9 Taruna Akpol Penganiaya Adik Kelas Minta Dibebaskan

Kompas.com - 06/11/2017, 15:30 WIB
Sejumlah taruna akpol akhirnya hadir di PN Semarang untuk mengikuti sidang dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap korban hingga meninggal dunia. Mereka hadir mengakan pakaian batik, Selasa (19/9/2017). Tribun Jateng/Rahdyan Trijoko Pamungkas Sejumlah taruna akpol akhirnya hadir di PN Semarang untuk mengikuti sidang dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap korban hingga meninggal dunia. Mereka hadir mengakan pakaian batik, Selasa (19/9/2017).

SEMARANG, KOMPAS.com - Tim penasehat hukum sembilan terdakwa penganiayaan taruna Akpol meminta para terdakwa dibebaskan dari tuntutan hukum. Sebab para terdakwa dinilai tidak terlibat perbuatan pidana.

Sembilan dari 14 terdakwa sebelumnya dituntut satu tahun dan enam bulan penjara. Jaksa menilai, mereka secara sengaja dengan tenaga bersama melakukan kekerasan sebagaimana pasal 170 ayat 1 KUHP.

"Apa yang dilakukan terdakwa bukan kekerasan atau penganiyaan, tapi dipandang sebagai pembinaan kedisiplinan," ujar Junaedi membaca nota pembelaan di PN Semarang, Senin (6/11/2017). 

"Meski ada pemukulan tapi dimaksudkan tujukan baik, meningkat disiplin dan mental para taruna. Perbuatan terdakwa tidak dapat dikualifikasi sebagaimana pasal 170 (1) KUHP," tambahnya.

(Baca juga : Penganiayaan Taruna Akpol, Komandan Suku Dituntut 3 Tahun Penjara)

Menurut Junaedi, hukuman yang diberikan taruna tingkat III kepada taruna tingkat II, bukan sebagai perbuatan pidana. Hal itu diibaratkan ketika anak didik dihukum fisik dengan penggaris. Hukuman yang diberikan pun bukan bentuk penganiayaan.

"Hukuman itu bukan sebagai pidana, sama seperti kita belajar di SD untuk mendisiplinkan siswa, bukan untuk penganiayaan. Hukuman mereka (taruna) tidak cukup dijewer, tapi lebih sekadar itu," ucapnya.

Sidang penganiayaan taruna Akpol di Pengadilan Negeri Semarang, Kamis (2/11/2017).KOMPAS.com/Nazar Nurdin Sidang penganiayaan taruna Akpol di Pengadilan Negeri Semarang, Kamis (2/11/2017).
Menurut dia, pemukulan yang dilakukan di bagian perut dimulai dengan kesiapan para taruna. Pemukulan di bagian perut dinilai berefek baik ketika para taruna menjadi pengawal negara dan menjaga masyarakat dari kejahatan.

"Mengapa disiplin berat, itu menjaga agar mental taruna kuat, agar tidak lembek dan kuat menghadapi bahaya," tuturnya.

(Baca juga : 9 Penganiaya Taruna Akpol Dituntut 1,5 Tahun Penjara)

Lebih dari itu, Junaedi mengatakan, tindakan pembinaan fisik tidak mengakibatkan luka atau efek yang menyakitkan. Itu dibuktikan kembali beraktivitasnya para korban seusai pembinaan malam harinya. 

"Taruna 2 tidak pernah mempermasalahkan hukuman yang diberikan, tapi bangga diberi hukuman oleh seniornya. Taruna 2 sudah menerima permintaan maaf terdakwa," ungkapnya.

Karena itu, hakim diminta untuk memberikan vonis bebas pada para terdakwa serta melepaskannya dari berbagai dakwaan dan tuntutan. 

"Tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melalukan tindak pidana sebagaimana pasal 170 (1) KUHP. Meminta hak dan martabat dipulihkan. Atau jika hakim punya pertimbangan lain minta putusan yang adil," ucapnya.

