Emil: Alhamdulillah, Jadi Ladang Ibadah

Diminta Khofifah Desain Masjid di Surabaya, Kang Emil: Alhamdulillah, Jadi Ladang Ibadah

Regional
Pulihkan Ekonomi Jabar, Wagub Uu Dorong UMKM Manfaatkan Program Pemerintah

Pulihkan Ekonomi Jabar, Wagub Uu Dorong UMKM Manfaatkan Program Pemerintah

Regional
Mukhtar, Mantan Bomber Kantor Unicef Aceh Kini Jadi Petani Pepaya dan Porang

Mukhtar, Mantan Bomber Kantor Unicef Aceh Kini Jadi Petani Pepaya dan Porang

Regional
Lewat Produk UKM, Ganjar dan Dubes Ceko Diskusikan Sejumlah Potensi Kerja Sama

Lewat Produk UKM, Ganjar dan Dubes Ceko Diskusikan Sejumlah Potensi Kerja Sama

Regional
Serahkan Sertifikasi SNI ke Masker Ateja, Emil Akui Sedang Buat Kain Antivirus

Serahkan Sertifikasi SNI ke Masker Ateja, Emil Akui Sedang Buat Kain Antivirus

Regional
Bongkar Bangunan Bermasalah di Medan, Wali Kota Bobby: Mari Tingkatkan PAD

Bongkar Bangunan Bermasalah di Medan, Wali Kota Bobby: Mari Tingkatkan PAD

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X