Kompas.com - 07/08/2017, 10:40 WIB
Seorang anak sedang belajar di sanggar Ruang Kreatifitas Anak Tanah Ombak, Kampung Purus 3, Padang, Sumatera Barat, Minggu (16/7/2017). Mayoritas anak-anak di kampung itu tidak dapat menikmati akses pendidikan yang lengkap dikarenakan keterbatasan ekonomi orangtuanya. KOMPAS.com / RAMDHAN TRIYADI BEMPAHSeorang anak sedang belajar di sanggar Ruang Kreatifitas Anak Tanah Ombak, Kampung Purus 3, Padang, Sumatera Barat, Minggu (16/7/2017). Mayoritas anak-anak di kampung itu tidak dapat menikmati akses pendidikan yang lengkap dikarenakan keterbatasan ekonomi orangtuanya.
|
EditorCaroline Damanik

PADANG, KOMPAS.com - Gang kecil itu dulunya dijuluki dengan sebutan "gang setan". Kalimat itu dilontarkan Syuhendri, salah satu pendiri komunitas dan ruang kreativitas anak Tanah Ombak, Padang, Sumatera Barat.

Kehadiran Ruang Baca Tanah Ombak di sebuah gang sempit di Kampung Purus 3, sebelah pesisir Pantai Padang, Kota Padang, kala itu, pun seolah menjadi ancaman bagi warga setempat.

Sejak awal dibentuknya komunitas tersebut di tahun 2014 oleh Syuhendri bersama teman dekatnya, Yusrizal KW, keduanya sering mendapat penolakan dari warga di kampung tersebut.

Bang Hendri, sapaan akrab Syuhendri, dan Bang KW, sapaan akrab Yusrizal, kerap mendapat ancaman dan intimidasi. Beberapa relawan yang ikut bergabung juga tak luput menerima kekerasan secara verbal.

Kondisi lingkungan di sana memprihatinkan. Tindak kriminal dan narkoba sudah menjadi hal biasa bagi warga di sana.

Kampung nelayan dengan rumah-rumah berbentuk semi permanen dan kumuh itu dihuni warga yang punya kebiasaan buruk. Orang dewasanya gemar berjudi dan mengonsumsi minuman keras, sedangkan anak-anak di sana tumbuh dengan di tengah caci-maki sehari-hari.

Bahkan, anak-anak pun sangat dekat dengan dunia hitam itu. Mereka sudah terbiasa “ngelem”, mengisap aroma lem yang mengandung alkohol.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

(Baca juga: Jalan Terjal Pretty Bangun 6 Taman Baca di Papua Barat, Ditentang Orangtua hingga Alami Kecelakaan)

Bicara soal pendidikan di kampung itu juga masih jauh dari harapan. Ekonomi orangtuanya yang pas-pasan membuat anak-anak di sana sulit untuk mendapat akses pendidikan yang lengkap.

"Dulu, anak-anak tumbuh dengan kekerasan. Ngomong kasar itu sudah biasa. Ada yang putus sekolah, ada juga yang bersekolah. Kebanyakan dikeluarin karena berantem di sekolah," ucap Hendri saat ditemui KOMPAS.com, pekan lalu.

Namun, keadaan itu berubah drastis sejak dua tahun belakangan. Kehadiran Tanah Ombak sudah bisa diterima warga setempat. Kebiasaan buruk warga perlahan ditinggalkan.

Hendri menuturkan, perubahan itu terjadi seiring dengan upaya membangun karakter dengan mengenalkan dunia baca atau literasi kepada anak-anak sejak dini.

Di Tanah Ombak, anak-anak belajar mengurai proses kreatif lewat membaca, menggambar, dan berteater. Bagi Hendri dan KW, Tanah Ombak adalah lautan kebaikan. Keduanya punya cita-cita ingin menciptakan generasi berakhlak dan pintar di tempat itu.

"Anak-anak di sini punya kesempatan yang sama untuk belajar. Kami yakin, jika menanam kebaikan hasilnya juga akan baik," kata Hendri.

Berbekal ilmu seni di bidang teater, Hendri mulai mengajak anak-anak di kampung itu belajar lewat berkesenian. Ia membuka pintu bagi siapa pun terutama anak-anak di kawasan Purus yang ingin belajar teater.

Sementara itu, KW menyediakan buku-buku. Anak-anak diajar membaca dan menceritakan kembali kisah yang mereka baca.

Dari jumlah kecil, akhirnya anak-anak yang lain tertarik dan bergabung. Lambat laun, bukan hanya menjadi ruang latihan teater, tapi berkembang menjadi tempat membaca bagi anak-anak sekitar.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sejumlah Warga Tak Mau Terima BST Dobel, Begini Respons Ganjar Pranowo

Sejumlah Warga Tak Mau Terima BST Dobel, Begini Respons Ganjar Pranowo

Regional
Bantu Pemkab Bogor Kejar Target, Telaga Kahuripan Fasilitasi Vaksin untuk Warga

Bantu Pemkab Bogor Kejar Target, Telaga Kahuripan Fasilitasi Vaksin untuk Warga

Regional
11 Tahun Menanti, Wonogiri Akhirnya Kantongi Predikat KLA Tingkat Pratama

11 Tahun Menanti, Wonogiri Akhirnya Kantongi Predikat KLA Tingkat Pratama

Regional
Meski PPKM Level 4 Diperpanjang, Pemkot Semarang Tak Lagi Lakukan Penyekatan

Meski PPKM Level 4 Diperpanjang, Pemkot Semarang Tak Lagi Lakukan Penyekatan

Regional
Isoman Rawan Tularkan Virus, Pemkab Wonogiri Terapkan Tempat Isolasi Terpadu

Isoman Rawan Tularkan Virus, Pemkab Wonogiri Terapkan Tempat Isolasi Terpadu

Regional
Apresiasi Aksi Peduli Covid-19 Mahasiswa di Semarang, Ganjar: Bisa Jadi Contoh untuk Daerah Lain

Apresiasi Aksi Peduli Covid-19 Mahasiswa di Semarang, Ganjar: Bisa Jadi Contoh untuk Daerah Lain

Regional
Jamin Biaya Pemakaman Pasien Covid-19, Pemkab Wonogiri Anggarkan Rp 2 Juta Per Pemulasaraan

Jamin Biaya Pemakaman Pasien Covid-19, Pemkab Wonogiri Anggarkan Rp 2 Juta Per Pemulasaraan

Regional
Keterlibatan Pemerintah Bikin BOR di Wonogiri Turun Drastis Selama PPKM

Keterlibatan Pemerintah Bikin BOR di Wonogiri Turun Drastis Selama PPKM

Regional
Bupati Wonogiri Fokus Percepat Vaksinasi di Tingkat Kecamatan

Bupati Wonogiri Fokus Percepat Vaksinasi di Tingkat Kecamatan

Regional
Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk, Wali Kota Madiun Terima Penghargaan MKK 2021

Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk, Wali Kota Madiun Terima Penghargaan MKK 2021

Regional
Sapa Warga Subang dan Purwakarta, Ridwan Kamil Bagikan Sembako dan Tinjau Vaksinasi

Sapa Warga Subang dan Purwakarta, Ridwan Kamil Bagikan Sembako dan Tinjau Vaksinasi

Regional
Mahasiswa Bantu Penanganan Covid-19, Ganjar Pranowo Berikan Apresiasi

Mahasiswa Bantu Penanganan Covid-19, Ganjar Pranowo Berikan Apresiasi

Regional
Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi 'Getar Dilan' Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi "Getar Dilan" Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Regional
Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Regional
Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X