Diduga Produksi Pupuk Palsu, Pabrik di Sukaraja Digerebek Polisi

Kompas.com - 01/10/2017, 20:16 WIB
Kepala Polda Jawa Barat Irjen (Pol) Agung Budi Maryoto (kedua kanan) didampingi Wakil Kepala Polda Jawa Barat Brigjen (Pol) Supratman (kiri), dan Kepala Polres Sukabumi Kota AKBP Rustam Mansur hadir pada gelar perkara pengungkapan pupuk yang diduga palsu di Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (1/10/2017). Polres Sukabumi Kota mengamankan seorang tersangka R (34) berikut barang bukti berupa pupuk NPK yang diduga palsu seberat 1,85 ton merek Primahara yang rencananya akan dipasarkan ke Lembang, Bandung. ANTARA FOTO/BUDIYANTOKepala Polda Jawa Barat Irjen (Pol) Agung Budi Maryoto (kedua kanan) didampingi Wakil Kepala Polda Jawa Barat Brigjen (Pol) Supratman (kiri), dan Kepala Polres Sukabumi Kota AKBP Rustam Mansur hadir pada gelar perkara pengungkapan pupuk yang diduga palsu di Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (1/10/2017). Polres Sukabumi Kota mengamankan seorang tersangka R (34) berikut barang bukti berupa pupuk NPK yang diduga palsu seberat 1,85 ton merek Primahara yang rencananya akan dipasarkan ke Lembang, Bandung.
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

SUKABUMI, KOMPAS.com - Polres Sukabumi Kota menggerebek pabrik yang diduga membuat pupuk palsu di Jalan Goalpara, Desa Limbangan, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Keberadaan pabrik itu diketahui dari seorang pelaku R (34) yang diamankan di Jalan Raya Sukabumi-Cianjur, Kampung Cimahpar, Desa Pasir Halang, Kecamatan Sukaraja, Jumat (29/9/2017) pukul 03.00 WIB.

Saat itu, R mengendarai mobil bak terbuka Suzuki Futura ST 150 bernomor F 8706 WW bermuatan pupuk yang diduga palsu. Pupuk itu akan dikirim ke Lembang, Bandung.

Dari tersangka, polisi menyita barang bukti berupa pupuk NPK yang diduga palsu dengan merek Primahara sebanyak 370 kantong plastik ukuran lima kilogram seberat 1,85 ton.

Polisi juga mengamankan satu unit mobil bak terbuka, satu karung kalsium karbonat, serta zat pewarna.

"Pupuk yang diduga palsu ini dari isinya tidak standar. Setelah dicek kontennya hanya urea, pewarna, dan kalsium," kata Kepala Polda Jawa Barat Irjen Pol Agung Budi Maryoto yang didampingi Kapolres Sukabumi Kota AKBP Rustam Mansur dalam jumpa pers di Mapolsek Gunung Puyuh, Sukabumi, Minggu (1/10/2017).

Dia menuturkan, dari pemeriksaan awal terhadap R, tersangka sudah setahun membuat pupuk itu. Produksinya 1,5-2 ton per bulan dan didistribusikan ke Lembang.

"Sampel pupuk akan segera dibawa ke laboratorium untuk memastikan tingkat keasliannya. Tetapi dari kasat mata sudah jelas tidak sesuai dengan kandungannya," kata Agung.

Atas perbuatannya, tersangka R akan dijerat dengan Pasal 37 ayat 1 juncto Pasal 60 ayat 1 huruf  f Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman.

Polisi juga menggunakan Pasal 8 ayat 1 juncto Pasal 62 ayat 1 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 2 miliar.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Regional
Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Regional
Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi 'Landscape' Menarik

Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi "Landscape" Menarik

Regional
Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Regional
Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Regional
Hampir Rampung, Pembangunan Venue PON XX di Mimika Sudah 90 Persen

Hampir Rampung, Pembangunan Venue PON XX di Mimika Sudah 90 Persen

Regional
Beberapa Tempat di Medan Dijadikan Lokasi Isolasi, Walkot Bobby Protes Keras Gubernur Sumut

Beberapa Tempat di Medan Dijadikan Lokasi Isolasi, Walkot Bobby Protes Keras Gubernur Sumut

Regional
Kesawan City Walk Ditutup Sementara, Begini Penjelasannya

Kesawan City Walk Ditutup Sementara, Begini Penjelasannya

Regional
Ingin Warga'Survive' di Masa Pandemi, Dompet Dhuafa Kembangkan Budidaya Ikan Nila

Ingin Warga"Survive" di Masa Pandemi, Dompet Dhuafa Kembangkan Budidaya Ikan Nila

Regional
6 Kali Raih WTP, Pemkab Wonogiri Catat Penurunan Rekomendasi dalam LHP

6 Kali Raih WTP, Pemkab Wonogiri Catat Penurunan Rekomendasi dalam LHP

Regional
Masalah Sampah Terbengkalai Bertahun-tahun, Walkot Bobby Tegaskan Bersih dalam 2 Hari

Masalah Sampah Terbengkalai Bertahun-tahun, Walkot Bobby Tegaskan Bersih dalam 2 Hari

Regional
Dorong Perusahaan Bayar THR Pekerja, Walkot Semarang: 'Cash Ojo Nyicil'

Dorong Perusahaan Bayar THR Pekerja, Walkot Semarang: "Cash Ojo Nyicil"

Regional
Dapat Bantuan 'Bedah Rumah' dari Korem 074/WRT Surakarta, Agus Tak Kuasa Bendung Haru

Dapat Bantuan "Bedah Rumah" dari Korem 074/WRT Surakarta, Agus Tak Kuasa Bendung Haru

Regional
Copot Kadis Kesehatan, Wali Kota Bobby Targetkan Medan Terbebas dari Covid-19

Copot Kadis Kesehatan, Wali Kota Bobby Targetkan Medan Terbebas dari Covid-19

Regional
Optimis Pada Energi Terbarukan, Ridwan Kamil Ajak Anak Muda Tangkap Peluang

Optimis Pada Energi Terbarukan, Ridwan Kamil Ajak Anak Muda Tangkap Peluang

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X