Usung Ridwan Kamil, Golkar Dinilai Khianati Sistem Pengkaderan Sendiri

Kompas.com - 28/10/2017, 00:25 WIB
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (kiri) dan Daniel Mutaqqien (kanan) KOMPAS.com/Dendy Ramdhani, dprri.go.idWali Kota Bandung Ridwan Kamil (kiri) dan Daniel Mutaqqien (kanan)
|
EditorFarid Assifa

BANDUNG, KOMPAS.com - Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Jakarta, Ujang Komarudin mengatakan, DPP Partai Golkar sudah mengkhianati sistem perkaderan yang tengah mereka bangun sendiri dengan tidak mengusung Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi pada pemilihan Gubernur Jawa Barat, Juni 2018 mendatang.

Menurut dia, telah terjadi pergeseran pengambilan keputusan di internal elite partai berlambang pohon beringin tersebut dari sistem perkaderan sebagai dasar ke dalam gaya pragmatis.

“Ada perubahan pengambilan kebijakan politik. Dulu, Golkar selalu prioritaskan kader sendiri. Salah satunya Yance, elektabilitasnya di Pilgub Jabar 2013 jauh dari menjanjikan. Karena elite Golkar dulu itu tidak tersandera kepentingan. Maka Yance dicalonkan oleh Golkar, sekarang keadaannya berbeda,” jelas Direktur Indonesia Political Review tersebut saat dihubungi, Jumat (27/10/2017).

Artinya, kata Ujang, kasus hukum yang tengah mendera Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto sedang dimanfaatkan oleh kekuatan eksternal untuk bermain dalam konstelasi Pilkada Jawa Barat 2018. Terdapat pihak-pihak di luar partai yang tidak menginginkan Dedi Mulyadi maju ke kontestasi lima tahunan tersebut.

“Implikasinya adalah perubahan orientasi dari kader menjadi non kader karena tekanan itu,” katanya menambahkan.

Baca juga : Alasan Golkar Pilih Usung Ridwan Kamil daripada Dedi Mulyadi

Ujang melanjutkan, posisi Dedi Mulyadi adalah bukan hanya sebatas kader Golkar, melainkan sosok yang mampu menyelamatkan posisi Partai Golkar di Jawa Barat dari serangan isu nasional. Hasilnya, Partai Golkar di Jawa Barat mampu menjaga tren kenaikan elektabilitas, berbeda dengan di daerah lain.

“Dedi Mulyadi dibesarkan oleh Golkar dan menggunakan pengalaman politiknya untuk membesarkan Golkar di Jawa Barat. Kita tahu sendiri elektabilitas partai ini terjaga di Jawa Barat,” tuturnya.

Namun, partai yang telah dibesarkannya itu kini malah berbalik menyakiti dirinya. Menurut Ujang, kondisi ini secara psikologis membuat Dedi Mulyadi "tidak betah" tinggal di rumahnya sendiri.

“Golkar ini sudah menjadi rumah bagi Dedi Mulyadi. Tetapi melihat perkembangan yang saat ini terjadi, rumah itu sudah tidak membuatnya betah. Dedi kini tersakiti. Jangan lupa, dia punya kekuatan politik kader Golkar. Saya kira ini modal bagi Dedi untuk tetap maju, bisa dari PDI-P atau Gerindra,” tandas Ujang.

Baca juga : Golkar Usung Ridwan Kamil, Kadernya di Kota Bandung Tetap Dukung Dedi Mulyadi

Kompas TV DPD PDI Perjuangan Jawa Barat sedang menyaring bakal calon gubernur dan wakil gubernur untuk Pilkada Jawa Barat 2018.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X