Cak Imin: Ekonomi Sulit Berputar, Situasi Politik Harus Lebih Kondusif

Kompas.com - 19/07/2017, 20:48 WIB
Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Dok Partai Kebangkitan BangsaKetua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
EditorReni Susanti

BANDUNG, KOMPAS.com - Ketimpangan menjadi problem serius dalam masyarakat Indonesia maupun global. Namun ketimpangan itu bukan karena ketidaksengajaan juga bukan semacam ekses tak terantisipasi dari sebuah pertumbuhan ekonomi.

"Situasi politik yang lebih kondusif sungguh dibutuhkan karena ekonomi sulit berputar dalam keadaan tidak stabil," ujar Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB), Muhaimin Iskandar dalam rilisnya, Rabu (19/7/2017).

"Maka, pertikaian-pertikaian yang menghabiskan energi dan waktu kita, sudah masanya diakhiri. Indonesia sudah cukup tertinggal dalam konteks global saat ini," tambahnya.

Pria yang akrab disapa Cak Imin ini menjelaskan, kualitas SDM Indonesia di level Asia pun kini mulai dikejar negara-negara tetangga seperti Filipina, Vietnam, dan Thailand. Saat ini, secara perlahan kualitas SDM Indonesia dapat disejajarkan dengan Myanmar, Kamboja, dan Laos. 


"Energi yang semestinya ditumpahkan untuk berkompetisi dengan bangsa lain, malah terserap habis untuk berkonfrontasi dengan warga setanah air," tuturnya.

(Baca juga: Jokowi: Selama Ini Panggung Politik Kita Didominasi Jiwa-jiwa Kosong)

Apalagi dengan kondisi perekonomian Indonesia yang kurang menggembirakan. Seperti data yang dirilis BPS pada 17 Juli 2017. Data itu menggambarkan, hingga Juni 2017, jumlah rakyat miskin di Indonesia mencapai 27,77 juta.

Perekonomian Indonesia juga mengalami penurunan yang ditandai dengan menurunnya nilai ekspor dan impor. Index ketimpangan atau gini ratio juga masih di level 3,393 persen, tak banyak bergeser sejak September tahun lalu.

Pemerintah tentu berupaya keras agar perekonomian bangsa kembali normal, baik dalam konteks pembukaan investasi untuk penciptaan lapangan kerja, maupun dalam menjaga daya beli tetap stabil. Namun index keparahan kemiskinan, khususnya di perkotaan, justru memanjat naik, dari 1,19 menjadi 1,25 dalam kurun waktu enam bulan.

"Tentu tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan upaya kita dalam mengatasi kemiskinan masih belum cukup efektif," imbuhnya.

(Baca juga: Cak Imin Minta Jokowi Lindungi Petani Tebu)

Sebagian orang, lanjut dia, menganggap situasi perekonomian global-lah yang menciptakan tekanan besar pada kinerja ekonomi negara ini, mengingat kepentingan pasar dan perdagangan bebas sering lebih perkasa dibanding kepentingan rakyat. 

"Meski demikian, policy ekonomi apa yang dipilih dan dijalankan, bagi kami sepenuhnya adalah merupakan keputusan politik," ungkap Cak Imin.

Terlepas dari itu, ia mendorong seluruh kadernya dan masyarakat, bekerja lebih keras guna melepaskan diri dari kemiskinan. "Kita harus bekerja lebih keras, lebih cerdas, lebih cepat untuk mengatasi ketimpangan dan kemiskinan," tegasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X