Algooth Putranto

Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).

Gus Ipul dan Godaan Pulang ke Kandang Banteng

Kompas.com - 29/07/2017, 07:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorAmir Sodikin

PEMILIHAN Gubernur Jawa Timur 2018 tinggal menghitung hari. Nama-nama yang bakal maju sebagai calon gubernur pun sebetulnya sudah bisa dengan mudah ditebak.

Menariknya, seperti halnya di Jawa Barat, PDI-P, lagi-lagi tak punya calon kuat untuk maju dalam pemilihan kepala daerah di Jawa Timur.

Sosok Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini atau biasa disapa Risma, yang sebelumnya digadang-gadang sejumlah kecil faksi di PDI-P agar maju ke DKI Jakarta pun sebetulnya tak cukup memiliki akar di kalangan partai berlambang Banteng itu.

Seperti halnya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Risma bukanlah kader PDI-P. Pada awal karir politiknya tahun 2009, Risma dapat melaju sebagai calon walikota Surabaya pun berkat putusan Megawati. Padahal saat itu, petahana Bambang Dwi Hartono yang lebih ngebet mencalonkan diri.

Lewat Bu Mega, Risma mendapat tiket sebagai calon Wali Kota Surabaya didampingi Bambang Dwi Hartono. Sebuah keputusan yang terbilang mengejutkan karena justru kader PDI-P sejati hanya ditempatkan sebagai pendamping.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memberi pembekalan terhadap 24 pemuda lulusan Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) yang diterima bekerja di Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (19/7/2017). KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memberi pembekalan terhadap 24 pemuda lulusan Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) yang diterima bekerja di Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (19/7/2017).
Sebagian menyebut putusan tersebut karena campur tangan Soetjipto Soedjono (Pak Tjip), mantan Sekjen PDI-P yang saat itu adalah Wakil Ketua MPR, sahabat Bu Mega sekaligus sahabat Taufik Kiemas dan ayah dari Wisnu Sakti Buana, Ketua DPC PDI-P Surabaya.

Jalan Risma sangatlah terjal. Sejumlah faksi PDI-P Surabaya menolak pencalonan Risma yang berasal dari luar partai. Dinamika yang terjadi sepintas mirip bagaimana kader PDI-P di Jakarta ketika menolak Ahok jika maju dengan baju merah menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017.

Setelah menang dan menjabat sebagai Wali Kota Surabaya hingga dua kali berturut-turut, pada masa pemerintahan kedua dengan didampingi Wisnu Sakti Buana pun beberapa kali Bu Mega harus turun langsung membentengi Risma yang diganggu kader PDI-P.

Saya cenderung melihat dengan latar belakang birokrat tulen dan minimnya ambisi Risma pada jabatan politik, akan cukup sulit memaksakannya untuk maju sebagai calon gubernur Jatim yang jauh lebih kompleks dibandingkan Surabaya.

Mengapa? Sejauh ini Jatim adalah basis Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), meskipun nyatanya kader yang diusung PKB yaitu Khofifah Indar Parawansa dalam dua pilgub terdahulu justru selalu terdepak dari permainan.

Menteri Sosial Khofifah di Kompleks Parlemen, Senayan, JakartaRakhmat Nur Hakim/Kompas.com Menteri Sosial Khofifah di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta
Pada Pilgub 2008, Khofifah yang menggandeng Mudjiono kalah tipis dari pasangan Soekarwo dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Lima tahun berselang Khofifah bersama Herman S Sumawiredja, lagi-lagi kalah dari Soekarwo-Saifullah Yusuf yang didukung koalisi partai.

Kemana PDI-P dalam dua Pilkada tersebut? Kalah telak! Pada 2008, PDI-P sebagai jawara Pemilu 2004 percaya diri mengusung Sutjipto-Ridwan harus gigit jari. Tak belajar dari sejarah, kejadian serupa terulang pada Pilgub 2013 ketika wakil mereka Bambang Dwi Hartono-Said Abdullah gagal total.

Belajar dari dua kekalahan terdahulu dan hasil pahit di DKI Jakarta, mungkin sudah sepatutnya PDI-P mau belajar dan lebih taktis menghadapi Pilgub Jatim. Benar bahwa PDI-P memiliki Risma yang sempat tenar di media arus utama dan media sosial.

