Kompas.com - 14/08/2017, 13:11 WIB
Presiden Joko Widodo saat konferensi pers di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (10/8/2017). Fabian Januarius KuwadoPresiden Joko Widodo saat konferensi pers di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (10/8/2017).
EditorFarid Assifa

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon, Hery Haryanto Azumi meminta Presiden Joko Widodo untuk mengundang semua pemangku kepentingan untuk membahas masalah pendidikan karakter.

Hal itu terkait dengan protes dari kalangan Nahdlatul Ulama terhadap kebijakan full day school yang akan "membunuh" madrasah diniyah.

Ia menilai, jika suara-suara pemangku kepentingan pendidikan karakter, terutama dari kalangan NU, tidak diperhatikan, dikhawatirkan bisa memicu gejolak di masyarakat.

"Agar tidak berkembang liar dan tidak produktif, sebaiknya Presiden segera mengundang para stakeholder pendidikan karakter agar dapat menyerap aspirasi secara langsung. Jika salah menangani gejolak dan kontroversi ini, dikhawatirkan kaum Nahdliyin merasa ditinggalkan oleh pemerintah," ujar Heri kepada Kompas.com, Minggu (13/8/2017).

Baca juga: "Alhamdulillah, Bapak Presiden Sudah Tegas soal Full Day School"

Menurut Heri, kontroversi soal full day school sudah menjadi liar dan keluar dari kerangka penguatan pendidikan karakter yang sedang dicanangkan oleh pemerintah.

Heri menilai, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kurang peka dalam melakukan komunikasi kebijakan secara baik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Penerjemahan full day school dengan sekolah 8 jam sehari menimbulkan kegaduhan yang luar biasa di kalangan Nahdliyyin karena madrasah diniyah sebagai bagian dari sistem penjaga nilai dan karakter yang berkembang di masyarakat dipastikan akan tergerus," tandas Heri.

Selama ini, lanjut Heri, peserta didik sudah terbiasa bersekolah di sekolah umum SD/MI pada pagi hari. Lalu sore harinya, mereka mendapatkan penguatan pendidikan agama dan budi pekerti di madrasah diniyah.

"Itu terjadi di tingkat dasar, menengah dan atas," ujarnya.

Lalu kini muncul konsep full day school yang selama ini dimaknai sebagai belajar selama 8 jam sehari di bangku sekolah. Jika pendekatan ini diterapkan, kata Heri, maka hampir dipastikan para peserta didik akan berangsur-angsur meninggalkan madrasah diniyah dengan berbagai alasan, utamanya karena masalah waktu dan kecapekan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Regional
AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

Regional
Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Regional
9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

Regional
Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Regional
Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Regional
Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Regional
Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Regional
Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Regional
Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Regional
Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Regional
PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

Regional
Beri Wejangan untuk Arsitek dan Seniman, Kang Emil: Jangan Menua Tanpa Karya dan Inspirasi

Beri Wejangan untuk Arsitek dan Seniman, Kang Emil: Jangan Menua Tanpa Karya dan Inspirasi

Regional
Lewat Aplikasi Sekoper Cinta, Atalia Ridwan Kamil Perluas Jangkauan Belajar Perempuan Jabar

Lewat Aplikasi Sekoper Cinta, Atalia Ridwan Kamil Perluas Jangkauan Belajar Perempuan Jabar

Regional
Ciptakan Integrasi Ekosistem Data, Pemprov Jabar Gagas “Ekosistem Data Jabar”

Ciptakan Integrasi Ekosistem Data, Pemprov Jabar Gagas “Ekosistem Data Jabar”

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.