Air Sungai Bah Bolon Tiba-tiba Berubah Jadi Merah, Apa Sebabnya?

Kompas.com - 07/08/2017, 18:22 WIB
Aliran air Sungai Bah Bolon berubah warna merah darah di Siantar Selatan, Senin (7/8/2017).Tribun Medan/Dedy Aliran air Sungai Bah Bolon berubah warna merah darah di Siantar Selatan, Senin (7/8/2017).

PEMATANGSIANTAR, KOMPAS.com - Ratusan warga di Jalan DI Panjaitan, Pematangsiantar, dikejutkan dengan warna air di sepanjang aliran Sungai Bah Bolon yang berubah jadi merah, Senin (7/8/2017).

Warga secara spontan mengerubungi kawasan sekitar sungai, termasuk pula saluran pembuangan irigasi yang melintas di Jalan DI Panjaitan.

"Kami kira warna merah itu adalah pembuangan darah hewan potong," ungkap seorang warga yang tinggal di sekitar saluran pembuangan.

Menurut warga sekitar, perubahan warna air itu tiba-tiba sehingga membuat mereka bertanya-tanya apa yang terjadi.


Hal itu juga membuat pelintas jalan di DI Panjaitan arah ke Parapat berhenti untuk melihat air sungai yang berwarna merah sehingga membuat lalu lintas macet.

(Baca juga: Air Sungai Bah Bolon Tiba-tiba Berwarna Merah, Warga Heboh)

Lurah Tong Marimbun, Herwan Saragih, mengatakan, berubahnya warna air ini diduga berasal dari tumpahan zat pewarna tenun ulos yang tak sengaja dibuang seseorang di tempat pembuangan sampah (TPS) di sekitar Jalan DI Panjaitan.

TPS berada dekat saluran irigasi. Ada sisa zat pewarna bekas yang dibungkus dengan plastik itu jatuh ke saluran irigasi.

"Itu ulah seseorang yang tak jelas orangnya dari mana. Sebab di sekitar ini tidak ada pabrik zat pewarna," katanya.

Air yang menjadi merah juga terjadi di saluran air yang melintas di Jalan SKI. Dari saluran ini air menuju Sungai Bah Bolon. Oleh karena itu, lanjut Herwan, air di Sungai Bah Bolon ikut memerah.

“Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya,” kata seorang warga di pinggir sungai.

Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Siantar mencoba membawa sampel pewarna yang ditemukan di sekitar TPS pembuat sungai Bah Bolon warna merah untuk diperiksa di laboratorium.

Menurut Kepala BLH Jekson Gultom, zat pewarna yang ditemukan di sekitar drainase dari Jalan DI Panjaitan berbahaya untuk kehidupan makhluk sungai. Zat pewarna yang ditemukan biasa dipakai untuk pewarna kain atau bahan pewarna pembuatan batu paving block.

“Itulah dugaan sementara. Soal dampaknya masih diperiksa dulu,” terangnya.

Jekson juga menyayangkan oknum yang membuang zat pewarna ke drainase. Apalagi warna merah, tentu menimbulkan prasangka masyarakat telah terjadi sesuatu. Bahkan zat ini juga sudah mencemari lingkungan.

“Inilah masyarakat yang tidak paham dampak dari tindakannya. Secara undang- undang orang yang sengaja dan tidak sengaja mencemari lingkungan bisa dipidana,” katanya.

 

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorCaroline Damanik
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X