Kompas.com - 06/12/2017, 07:23 WIB
Bangunan rumah makan Rindu Alam, Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat, saat difoto malam hari, Kamis (30/11/2017). KOMPAS.com / Ramdhan Triyadi BempahBangunan rumah makan Rindu Alam, Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat, saat difoto malam hari, Kamis (30/11/2017).
|
EditorCaroline Damanik

BOGOR, KOMPAS.com - Pada tahun 1980-an sampai awal 2000-an, masyarakat yang biasa bepergian ke Bandung melintasi kawasan Puncak, di daerah Cisarua, Kabupaten Bogor, pasti hafal betul dengan nama rumah makan ini.

Rindu Alam.

Hampir setiap kendaraan yang melintas selalu menjadikan Rindu Alam sebagai tempat beristirahat sambil menyantap hidangan sebelum melanjutkan perjalanan.

Rindu Alam mengalami masa kejayaannya sejak pertama kali beroperasi pada tahun 1980. Pada era pemerintahan Presiden Soeharto itu, Rindu Alam tidak pernah sepi dari pengunjung.

Bukan hanya tamu lokal saja yang datang ke Rindu Alam, melainkan juga tamu mancanegara. Turis dari Asia maupun Eropa pernah singgah untuk mencicipi hidangan makanan di rumah makan milik mantan Panglima Kodam Siliwangi Letjen Ibrahim Adjie ini.

Berjalannya waktu, perlahan jumlah pengunjung mulai berkurang. Sejak dibangunnya Tol Cipularang sebagai alternatif akses jalan menuju Bandung dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, jumlah wisatawan yang melintasi jalur Puncak untuk pergi ke Bandung berkurang drastis. 

Selain itu, tumbuhnya tempat-tempat makan baru di sepanjang jalur menuju Puncak, mulai dari Gadog (Ciawi) sampai Cisarua, ditambah kemacetan di sepanjang jalur Puncak juga menjadi faktor Rindu Alam tak seramai dulu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Seorang karyawan rumah makan Rindu Alam, Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat, sedang melayani pelanggan turis arab yang datang, Kamis (30/11/2017).KOMPAS.com / Ramdhan Triyadi Bempah Seorang karyawan rumah makan Rindu Alam, Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat, sedang melayani pelanggan turis arab yang datang, Kamis (30/11/2017).

Namun, apapun kondisinya, bagi mereka yang rindu dengan Rindu Alam, tempat ini selalu menjadi kenangan dan melekat di hati pecintanya.

Banyak orang beranggapan belum lengkap rasanya ke Puncak tanpa datang ke Rindu Alam. Puncak pun identik dan melekat dengan nama Rindu Alam.

Ajat Sudrajat masih ingat betul ketika dirinya pertama kali bekerja di rumah makan ini, 30 tahun silam. Pria asal Ciamis, Jawa Barat ini menceritakan, banyak pengunjung sampai susah mencari tempat duduk. Terlebih pada akhir pekan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Putus Mata Rantai Penularan Covid-19, Bupati Jekek: Harus Ada Kebijakan Terintegrasi

Putus Mata Rantai Penularan Covid-19, Bupati Jekek: Harus Ada Kebijakan Terintegrasi

Regional
Antisipasi Penyebaran Hoaks, Pemprov Papua Perkuat Peran Bakohumas

Antisipasi Penyebaran Hoaks, Pemprov Papua Perkuat Peran Bakohumas

Regional
Persentase BOR di Semarang Tinggi, Wali Kota Hendi Tambah 390 Tempat Tidur Pasien Covid-19

Persentase BOR di Semarang Tinggi, Wali Kota Hendi Tambah 390 Tempat Tidur Pasien Covid-19

Regional
Mobilitas Jadi Penyebab Kerumunan, Ganjar Ajak Masyarakat Tetap di Rumah

Mobilitas Jadi Penyebab Kerumunan, Ganjar Ajak Masyarakat Tetap di Rumah

Regional
BERITA FOTO: Tenaga Pikul Beristirahat di Atas Makam Usai Kuburkan Jenazah Pasien Covid-19

BERITA FOTO: Tenaga Pikul Beristirahat di Atas Makam Usai Kuburkan Jenazah Pasien Covid-19

Berita Foto
Kasus Covid-19 di Semarang Naik 700 Persen, Walkot Hendi Berlakukan PKM

Kasus Covid-19 di Semarang Naik 700 Persen, Walkot Hendi Berlakukan PKM

Regional
Kasus Covid-19 di Semarang Naik, Walkot Hendi Resmikan RS Darurat

Kasus Covid-19 di Semarang Naik, Walkot Hendi Resmikan RS Darurat

Regional
Akses ke Faskes Sulit, Dompet Dhuafa Sumbangkan Ambulans untuk Warga Desa Tanjung Raya

Akses ke Faskes Sulit, Dompet Dhuafa Sumbangkan Ambulans untuk Warga Desa Tanjung Raya

Regional
Peringati HUT Ke-103 Kota Madiun, Wali Kota Maidi Fokus Stop Covid-19 dan Genjot Ekonomi

Peringati HUT Ke-103 Kota Madiun, Wali Kota Maidi Fokus Stop Covid-19 dan Genjot Ekonomi

Regional
Hendi Terus Bergerak Cepat Sediakan Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Semarang

Hendi Terus Bergerak Cepat Sediakan Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Semarang

Regional
Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Regional
Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Regional
Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Regional
25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

Regional
Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X