Salatiga Kembali Raih Predikat Kota Paling Toleran di Indonesia

Kompas.com - 20/11/2017, 12:43 WIB
 Kantor Walikota Salativa, Jawa Tengah.Kompas.com/ Syahrul Munir Kantor Walikota Salativa, Jawa Tengah.

SALATIGA, KOMPAS.com - Kota Salatiga kembali mendapat skor tertinggi dalam indeks Kota Toleran 2017. Salatiga tidak sendiri. Kota dengan masyarakat yang heterogen namun saling menghargai itu mendapat nilai tertinggi bersama empat kota lainnya di Indonesia. 

Angka tersebut dikeluarkan Setara Institute yang meneliti persoalan toleransi di 94 kota Indonesia.

Wakil Wali Kota Salatiga Muh Haris mengaku bahagia. Karena ini merupakan kali kedua Salatiga mendapat peringkat kota paling toleran di Indonesia. 

"Alhamdulillah, kota kami dinilai paling toleran karena memang kenyatannya demikian. Ini yang kedua kalinya kita meraih predikat itu. Pertama tahun 2015 dan sekarang kembali mempertahankan sebagai kota paling toleran di Indonesia," kata Muh Haris saat dihubungi, Senin (20/11/2017).

(Baca juga : Imbas Pilkada DKI 2017, Jakarta Raih Skor Toleransi Terendah)

Haris mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan dukungan semua pihak, terutama warga Kota Salatiga karena bisa hidup berdampingan dengan rukun serta damai.

"Tentunya terima kasih atas kerja sama semua pihak utamanya masyarakat Kota Salatiga yang telah mempertahankan Salatiga paling toleran di Indonesia,” kata Haris.

Kehidupan masyarakat di Kota Salatiga yang majemuk, sambung dia, selalu dalam kedamaian dan kerukunan serta menjaga toleransi antarumat beragama.

Kendati hanya terdiri dari 4 kecamatan, kota ini dihuni sekitar 30 etnis. Representasi lainnya sebagai kota paling toleran adalah keberadaan dua lembaga pendidikan berbasis agama dengan mahasiswa dari seluruh Indonesia, yakni Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

"Salatiga bisa dibilang adalah Indonesia mini. Di sini ada 30 etnis yang hidup berdampingan dengan rukun dan damai,” ujar Haris.

(Baca juga : Pemuda Bangka Selatan Diminta Jaga Toleransi Beragama )

Selain dukungan masyarakat, pencapaian Salatiga sebagai kota paling toleran juga didukung kebijakan dan produk hukum yang dibuat Pemkot Salatiga.

Ia bersama Wali Kota Salatiga Yuliyanto berkomitmen, semua produk hukum yang dikeluarkan, baik Peraturan Wali Kota (Perwal) maupun Peraturan Daerah (Perda) akan mengakomodir semua golongan tanpa diskriminasi.

"Semenjak periode pertama, kami selalu mengakomodir kepentingan semua pihak,” ucapnya.

Seperti diketahui dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional yang diperingati setiap 16 November, Setara Institute melakukan kajian dan indexing terhadap 94 kota di Indonesia dalam hal isu promosi dan praktik toleransi.

(Baca juga : Batik Tulis Celaket dan Toleransi)

Tujuan pengindeksan ini antara lain untuk mempromosikan kota-kota yang dianggap berhasil membangun dan mengembangkan toleransi di wilayahnya. Hal ini diharapkan memicu kota-kota lainnya untuk mengikuti, membangun, dan mengembangkan toleransi di wilayahnya.

Dari hasil indexing, ada 10 kota dengan skor toleransi tertinggi, yakni Manado (5,90), Pematangsiantar (5,90), Salatiga (5,90), Singkawang (5,90) dan Kota Tual (5,90).

Sedangkan lima kota lainnya berada di urutan ke 6 hingga 10 dengan indeks sedikit lebih rendah adalah Binjai (5,80), Kotamobagu (5,80), Palu (5,80), Tebing Tinggi (5,80), dan Surakarta (5,72).

Sementara DKI Jakarta, menduduki peringkat pertama kota dengan toleransi yang rendah. Kemudian disusul Banda Aceh, Bogor, Cilegon, Depok, Yogyakarta, Banjarmasin, Makassar, Padang dan Mataram.


EditorReni Susanti

Close Ads X