Juragan Kuda Diduga Diracun Istri dan Anak, Makam Dibongkar

Kompas.com - 07/09/2017, 16:29 WIB
Seorang istri bersama dua anaknya yang terlibat melakukan pembunuhan berencana terhadap suaminya sendiri Abdul Waris (60 tahun) di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menjalani rekostruksi, Jumat (18/8/2017). Ada lebih dari 30 adegan diperagakan pelaku termasuk empat pelaku pembunuh bayaran yang disewa istri korban. KOMPAS.com/ EDI JUNAEDISeorang istri bersama dua anaknya yang terlibat melakukan pembunuhan berencana terhadap suaminya sendiri Abdul Waris (60 tahun) di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menjalani rekostruksi, Jumat (18/8/2017). Ada lebih dari 30 adegan diperagakan pelaku termasuk empat pelaku pembunuh bayaran yang disewa istri korban.
|
EditorCaroline Damanik

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com – Sejumlah saksi pelaku mengungkapkan bahwa juragan kuda bernama Abdul Waris (60) diracuni sebelum dianiaya hingga tewas oleh pembunuh bayaran pada 24 Juni 2017.

Untuk membuktikannya, Tim DVI dari Polda Sulselbar membongkar kuburan Abdul Waris di Desa Ugi Baru, Kecamatan Mapilli, Polewali Mandar, Kamis (7/9/2017) siang.

Pembongkaran berlangsung tertutup. Polisi memasang garis polisi di sekitar lokasi. Sementara itu, di sekeliling kuburan dipagari dengan kain setinggi satu meter dan bagian atas juga diberi atap.

Ratusan warga yang berkumpul di sekitar kuburan tidak bisa melihat secara langsung, begitu pula awak media.

Proses penggalian kuburan dihadiri oleh Kapolres Polman AKBP Hanny Andhika Sarbini, juga sejumlah keluarga korban. Keluarga berharap, para pelaku dihukum setimpal.

(Baca juga: Motif Pembunuhan Juragan Kuda, Istri Tak Dinafkahi gara-gara Suami Kawin Lagi)

Tim dokter DVI Polda Sulselbar melakukan otopsi untuk membuktikan ada atau tidaknya kandungan racun, termasuk jenis racun yang ada di dalam tubuh korban, seperti yang diakui sejumlah pelaku dalam BAP.

Kapolres Polewali Mandar AKBP Hanny Andhika Sarbini yang menyaksikan jalannya proses penggalian jenazah korban untuk diotopsi tim dokter DVI Polda Sulselbar menyebutkan, proses otopsi korban dilakukan untuk membuktikan benar tidaknya ada kandungan racun dalam tubuh korban, seperti pengakuan sejumlah saksi pelaku yang telah diperiksa penyidik Polres Polman.

“Kami akan buktikan apakah korban sebelum meninggal dunia karena dianiaya diracuni pelaku seperti keterangan sejumlah saksi pelaku yang telah diperiksa penyidik,” tutur kapolores.

Kasus pembunuhan juragan kuda ini mendapat perhatian publik di Polewali Mandar sejak terkuak pada 24 Juni lalu. Saat kabar kematian korban tersiar ke publik, rumah korban di Matakali langsung dipenuhi warga.

Saat proses olah TKP, rumah disesaki warga yang penasaran. Polisi terpaksa memasang garis polisi di sekitar rumah korban untuk menghindari warga merangsek masuk.

Rekonstruksi berlangsung di tiga lokasi berbeda. Rekonstruksi yang digelar malam itu juga sempat diwarnai aksi caci maki warga dan pihak keluarga korban yang kesal dengan ulah para pelaku.

Saat para pelaku, termasuk Aco Botto dan tiga rekannya yang berperan sebagai pembunuh bayaran, dibawa masuk, mereka sempat diteriaki warga saat digiring petugas dari mobil dalmas menuju lokasi rekonstruksi.