Sembilan terdakwa yang mengajukan pledoi itu antara lain Joshua Evan Dwitya Pabisa, Reza Ananta Pribadi, Indra zulkifli Pratama Ruray, Praja Dwi Sutrisno, Aditia Khaimara Urfan, Chikitha Alviano Eka Wardoyo, Rion Kurnianto, Erik Aprilyanto, dan Hery Avianto. 



EditorReni Susanti
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Ini Cara Menyelamatkan Diri Jika Dililit atau Digigit Ular Sanca

Ini Cara Menyelamatkan Diri Jika Dililit atau Digigit Ular Sanca

Regional
Heboh Paus Terdampar di Geopark Ciletuh, Tubuh Penuh Luka hingga Jadi Tontonan Warga

Heboh Paus Terdampar di Geopark Ciletuh, Tubuh Penuh Luka hingga Jadi Tontonan Warga

Regional
Kemarau Datang Lebih Awal, 7.000 Warga Terdampak Kekeringan

Kemarau Datang Lebih Awal, 7.000 Warga Terdampak Kekeringan

Regional
Cerita Dahlan Sang Petugas 'Cleaning Service', Menangis Haru Saat Dihadiahi Umrah

Cerita Dahlan Sang Petugas "Cleaning Service", Menangis Haru Saat Dihadiahi Umrah

Regional
Hutan Bukit Kondo di Taman Nasional Gunung Rinjani Terbakar

Hutan Bukit Kondo di Taman Nasional Gunung Rinjani Terbakar

Regional
Ribuan Orang Bakal Banjiri Kota Semarang Bulan Depan

Ribuan Orang Bakal Banjiri Kota Semarang Bulan Depan

Regional
Pleidoi Bahar Bin Smith Ditolak, Jaksa Menilai Penasihat Hukum Kurang Cermat Urai Tuntutan

Pleidoi Bahar Bin Smith Ditolak, Jaksa Menilai Penasihat Hukum Kurang Cermat Urai Tuntutan

Regional
PAN Siapkan 3 Nama untuk Bertarung di Pilgub Sumbar 2020

PAN Siapkan 3 Nama untuk Bertarung di Pilgub Sumbar 2020

Regional
Kecewa Anak dan Cucunya Ditelantarkan, Pria Ini Bunuh Menantunya

Kecewa Anak dan Cucunya Ditelantarkan, Pria Ini Bunuh Menantunya

Regional
Fakta Pabrik Korek Api yang Terbakar, Pekerja Digaji Rp 500 Ribu per Bulan hingga Pekerjakan Anak

Fakta Pabrik Korek Api yang Terbakar, Pekerja Digaji Rp 500 Ribu per Bulan hingga Pekerjakan Anak

Regional
Beredar Kabar Jenazah Mantan Striker Persis Ditemukan, SRI Susuri Semua Pantai Kulon Progo

Beredar Kabar Jenazah Mantan Striker Persis Ditemukan, SRI Susuri Semua Pantai Kulon Progo

Regional
Selingkuh, Tiga ASN Papua Barat Akan Disidang Kode Etik

Selingkuh, Tiga ASN Papua Barat Akan Disidang Kode Etik

Regional
Abang Angkat Pelaku Pembunuhan Balita 1,8 Tahun Dijerat Pasal Berlapis

Abang Angkat Pelaku Pembunuhan Balita 1,8 Tahun Dijerat Pasal Berlapis

Regional
Pria Ini Tawarkan Istri untuk Layanan Seks Menyimpang Bertarif Rp 3 Juta

Pria Ini Tawarkan Istri untuk Layanan Seks Menyimpang Bertarif Rp 3 Juta

Regional
Anak Korban Tragedi Truk Terjun ke Jurang Terpukul, Mengaku sedang Mendaftar SMK...

Anak Korban Tragedi Truk Terjun ke Jurang Terpukul, Mengaku sedang Mendaftar SMK...

Regional

Close Ads X