Mengenal Kawasan Ijen, Kota Mandiri Masa Hindia Belanda di Malang - Kompas.com

Mengenal Kawasan Ijen, Kota Mandiri Masa Hindia Belanda di Malang

Kompas.com - 01/11/2017, 05:51 WIB
Suasana lalu lintas di Jalan Ijen, Kota Malang saat diambil pada Senin (30/10/2017). Jalan Ijen merupakan jalan poros kawasan bersejarah di Kota Malang.KOMPAS.com / Andi Hartik Suasana lalu lintas di Jalan Ijen, Kota Malang saat diambil pada Senin (30/10/2017). Jalan Ijen merupakan jalan poros kawasan bersejarah di Kota Malang.

MALANG, KOMPAS.com - Lalu lintas di Jalan Ijen, Kota Malang, terlihat ramai, Selasa (31/10/2017). Sejumlah kendaraan hilir mudik menghiasi jalan kembar yang melintang dari arah selatan ke utara.

Jalan Ijen merupakan salah satu jalur poros di kawasan dengan nama-nama jalan gunung. Selain Ijen, di kawasan itu terdapat pula Jalan Semeru dan Bromo.

Jalan itu menjadi ikon bersejarah di Kota Malang. Terdapat banyak bangunan kuno peninggalan masa Hindia Belanda di sepanjang jalan itu. Bangunan-bangunan perumahan tersebut berbentuk vila.

Sebagian bangunan masih ada yang mempertahankan bentuk aslinya, namun sisanya sudah ada yang berganti menjadi bangunan baru.

Di masa Hindia Belanda, kawasan yang biasa disebut dengan bergenbuurt atau kawasan jalan gunung-gunung itu merupakan daerah elit yang banyak dihuni bangsa Belanda dan bangsa- bangsa dari negara Eropa lainnya.

Bahkan, kawasan itu juga disebut sebagai kota mandiri. Sebab, di sekitar kawasan itu terdapat sejumlah fasilitas yang menunjang aktivitas keseharian warga.

Seperti keberadaan Gereja Katedral sebagai tempat ibadah, bangunan sekolah, Pasar Oro-oro Dowo sebagai pusat perdagangan dan lapangan pacuan kuda sebagai tempat hiburan.

Lapangan pacuan kuda itu diperkirakan berada di lokasi yang saat ini menjadi bangunan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes) Malang.

Baca juga : Setelah Kampung Warna-warni dan Tridi, Kini Ada Kampung Biru Arema

Selain itu, dibandingkan dengan jalan lainnya di Kota Malang, Jalan Ijen merupakan jalan yang paling elok dipandang. Terdiri dari jalan kembar yang di tengahnya terdapat taman. Sementara di sampingnya terdapat pedestrian dengan hiasan pohon palem. Biasanya, taman dan pedestrian itu menjadi tempat bermain warga, khususnya di malam hari.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono mengatakan, kawasan Ijen yang disebutnya sebagai koridor Ijen adalah bentuk pengembangan masa lalu pembangunan daerah.

"Ijen itu merupakan satu koridor di dalam satu kawasan dari nama-nama gunung. Kawasan pengembangan masa lalu. Kawasan yang ditata sedemikian rupa untuk dikembangkan," katanya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (31/10/2017).

Kawasan itu dibangun oleh seorang arsitek asal Belanda, Herman Thomas Karsten sejak sekitar tahun 1935. Dikatakan Dwi, ada delapan tahap perencanaan pembangunan di Kota Malang pada masa itu. Sementara Jalan Ijen merupakan tahapan pembangunan yang ke-5.

Ketika itu, pembangunan dimulai dari perempatan Bareng atau perempatan Jalan Kawi hingga ke Gereja Katedral. Beberapa tahun kemudian, pada pembangunan tahap ke-7, Jalan Ijen dikembangkan mulai dari Gereja Katedral hingga ke perempatan Lonceng di Jalan Bandung. Sejak saat itu, dua tahapan pembangunan itu menjadi satu kesatuan, yakni Jalan Ijen.

Kepala Seksi Promosi Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Agung H Buana mengatakan, ada berbagai peninggalan yang menunjukkan bahwa Ijen merupakan kawasan elit dan menjadi kota mandiri di masanya.

Salah satunya adalah adanya bekas rumah listrik milik perusahaan Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatchappij (Aniem), sebuah perusahaan penyedia listrik Belanda yang berada di ujung selatan Jalan Ijen. Keberadaan rumah listrik itu untuk menerangi rumah- rumah di kawasan itu.

"Di sana ada Aniem, rumah listrik. Karena diyakinkan rumah di Ijen itu rumah-rumah elite," katanya.

Darurat pembongkaran

Sebagai pemerhati bangunan kuno, Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono melihat adanya upaya dari sejumlah pihak untuk menghilangkan sejumlah bangunan bersejarah itu.

Salah satunya adalah adanya pembelahan di sepanjang Jalan Ijen. Selama ini, bangunan yang masih dipertahankan adalah yang berada di sepanjang Jalan Ijen, mulai dari Gereja Katedral hingga ke perempatan Bareng atau perempatan Jalan Kawi. Jalan itu biasa disebut sebagai Ijen Boulevard.

Sementara bangunan mulai dari Gereja Katedral ke arah utara sampai ke perempatan Lonceng Jalan Bandung terkesan dibiarkan, sehingga bangunan kuno di lokasi itu nyaris habis menjadi bangunan baru.

Baca juga : KPK Dalami Permintaan Uang Pokir oleh Anggota DPRD Kota Malang

Padahal, Dwi mengatakan, kawasan di sepanjang jalan itu merupakan satu ke satuan meski tahun pengembangannya berbeda.

"Yang konservasi mutlak diarahkan ke Boulevard saja. Sehingga, bangunan kuno dari gereja ke perempatan Jalan Bandung tersisa beberapa saja," katanya.

Dwi mengatakan, ada sekitar 90-an rumah kuno di kawasan Jalan Ijen. Sebanyak 40 persen di antaranya sudah berganti menjadi bangunan baru.

Ada berbagai modus yang kerap digunakan sejumlah pihak untuk menghilangkan bangunan warisan itu. Salah satunya dengan menggerogoti bangunan sedikit demi sedikit sampai menemukan alasan bahwa bangunan itu sudah tidak layak dan harus dibongkar.

Setelah itu, lahan bekas pembongkaran itu dibiarkan kosong untuk menghindari protes warga. Lalu kemudian, di lahan bekas bangunan heritage itu dibangun bangunan baru.

"Salah satu modus untuk menghilangkan bangunan heritage seperti itu," katanya.

Karenanya, ia berharap pemerintah setempat lebih fokus menjaga kelestarian banguan heritage yang ada di Kota Malang. Terutama di kawasan Ijen yang darurat pembongkaran. Sebab jika satu bangunan sukses dibongkar, lainnya akan segera menyusul.


EditorFarid Assifa

Terkini Lainnya


Close Ads X