Panen Madu Hutan di Kapuas Hulu, Kearifan Lokal Menyesuaikan Zaman

Kompas.com - 05/11/2017, 12:46 WIB
Proses panen madu hutan di Desa Semangit, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu (27/10/2017) KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWANProses panen madu hutan di Desa Semangit, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu (27/10/2017)
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

KAPUAS HULU, KOMPAS.com - Madu hutan yang dihasilkan lebah Apis dorsata memang istimewa. Keberadaan lebah ini bergantung pada kondisi hutan rawa gambut yang menjadi ekosistem utama di Taman Nasional Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.

Presiden Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) Basriwadi mengatakan, masyarakat yang tinggal di kawasan danau menyadari betul hal tersebut.

Sebab, Danau Sentarum punya keunikan alami yang memiliki dua fase, yaitu tergenang air sepanjang musim hujan dan kering pada saat musim kemarau. Bahkan, saat musim kemarau bisa menggunakan kendaraan bermotor melintasi kawasan danau.

(Baca juga : Panen Madu Hutan di Kapuas Hulu, Syair Dilantunkan untuk Usir Lebah)


"Ancaman terbesar dari populasi lebah Apis dorsata ini adalah kebakaran hutan," ujar Basriwadi yang akrab disapa Uge ini, akhir Oktober 2017.

Proses panen madu hutan di Desa Semangit, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu (27/10/2017)KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN Proses panen madu hutan di Desa Semangit, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu (27/10/2017)
Keberadaan lebah Apis dorsata bisa menjadi salah satu indikator sehat atau tidaknya ekosistem hutan di kawasan taman nasional tersebut.

Ketersediaan madu sangat bergantung pada keberadaan lebah tersebut. Sebaliknya, kemunculan lebah juga bergantung pada ketersediaan pakan.

Uge mengatakan, keberlangsungan hidup lebah-lebah tersebut tidak lepas dari pengamanan kawasan taman nasional.

Pada musim kemarau, masyarakat setempat bahu-membahu menjaga hutan agar tidak terbakar.

Sepanjang musim kemarau, masyarakat selalu diimbau untuk tidak membuat api saat beraktivitas di kawasan danau, termasuk membuang puntung rokok sembarangan.

"Kalau sampai terbakar, pakan lebah juga ikut terbakar, sehingga tidak ada madu," kata Uge.

Sebelum APDS berdiri pada 2006, kata Uge, sering terjadi kebakaran hutan. Setelah APDS terbentuk, kejadian kebakaran itu berkurang.

Saat ini APDS beranggotakan 15 kelompok periau dengan total anggota mencapai 356 orang.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X