Tidak bisa dibantah juga, lagi-lagi belajar dari kasus DKI Jakarta, popularitas calon tanpa akar yang kuat hingga ke basis massa terbawah hanyalah menjadi awal kekecewaan.

Belajar dari kasus Ahok, PDI-P mesti berhitung ketika memajukan Risma yang merupakan sosok birokrat dengan niat mengabdi seutuhnya sekaligus terkenal tak mau kompromi dengan selingkuh politik-bisnis yang kotor.

Pulang kandang

Suka tidak suka, demi mengamankan basis PDI-P di Jawa Timur, barangkali strategi memulangkan Gus Ipul ke kandang Banteng bisa menjadi pilihan yang lebih rasional dibandingkan mendorong Risma maju sebagai cagub.

Mengapa saya menggunakan diksi memulangkan? Tak lain sejarah politik Gus Ipul sejatinya diawali sebagai representasi PDI-P di Senayan pasca Pemilu 1999. Gus Ipul adalah pemegang mandat hubungan Gus Dur-Mega saat itu.

Sayang, keretakan relasi Gus Dur-Mega juga yang membuat Gus Ipul terpental dari PDI-P dan DPR, mantan Ketua Umum GP Ansor itu memilih masuk PKB hingga menjadi Sekretaris Jenderal PKB hasil muktamar PKB tahun 2002.

Dengan sejarah tersebut bisa jadi kepulangan Gus Ipul ke PDI-P akan cukup mudah, meskipun ada ganjalan sejarah yang mungkin akan sedikit menganggu yakni kemesraan Gus Ipul dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dikenal sebagai rival berat Bu Mega pada Pemilu 2004.

Semua juga tahu, untuk kedekatan tersebut, Gus Ipul diganjar jabatan sebagai Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal pada Kabinet Indonesia Bersatu dari Oktober 2004 hingga Mei 2007.

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf saat menghadiri Halalbihalal dan Rembug Petani Tebu Nusantara di komplek Pabrik Gula Krebet, Kabupaten Malang, Selasa (25/7/2017)KOMPAS.com/Andi Hartik Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf saat menghadiri Halalbihalal dan Rembug Petani Tebu Nusantara di komplek Pabrik Gula Krebet, Kabupaten Malang, Selasa (25/7/2017)
Setelah tak jadi menteri pun, Gus Ipul masih mendapat uluran tangan SBY melalui Partai Demokrat untuk melaju sebagai wakil gubernur Jawa Timur pada Pilgub 2008.

Pilihan taktis SBY yang jitu, sebab Gus Ipul sebagai orang yang dekat dengan Gus Dur sukses membuat suara PKB terpecah.

Suara-suara memulangkan Gus Ipul ke PDI-P pun sebetulnya sudah sempat terdengar di kalangan elit Banteng. Beberapa wacana dengan narasi nyamannya hubungan PDI-P dengan Nahdlatul Ulama dengan balutan nostalgia perjuangan Gus Dur-Megawati dapat menjadi indikasi kepulangan Gus Ipul.

Dari hitung-hitungan kekuatan pun, kedua partai dapat dengan jelas mengindikasikan bagaimana komposisi cagub-cawagub mendatang. Saat ini PKB memiliki 20 kursi di DPRD Jatim, sedangkan PDI-P memiliki 19 kursi.

Andai kesepakatan di tingkat elit partai tercapai, dengan konsekuensi menyingkirkan Khofifah Indar Parawansa, maka tak akan sulit bagi aliansi PKB-PDI-P untuk kemudian memasangkan dan memasarkan Gus Ipul dengan Risma di Jawa Timur yang memiliki kencenderungan basis massa yang nasionalis dan Islam tradisional.

Meski demikian, skenario ideal ini bukan tidak mungkin batal ketika partai lain yang berseberangan dengan PDI-P buru-buru meminang Gus Ipul. Setidaknya ada Partai Demokrat dan Gerindra yang juga tengah berburu cagub mereka.

Meskipun bukan partai dominan di Jawa Timur, kedua partai bahkan sudah berpengalaman membentuk aliansi partai yang mengantarkan Soekarwo-Saifullah Yusuf. Apalagi, aliansi keduanya di Pilkada DKI terbukti berhasil.

