Batik Tanah Liek, Batik Kuno Minangkabau yang "Bangun" dari Mati Suri

Kompas.com - 03/10/2017, 09:13 WIB
Seorang perajin di Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (15/8/2012), memperlihatkan batik tanah liek khas Minangkabau. Batik tersebut menggunakan teknik pewarnaan dasar kain dengan perendaman di dalam larutan cairan tanah liat. KOMPAS/INGKI RINALDISeorang perajin di Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (15/8/2012), memperlihatkan batik tanah liek khas Minangkabau. Batik tersebut menggunakan teknik pewarnaan dasar kain dengan perendaman di dalam larutan cairan tanah liat.
|
EditorCaroline Damanik

PADANG, KOMPAS.com - Bicara soal batik kini tak hanya bicara soal Pulau Jawa. Hampir seluruh daerah di Nusantara juga sudah memiliki batik dengan motif khas masing-masing.

Di Sumatera Barat, misalnya. Batik bahkan menjadi salah satu kelengkapan pakaian adat. Namanya Batik Tanah Liek.

Namanya memang jarang dikenal karena tergerus oleh penggunaan songket dan sulaman dari Sumatera Barat. Batik ini sempat hilang dari peredaran, tidak diproduksi lagi oleh masyarakat sejak Islam masuk ke Minangkabau.

Namun belakangan, batik tanah liek mulai dikenal lagi seiring dengan banyaknya gerai-gerai batik yang menjual batik kuno khas Sumatera Barat ini.

Ahli sejarah dari Universitas Andalas Prof Gusti Asnan menuturkan, hadirnya batik di Sumatera Barat dipengaruhi oleh orang Jawa yang datang dalam jumlah besar ke wilayah Minangkabau sebelum Islam masuk.

Menurut dia, masuknya seni membatik ini sejalan dengan Ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singosari dari Tanah Jawa. Ekspedisi ini juga berhasil membawa Putri Minangkabau ke Tanah Jawa yang melahirkan Raja Aditiawarman, salah satu raja di Pagaruyuang. Pagaruyuang dikenal sebagai pusat pemerintahan di Minangkabau. 

Kembali ke Ekspedisi Malayu, utusan Kerajaan Singosari ini masuk ke Sumatera melalui aliran Sungai Batang Hari Jambi. Yang jika ditelusuri aliran sungai ini menembus wilayah Kabupaten Dharmasraya saat ini. Pasukan ini juga sempat mendirikan kerajaan di Dharmasraya dan dianggap salah satu kerajaan terbesar yang menguasai Pulau Sumatera waktu itu.

"Saat ini Bumi Lansek Manih (sebutan Dharmasraya) dikenal sebagai sentral penghasil batik tanah liek yang produktif di samping Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan," tutur Gusti.

(Baca juga: Batik Tidayu, Harmoni di Singkawang dalam Selembar Kain)

Namun, lanjut Gusti, kejayaan batik ini tidak berlangsung lama karena kuatnya pengaruh Islam di Tanah Minangkabau. Ini diperkirakan terjadi pada akhir abad ke-18.  Masuknya Islam juga turut mempengaruhi corak pakaian masyarakat yang saat itu hanya didominasi pakaian bewarna putih dan hitam.

"Pada waktu itu pakaian bercorak yang lahir dari seni tradisi kreatif dianggap tak lazim. Akibatnya batik tanah liek tidak lagi dikenal hingga berpuluh tahun kemudian," ujarnya.

"Bangun" kembali

Belakangan, batik tanah liek kembali bangun dari mati suri, diperkirakan sejak awal reformasi. Saat itu, ide-ide kreatif dan inovatif bermunculan. Tak hanya itu, keinginan pemerintah daerah untuk memiliki produk khas daerah masing-masing juga turut membangkitkan semangat tradisi di daerah masing-masing.

"Saya lihat Pemerintah Kabupaten Dharmasraya cukup getol memberikan dukungan terhadap batik tanah liek ini," tutur Gusti.

Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Liang Lahat Sudah Digali, Pemakaman Jenazah Positif Corona di Lampung Ditolak 2 Kali

Liang Lahat Sudah Digali, Pemakaman Jenazah Positif Corona di Lampung Ditolak 2 Kali

Regional
Ganjar Minta Warga Tak Tolak Jenazah Korban Virus Corona: Jaga Perasaan Korban dan Keluarganya

Ganjar Minta Warga Tak Tolak Jenazah Korban Virus Corona: Jaga Perasaan Korban dan Keluarganya

Regional
UPDATE Pasien Corona di Sulsel: 50 Positif Corona, 5 Orang Meninggal Dunia

UPDATE Pasien Corona di Sulsel: 50 Positif Corona, 5 Orang Meninggal Dunia

Regional
Panen Padi di Tengah Wabah Corona, Upaya Menjaga Ketahanan Pangan

Panen Padi di Tengah Wabah Corona, Upaya Menjaga Ketahanan Pangan

Regional
Sektor Pertanian di Sumedang Tak Terpengaruh Pandemi Covid-19

Sektor Pertanian di Sumedang Tak Terpengaruh Pandemi Covid-19

Regional
Mantan Anggota DPRD Sulsel yang Jenazahnya Ditolak Warga Masih Berstatus PDP

Mantan Anggota DPRD Sulsel yang Jenazahnya Ditolak Warga Masih Berstatus PDP

Regional
Ditengok Anaknya dari Jakarta, Pasien Stroke Positif Covid-19 di Ciamis

Ditengok Anaknya dari Jakarta, Pasien Stroke Positif Covid-19 di Ciamis

Regional
Sebar Hoaks Kematian Pasien Covid-19 di Sulbar, Pria Ini Ditangkap Polisi

Sebar Hoaks Kematian Pasien Covid-19 di Sulbar, Pria Ini Ditangkap Polisi

Regional
Kasus DBD Menurun, 1.474 Pasien Dinyatakan Sembuh di Sikka, NTT

Kasus DBD Menurun, 1.474 Pasien Dinyatakan Sembuh di Sikka, NTT

Regional
Pesan Pasien Sembuh Covid-19: Anak Muda, Tak Perlu Nongkrong, Dengarkan Pemerintah

Pesan Pasien Sembuh Covid-19: Anak Muda, Tak Perlu Nongkrong, Dengarkan Pemerintah

Regional
Fakta Bocah 6 Tahun di Bandung Terpeleset dan Hanyut di Depan Mata Ibunya, Pencarian Dilakukan

Fakta Bocah 6 Tahun di Bandung Terpeleset dan Hanyut di Depan Mata Ibunya, Pencarian Dilakukan

Regional
60 Warga Isolasi Mandiri, Desa di Magetan Berlakukan 'Lockdown'

60 Warga Isolasi Mandiri, Desa di Magetan Berlakukan 'Lockdown'

Regional
Karantina Wilayah, Batam Beri Sembako Gratis dan Pekerja Tetap Bekerja

Karantina Wilayah, Batam Beri Sembako Gratis dan Pekerja Tetap Bekerja

Regional
Kisah Evakuasi Harimau Sumatera 3 Hari Terjerat Tali di Riau: Petugas 2 Jam tembus Hutan, Temukan Luka Serius di Kaki

Kisah Evakuasi Harimau Sumatera 3 Hari Terjerat Tali di Riau: Petugas 2 Jam tembus Hutan, Temukan Luka Serius di Kaki

Regional
Cegah Covid-19 Meluas, Pantai Kuta dan Seluruh Obyek Wisata di Badung Ditutup

Cegah Covid-19 Meluas, Pantai Kuta dan Seluruh Obyek Wisata di Badung Ditutup

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X