Anak-anak Ini Lepasliarkan 700 Belut yang Ditangkap dengan Setrum

Kompas.com - 31/07/2017, 07:08 WIB
Anak-anak Taman Baca Pos Kamling melepasliarkan 700 an belut di sawah sekitar tempat tinggal mereka Minggu (30/7/2017). KOMPAS.com/Ira RachmawatiAnak-anak Taman Baca Pos Kamling melepasliarkan 700 an belut di sawah sekitar tempat tinggal mereka Minggu (30/7/2017).
|
EditorReni Susanti

BANYUWANGI,KOMPAS.com - Sekitar 700-an belut dilepasliarkan anak-anak Taman Baca Pos Kamling Perumahan Puri Brawijaya Permai, Kelurahan Kebalenan, Minggu (30/7/2017). Belut tersebut dilepasliarkan di sawah dekat tempat tinggal mereka.

Eris Utomo (44) pengelola Taman Baca Pos Kamling mengatakan, belut-belut itu adalah hasil tangkapan warga yang tidak ramah lingkungan dengan menggunakan setrum dan potasium. Belut yang diambil hanya belut berukuran besar sedangkan yang kecil dibuang begitu saja.

"Akhirnya belut-belut yang dibuang di sekitar perumahan kami pelihara. Kita tidak tau siapa yang nangkap ditinggal gitu saja. Usia belut mungkin sebulan sampai dua bulan lalu kita rawat di tong yang kita letakkan di halaman taman baca," jelas Eris.

Belut-belut di tong bekas itu dipelihara secara bergantian oleh anak-anak rumah baca Pos Kamling. Belut itupun dijadikan sarana pembelajaran pentingnya menjaga kelestarian lingkungan serta mengenalkan kepada anak-anak pentingnya belut bagi pertanian.

(Baca juga: Taman Baca, Cara Kartono Bangun Mimpi Anak-anak di Eks Lokalisasi)

 

Anak-anak Taman Bacaan memeplihara belut-belut itu maksimal 2 bulan atau jika dirasa sudah cukup sehat untuk dilepas ke alam bebas.

"Kita ajarkan jika belut bisa dijadikan indikator pencemaran lingkungan karena belut mudah beradaptasi. Jadi jika belut tidak ada di sawah maka ada kemungkinan lingkungan di sekitarnya sudah rusak," jelas Eris.

Bukan hanya untuk mengedukasi anak-anak, Eris berharap, kegiatan tersebut bisa mengubah perilaku penangkapan belut dengan menggunakan setrum dan potasium.

"Jika diingatkan langsung nanti akan jadi masalah, tapi jika melihat kegiatan anak-anak seperti ini saya menyakini akan ada perubahan cara menangkap yang lebih ramah lingkungan bukan lagi menggunakan setrum dan potasium," ungkapnya.

(Baca juga: Lewat Buku, Taman Baca Kudi Bawa Anak-anak Desa Semakin Dekat dengan Mimpi)

 

Ia mengaku sudah beberapa kali melepasliarkan belut di sawah. Belut yang dilepasliarkan berkisar di angka 200-700-an belut.

Sementara itu, puluhan anak-anak terlihat antusias saat melepas belut di sawah. Salah satunya adalah Dewanti. Siswa SD itu berkali-kali berusaha menangkap belut di tong untuk dipindahkan ke dalam timba sebelum dilepasliarkan di sawah.

"Susah nangkapnya. Tapi seneng rasanya pas bisa melepas belut ke sawah. Liat belutnya masuk ke tanah. Semoga belutnya besar dan bertelur banyak," jelas Dewanti. 

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X