Pada sisi lain, ada faktor "X" yang bisa jadi membuat PDI-P terlambat bergerak. Apalagi jika bukan faktor restu Megawati. Tanpa restu Bu Mega yang mirip bintang jatuh, mana berani kader-kader PDI-P bergerak mendekati Gus Ipul yang sejatinya sudah memberikan sinyal untuk pulang kandang demi Pilgub Jatim 2018.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ketua TP-PKK Riau Riau Kunjungi Dua Panti Asuhan di Bengkalis

Ketua TP-PKK Riau Riau Kunjungi Dua Panti Asuhan di Bengkalis

Regional
Gubernur Khofifah Optimistis Gelaran SPE 2022 Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Jatim

Gubernur Khofifah Optimistis Gelaran SPE 2022 Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Jatim

Regional
Bupati Jekek Minta Generasi Muda Beri Warna Baru untuk Dunia Pertanian

Bupati Jekek Minta Generasi Muda Beri Warna Baru untuk Dunia Pertanian

Regional
Ujaran Kebencian Jelang Pemilu 2024 Meningkat, Masyarakat Papua Diimbau Lakukan Hal Ini

Ujaran Kebencian Jelang Pemilu 2024 Meningkat, Masyarakat Papua Diimbau Lakukan Hal Ini

Regional
Cegah Penyebaran PMK, Bupati Wonogiri Perketat Pengawasan di Pasar Hewan

Cegah Penyebaran PMK, Bupati Wonogiri Perketat Pengawasan di Pasar Hewan

Regional
Patuh Sampaikan LHKPN, Gubernur Riau Syamsuar Dapat Apresiasi dari KPK

Patuh Sampaikan LHKPN, Gubernur Riau Syamsuar Dapat Apresiasi dari KPK

Regional
Mulai Juli 2022, Pemkab Wonogiri Cover Iuran BPJS Ketenagakerjaan Seluruh Perangkat RT dan RW

Mulai Juli 2022, Pemkab Wonogiri Cover Iuran BPJS Ketenagakerjaan Seluruh Perangkat RT dan RW

Regional
Lestarikan Lingkungan, Pemprov Papua Tanam 1.000 Pohon Sagu di Jayapura

Lestarikan Lingkungan, Pemprov Papua Tanam 1.000 Pohon Sagu di Jayapura

Regional
Melalui DD Farm, Dompet Dhuafa Sediakan Pakan Ternak untuk Warga Gunungkidul

Melalui DD Farm, Dompet Dhuafa Sediakan Pakan Ternak untuk Warga Gunungkidul

Regional
Sediakan Hewan Kurban di Sulteng, Dompet Dhuafa Berdayakan Peternak Lokal

Sediakan Hewan Kurban di Sulteng, Dompet Dhuafa Berdayakan Peternak Lokal

Regional
Peringati HUT Ke-104 Madiun, Walkot Maidi Paparkan Target dan Capaiannya

Peringati HUT Ke-104 Madiun, Walkot Maidi Paparkan Target dan Capaiannya

Regional
Gubernur Syamsuar Dukung Pebalap Asal Riau di Kejuaraan Dunia

Gubernur Syamsuar Dukung Pebalap Asal Riau di Kejuaraan Dunia

Regional
Jatim Distribusikan 1.000 Vaksin PMK Hewan Ternak, Khofifah Pantau Penyuntikannya di Sidoarjo

Jatim Distribusikan 1.000 Vaksin PMK Hewan Ternak, Khofifah Pantau Penyuntikannya di Sidoarjo

Regional
Gubernur Riau Minta Tenaga Honorer Diprioritaskan Jadi CPNS dan PPPK

Gubernur Riau Minta Tenaga Honorer Diprioritaskan Jadi CPNS dan PPPK

Regional
Pelantikan Menteri Baru, Gubernur Syamsuar: Alhamdulillah Putra Riau Terpilih Jadi Wamen ATR/BPN

Pelantikan Menteri Baru, Gubernur Syamsuar: Alhamdulillah Putra Riau Terpilih Jadi Wamen ATR/BPN

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.