Ada lebih dari 41 adegan proses pembunuhan berencana terhadap pelaku ketika itu. Salah satu adegannya adalah menaruh racun pada makanan korban, namun hal tersebut menurut sejumlah pelaku tidak membuat korban mati. Korban baru meninggal setelah korban dipukuli dengan balok kayu secara beramai-ramai.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wali Kota Malang dan Keluarganya Membaik, Sekda Masih Dirawat

Wali Kota Malang dan Keluarganya Membaik, Sekda Masih Dirawat

Regional
Warga Positif Covid-19 Tetap Bisa Gunakan Hak Pilih di Pilkada, Begini Mekanismenya...

Warga Positif Covid-19 Tetap Bisa Gunakan Hak Pilih di Pilkada, Begini Mekanismenya...

Regional
Pengemudi Speedboat yang Tabrakan Hilang Tenggelam

Pengemudi Speedboat yang Tabrakan Hilang Tenggelam

Regional
Ruang Isolasi Darurat Covid-19 di Purbalingga Terendam Air, 36 Pasien Dipindah

Ruang Isolasi Darurat Covid-19 di Purbalingga Terendam Air, 36 Pasien Dipindah

Regional
Kasus Meningkat, RSUD Jombang Over Kapasitas Pasien Covid-19

Kasus Meningkat, RSUD Jombang Over Kapasitas Pasien Covid-19

Regional
Dipecat karena Korupsi, Mantan PNS Dalangi Penipuan Pembangunan Rumah Duafa dari Penjara, Ini Ceritanya

Dipecat karena Korupsi, Mantan PNS Dalangi Penipuan Pembangunan Rumah Duafa dari Penjara, Ini Ceritanya

Regional
Diduga Keracunan AC Mobil, Seorang Ibu Tewas dan 2 Anaknya Kritis

Diduga Keracunan AC Mobil, Seorang Ibu Tewas dan 2 Anaknya Kritis

Regional
Ridwan Kamil Sebut Jabar Diprediksi Mengalami Krisis Pangan pada 2021

Ridwan Kamil Sebut Jabar Diprediksi Mengalami Krisis Pangan pada 2021

Regional
Kronologi Ditemukan 238 Kasus Positif di Politeknik Transportasi Darat, Berkumpul untuk Kegiatan Pengenalan Kampus

Kronologi Ditemukan 238 Kasus Positif di Politeknik Transportasi Darat, Berkumpul untuk Kegiatan Pengenalan Kampus

Regional
Terjadi Kerumunan Pertandingan Sepak Bola, Polda Banten Evaluasi Bawahan

Terjadi Kerumunan Pertandingan Sepak Bola, Polda Banten Evaluasi Bawahan

Regional
Kronologi 2 'Speedboat' Tabrakan di Sungai Lalan, Keluar Jalur dan Satu Penumpang Tewas

Kronologi 2 "Speedboat" Tabrakan di Sungai Lalan, Keluar Jalur dan Satu Penumpang Tewas

Regional
Mayat Perempuan di Fondasi Rumah, Diduga Diracun Potasium dan Tinggal Kerangka

Mayat Perempuan di Fondasi Rumah, Diduga Diracun Potasium dan Tinggal Kerangka

Regional
Pecat Pegawai yang Tertangkap Bawa Ganja Saat Patroli, Jasa Marga: Tak Ada Toleransi!

Pecat Pegawai yang Tertangkap Bawa Ganja Saat Patroli, Jasa Marga: Tak Ada Toleransi!

Regional
Debit Sungai Serayu Tinggi, Kapal Ponton Seberat 20 Ton Hanyut, Sempat Tersangkut di Bendungan

Debit Sungai Serayu Tinggi, Kapal Ponton Seberat 20 Ton Hanyut, Sempat Tersangkut di Bendungan

Regional
7 Tahun Jadi Misteri, Kasus Mayat Perempuan di Kebun Salak Sleman Akhirnya Terungkap

7 Tahun Jadi Misteri, Kasus Mayat Perempuan di Kebun Salak Sleman Akhirnya Terungkap

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X