Kompas.com - 15/09/2017, 16:24 WIB
Sejumlah kambing kibas mati di Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Rabu (13/9/2017) KOMPAS.com / Andi HartikSejumlah kambing kibas mati di Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Rabu (13/9/2017)
|
EditorFarid Assifa

MALANG, KOMPAS.com - Sebanyak 25 ekor kambing kibas milik warga di Malang, Jawa Timur, mati dalam tiga hari berturut-turut. Diduga, kambing yang mati dengan kondisi luka karena diserang oleh hewan buas.

Sampai saat ini, belum ada pihak yang memastikan penyebab pasti matinya kambing- kambing itu. Sebagian warga meyakini sesuatu hal yang mistis yang melatari kematian kambing. Sebagian lainnya menduga ada hewan buas yang datang menyerang kambing ternak itu ke dalam kandangnya. Sebab, di tubuh kambing terdapat luka.

Ketua Protection of Forest and Fauna (Profauna) Rosek Nursahid mengatakan, kambing- kambing ternak warga itu diduga diserang oleh anjing liar. Menurutnya, anjing liar banyak berkeliaran saat musim kemarau karena kekurangan makanan.

"Karena makanan yang biasanya ada di ladang atau hutan berkurang, sehingga mereka masuk kampung dan menyerang kambing," katanya kepada Kompas.com, Jumat (15/9/2017).

Dikatakannya, anjing liar itu berkelompok dan mencari mangsa di perkampungan yang dekat dengan hutan atau ladang.

Baca juga: 25 Kambing Mati dalam 3 Hari, Diduga karena Hewan Buas

Dewan Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bambang Catur Nusantara mengatakan, luka pada kambing harus diteliti untuk mengetahui jejak hewan buas yang memangsa. Selain itu, lokasi kandang kambing itu juga harus dilihat untuk mencari jejak hewan buas yang tersisa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Mesti dicek juga jenis hewan predator yang biasanya bisa diduga dari bentuk luka hewan yang dimangsa, faeses atau kotoran bekas pemangsa, jejak pemangsa dan bukti lainnya," katanya saat dihubungi, Kamis (14/9/2017).

Menurutnya, kambing-kambing yang meninggal dengan kondisi luka itu kemungkinan diserang oleh hewan buas. Sebab, hewan buas secara naluriah akan turun ke perkampungan warga jika wilayahnya mengalami kekeringan.

"Harus dilihat lebih spesifik kawasannya karena bisa jadi ada perubahan kawasan sehingga jumlah mangsa tidak lagi mencukupi kebutuhan hewan predator," katanya.

Diketahui, sejak Rabu (13/9/2017), kambing-kambing ternak warga di Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang dan Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, ditemukan mati.

Baca juga: 17 Ekor Kambing di Malang Mati Diserang Binatang Buas

Awalnya, kejadian kambing mati itu terjadi di Desa Tegalgondo. Di desa itu, kejadian kambing mati dengan dalam kondisi luka terjadi selama dua hari. Hari pertama ada 19 ekor kambing yang mati dan hari berikutnya tiga ekor kambing mati.

Hari ini, kejadian yang sama terjadi di Kelurahan Tunggulwulung. Di daerah yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Desa Tegalgondo ini terdapat tiga ekor kambing ternak mati.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi 'Getar Dilan' Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi "Getar Dilan" Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Regional
Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Regional
Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Regional
Kolaborasi Jadi Kunci Kudus Terlepas dari Status Zona Merah Covid-19

Kolaborasi Jadi Kunci Kudus Terlepas dari Status Zona Merah Covid-19

Regional
Ganjar Pranowo Disambangi Aktivis Mahasiswa Malam-malam, Ada Apa?

Ganjar Pranowo Disambangi Aktivis Mahasiswa Malam-malam, Ada Apa?

Regional
KRI Dr Soeharso-990 Bantu Pasokan Oksigen Jateng, Ganjar: Kami Prioritaskan untuk RS di Semarang Raya

KRI Dr Soeharso-990 Bantu Pasokan Oksigen Jateng, Ganjar: Kami Prioritaskan untuk RS di Semarang Raya

Regional
Kasus Covid-19 di Luwu Utara Tinggi, Bupati Indah Instruksikan Kepala Wilayah Jadi Pemimpin Lapangan

Kasus Covid-19 di Luwu Utara Tinggi, Bupati Indah Instruksikan Kepala Wilayah Jadi Pemimpin Lapangan

Regional
Walkot Benyamin Pastikan Tangsel Tangani Pandemi di Hulu dan Hilir Secara Serampak

Walkot Benyamin Pastikan Tangsel Tangani Pandemi di Hulu dan Hilir Secara Serampak

Regional
Tinjau Vaksinasi di Karawang dan Bekasi, Wagub Uu Optimistis Herd Immunity Akan Tercapai

Tinjau Vaksinasi di Karawang dan Bekasi, Wagub Uu Optimistis Herd Immunity Akan Tercapai

Regional
Melalui Fintech, Kang Emil Minta Bank BJB Adaptasi Sistem Keuangan Masa Depan

Melalui Fintech, Kang Emil Minta Bank BJB Adaptasi Sistem Keuangan Masa Depan

Regional
Dompet Dhuafa Salurkan 106 Ekor Hewan Kurban di Pedalaman Riau

Dompet Dhuafa Salurkan 106 Ekor Hewan Kurban di Pedalaman Riau

Regional
Terkait PPKM Level 4 di Semarang, Walkot Hendi Longgarkan 3 Aturan Ini

Terkait PPKM Level 4 di Semarang, Walkot Hendi Longgarkan 3 Aturan Ini

Regional
Ingin Luwu Utara Aman dan Sehat, Bupati IDP Imbau Warga Beradaptasi dengan Kebiasaan Baru

Ingin Luwu Utara Aman dan Sehat, Bupati IDP Imbau Warga Beradaptasi dengan Kebiasaan Baru

Regional
Beri Bantuan Alsintan untuk Poktan, Bupati IDP: Tolong Agar Tidak Diperjualbelikan

Beri Bantuan Alsintan untuk Poktan, Bupati IDP: Tolong Agar Tidak Diperjualbelikan

Regional
UM Bandung Gelar Vaksinasi Massal untuk 3.000 Warga, Ridwan Kamil Berikan Apresiasi

UM Bandung Gelar Vaksinasi Massal untuk 3.000 Warga, Ridwan Kamil Berikan Apresiasi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X