Melestarikan Angklung sebagai Warisan Budaya Dunia

Kompas.com - 16/11/2017, 16:36 WIB
Salah satu instruktur untuk mengajarai bermain angklung bagi pengunjung yang disiapkan oleh pengelola Predator Fun Park, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (16/11/2017) KOMPAS.com / Andi HartikSalah satu instruktur untuk mengajarai bermain angklung bagi pengunjung yang disiapkan oleh pengelola Predator Fun Park, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (16/11/2017)
|
EditorFarid Assifa

MALANG, KOMPAS.com - Bunyi angklung menggema mengalun memenuhi kompleks Saung Angklung di Predator Fun Park, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (16/11/2017). Suaranya bersahutan, membentuk irama dan menjadi harmoni.

Di sela alunan itu, terdengar gelak tawa sejumlah bocah yang sedang memainkannya. Saat itu, tepat pada hari peringatan angklung, 16 November 2017, sebanyak 120 siswa sekolah dasar (SD) secara bersama-sama memainkannya. Mereka berasal dari SDN Junrejo 1 Kota Batu, SDN Junrejo 2 Kota Batu, SDN Tlekung 1 Kota Batu dan SDN Tlekung 2 Kota Batu.

Lagu-lagu khas daerah mengiringi suara yang dikeluarkan oleh alat musik yang terbuat dari bambu itu. Seperti lagu Yamko Rambe Yamko asal Papua dan Sue Ora Jamu asal Jawa.

Angklung merupakan alat musik tradisional yang berkembang di masyarakat Sunda. Pada tahun 2010, United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan angklung sebagai warisan budaya.

Angklung dimainkan dengan cara digoyang dan digetarkan supaya menghasilkan suara dan dapat membentuk nada.

"Mendengar bunyinya senang," kata Noval Aditya Pratama, salah satu siswa sambil menggetarkan angklung yang ada ditangannya.

Baca juga : Ridwan Kamil Ingin Angklung Mejeng di Gedung UNESCO

Saat ini, sejumlah sekolah di Kota Batu mulai menerapkan kegiatan ekstrakuler yang fokus pada pembelajaran memainkan angklung. Seperti di SDN Junrejo 1 Kota Batu.

Suli Wahyudi, salah satu staf pengajar di sekolah tersebut mengatakan, kesenian angklung sudah menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Apalagi, Pemerintah Kota Batu mendukung pelestarian kesenian angklung di setiap sekolah.

"Karena seluruh Kota Batu sudah disubsidi angklung oleh Dinas Pendidikan. Terutama sekolah model," katanya.

Dalam pembelajaran ekstrakurikuler itu, siswa pertama-tama diperkenalkan dengan angklung. Setelah itu, para siswa diajari cara memainkan alat musik itu.

"Agar mencintai budayanya. Karena angklung adalah salah satu pembelajaran karakter yang harus dimiliki oleh siswa," katanya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X