"Lebih Baik Jadi Petani Sukses di Kampung, Daripada TKI di Malaysia"

Kompas.com - 11/10/2017, 22:11 WIB
Arnoldus Maunino (kedua dari kiri) dan Ketua YBTS Edwin Saragih (kanan) saat berdiskusi tentang tanaman sayuran di Desa Kesetanan,  Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur,  Rabu (11/10/2017) Kompas.com/Sigiranus Marutho Bere Arnoldus Maunino (kedua dari kiri) dan Ketua YBTS Edwin Saragih (kanan) saat berdiskusi tentang tanaman sayuran di Desa Kesetanan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, Rabu (11/10/2017)
|
EditorErlangga Djumena

SOE, KOMPAS.com -  Warga Desa Kesetnana, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), membentuk kelompok tani, sebagai upaya untuk mencegah pemuda dan pemudi di wilayah itu untuk bekerja di luar negeri. 

Hal itu terkati dengan tingginya angka kematian Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal TTS yang bekerja di Malaysia. Dari data Balai Pelayanan Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kupang, dalam rentang waktu 10 bulan (Januari-Oktober 2017) terdapat 45 TKI asal NTT yang meninggal di Malaysia.

TKI yang meninggal itu berasal dari 14 kabupaten di NTT dan Kabupaten TTS paling banyak jumlah TKI yang meninggal yakni 10 orang.

Kondisi itulah yang membuat Arnoldus Maunino, bersama warga lainnya membentuk kelompok tani yang fokus menanam tanaman sayuran berbagai jenis.

Baca juga: Seorang Warga Nunukan Ditangkap Polisi karena Selundupkan 18 TKI Ilegal

Pada lahan seluas lebih dari satu hektar, Arnoldus bersama tetangga dan kerabatnya yang tergabung dalam satu kelompok, menanam 20 jenis tanaman dan 28 varietas.

"Kami mulai pembersihan lahan mulai bulan April selanjutnya pengolahan lahan di bulan Mei, kemudian di Bulan Juni kami mulai membuat bedengan dan persemaian dan akhir juni kami mulai tanam cabai keriting, tomat, kol dan sejumlah sayuran lainnya. Saat ini kami siap untuk panen,"kata Arnoldus kepada Kompas.com, Rabu (11/10/2017).

Menurut Arnoldus, anggota kelompoknya berjumlah 16 orang. Namun saat bekerja, mereka akan dibantu oleh pemuda dan juga para pelajar yang ada di desa mereka.

"Dengan adanya pekerjaan ini kami mengharapkan agar anak anak jangan lagi jadi TKI dan TKW ke Malaysia karena sumber daya alam di sini sudah cukup. Lebih baik jadi petani sukses di kampung, daripada jadi TKI di Malaysia," tegas Arnoldus.

Arnoldus mengaku, dengan hasil pertanian yang bagus, sudah sangat membantu perekonomian warga dan dirinya bisa menyekolahkan anaknya.

"Kami juga sangat terbantu dengan adanya bimbingan dari Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS). Kami berharap hasil pertanian kami ini bisa diekspor keluar NTT, "paparnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Libur Lebaran di Pantai, Dua Warga Cianjur Terseret Ombak

Libur Lebaran di Pantai, Dua Warga Cianjur Terseret Ombak

Regional
Kepala Desa Dikeroyok Usai Tegur Jemaah Shalat Id di Masjid, 13 Orang Diamankan

Kepala Desa Dikeroyok Usai Tegur Jemaah Shalat Id di Masjid, 13 Orang Diamankan

Regional
Jadi Klaster Aktif Penyebaran Covid-19, Pasar Pinasungkulan Manado Berlakukan Ganjil Genap

Jadi Klaster Aktif Penyebaran Covid-19, Pasar Pinasungkulan Manado Berlakukan Ganjil Genap

Regional
1.932 kendaraan Diputar Balik selama PSBB Parsial di Cianjur

1.932 kendaraan Diputar Balik selama PSBB Parsial di Cianjur

Regional
Kronologi Kepala Desa Dikeroyok Usai Tegur Jemaah yang Shalat Id di Masjid

Kronologi Kepala Desa Dikeroyok Usai Tegur Jemaah yang Shalat Id di Masjid

Regional
'Lebaran Dulu Dapat Sampai Rp 700.000, Sekarang Cuma Rp 50.000 Sehari'

"Lebaran Dulu Dapat Sampai Rp 700.000, Sekarang Cuma Rp 50.000 Sehari"

Regional
Seorang Pedagang Meninggal Reaktif Covid-19, Pasar Kebun Semai Palembang Ditutup

Seorang Pedagang Meninggal Reaktif Covid-19, Pasar Kebun Semai Palembang Ditutup

Regional
Bupati Bener Meriah Ajukan Surat Pengunduran Diri Langsung ke Mendagri

Bupati Bener Meriah Ajukan Surat Pengunduran Diri Langsung ke Mendagri

Regional
Ambulans Tertahan Penutupan Jalan, Bayi Dalam Kandungan Meninggal

Ambulans Tertahan Penutupan Jalan, Bayi Dalam Kandungan Meninggal

Regional
[POPULER NUSANTARA] ODGJ Babak Belur Dihajar 2 Polisi | Fakta Baru Ibu Anak Sewa Ambulans untuk Mudik

[POPULER NUSANTARA] ODGJ Babak Belur Dihajar 2 Polisi | Fakta Baru Ibu Anak Sewa Ambulans untuk Mudik

Regional
Fakta Polisi Ngamuk Ditegur Tak Pakai Masker, Kabur Pakai Fortuner hingga Dimutasi Kapolda Jabar

Fakta Polisi Ngamuk Ditegur Tak Pakai Masker, Kabur Pakai Fortuner hingga Dimutasi Kapolda Jabar

Regional
PSBB Surabaya Raya Diperpanjang hingga 8 Juni

PSBB Surabaya Raya Diperpanjang hingga 8 Juni

Regional
Curi Ponsel Pasien Positif Covid-19, Pelaku Ikut Diisolasi

Curi Ponsel Pasien Positif Covid-19, Pelaku Ikut Diisolasi

Regional
3 Klaster Ini Sumbang Kasus Covid-19 Terbanyak di Sulut

3 Klaster Ini Sumbang Kasus Covid-19 Terbanyak di Sulut

Regional
Bunuh dan Buang Bayinya, Seorang Bidan di Kalteng Ditangkap Polisi

Bunuh dan Buang Bayinya, Seorang Bidan di Kalteng Ditangkap Polisi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X