Seminggu Kurung Diri, Anak 11 Tahun Korban Penganiayaan Akhirnya Masuk Sekolah

Kompas.com - 29/11/2017, 11:29 WIB
Ilustrasi penganiayaan anak-anak. Kompas.com/ERICSSENIlustrasi penganiayaan anak-anak.
|
EditorErwin Hutapea

BATAM, KOMPAS.com - MA (11), anak korban penganiayaan yang dilakukan tetangganya, di Perumahan Pondok Awal Indah Sekupang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), akhirnya mulai ke sekolah, Rabu (29/11/2017) ini.

Syadripan, orangtua MA, mengaku anak keempatnya ini mulai mau ke sekolah setelah dibujuk dan yakin bahwa tidak akan ada lagi orang yang memukulnya, seperti yang pernah dialaminya.

"Dibilang trauma mungkin tidak, yang jelas dia merasa malu karena gigi depannya ompong dan takut ketemu dengan Anjani, pelaku penganiayaan yang menghajar dirinya saat bermain sendiri di sekitar perumahan kemarin," kata Syadripan.

Tidak saja mulai berani ke sekolah, MA juga sudah mulai berani bercerita dengan sesama teman yang ada di sekitar tempat tinggal dan sekolahnya.

"Kemarin sore sebelum akhirnya ke sekolah hari ini, MA juga sudah mulai mau bermain bersama temannya di rumah," ujar Syadripan.

Meski demikian, sambung Syadripan, terkadang MA mengeluhkan sakit di bagian dadanya. Namun, karena keasyikan bermain, hal itu kadang terlupakan.

Baca juga: Dituduh Curi Sepeda Motor, Anak 11 Tahun Dianiaya hingga Babak Belur

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri Eri Syahrial mengaku geram dengan apa yang terjadi ini karena sangat tidak patut.

Oknum warga yang bernama Anjani menuduh MA (11) akan mencuri sepeda motornya yang diparkir. Padahal, saat itu MA hanya bermain petak umpet.

"Kasus main hakim seperti ini sudah sering terjadi di Batam, bahkan sudah ada tiga remaja yang meninggal. Kami tidak ingin masyarakat main hakim sendiri dan apa yang disangkakan belum tentu benar, apalagi terhadap anak kecil," kata Eri Syahrial.

Eri berharap pelaku diproses dan dijerat dengan UU Perlindungan dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun karena telah melakukan penganiayaan hingga menyebabkan korban luka berat.

"Kami belum tahu motif korban dekat atau menaiki motor yang sedang parkir. Menurut ayah korban, tidak pandai bawa motor. Kalau seandainya terjadi tindak pidana yang dilakukan anak seperti pencurian maka bisa dinasihati, dipanggil orangtua, atau diserahkan kepada perangkat daerah atau polisi, bukan malah dipukuli hingga luka berat," terang Eri.

Adapun Kapolsek Sekupang Kompol Oji Fahroji kepada Kompas.com mengatakan, saat ini pelaku telah mengakui perbuatannya dan mengaku khilaf.

"Meski pelaku telah mengakui perbuatannya, tetapi proses hukum tetap jalan. Saat ini penyidik sedang melakukan pengembangan kasus ini. Sebelumnya pelaku juga pernah melakukan hal serupa kepada anak lainnya, hanya karena pelaku tidak terima anaknya dipukuli anak lainnya," terang Oji.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hendi Terus Bergerak Cepat Sediakan Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Semarang

Hendi Terus Bergerak Cepat Sediakan Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Semarang

Regional
Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Regional
Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Regional
Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Regional
25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

Regional
Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Regional
Belajar dari Pemkot Medan, Wali Kota Pariaman Akan Aplikasikan Strategi Pengelolaan Wisata Sejarah

Belajar dari Pemkot Medan, Wali Kota Pariaman Akan Aplikasikan Strategi Pengelolaan Wisata Sejarah

Regional
Banyak Warga Gelar Hajatan, Bupati IDP Minta Camat Berlakukan Syarat Khusus

Banyak Warga Gelar Hajatan, Bupati IDP Minta Camat Berlakukan Syarat Khusus

Regional
Lewat “Gebyar PON”, Panitia Buktikan Kesiapan Papua sebagai Tuan Rumah PON XX 2021

Lewat “Gebyar PON”, Panitia Buktikan Kesiapan Papua sebagai Tuan Rumah PON XX 2021

Regional
Walkot Hendi Prioritaskan Vaksin untuk Guru PAUD

Walkot Hendi Prioritaskan Vaksin untuk Guru PAUD

Regional
Kabupaten Wonogiri Dapat Penghargaan Tercepat Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri: Ini Pertama Kali di Indonesia

Kabupaten Wonogiri Dapat Penghargaan Tercepat Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri: Ini Pertama Kali di Indonesia

Regional
Mendes PDTT Dorong Program SDGs Desa, Bupati Wonogiri Berikan Apresiasi

Mendes PDTT Dorong Program SDGs Desa, Bupati Wonogiri Berikan Apresiasi

Regional
Kabupaten Wonogiri Tercepat dalam Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri Penasaran

Kabupaten Wonogiri Tercepat dalam Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri Penasaran

Regional
Ditinggali Lebih dari Setengah Abad, Rumah Ini Dapat Bantuan Renovasi dari Pemprov Jateng

Ditinggali Lebih dari Setengah Abad, Rumah Ini Dapat Bantuan Renovasi dari Pemprov Jateng

Regional
Soal Viral Nenek Binah yang Terlantar, Ini Klarifikasi TKSK Tulungagung

Soal Viral Nenek Binah yang Terlantar, Ini Klarifikasi TKSK Tulungagung

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X