Derita Penyakit Langka, Bayi Davino Butuh Cangkok Hati Rp 1,3 Miliar

Kompas.com - 19/07/2017, 19:37 WIB
Kompas TV Seorang Ibu Melahirkan di Atas Pesawat Batik Air
|
EditorCaroline Damanik

"Seharusnya kami harus kontrol ke RSUP Sardjito sebulan sekali, tapi kami tidak cukup biaya untuk ke sana. Alhamdulillah, pihak rumah sakit merekemondasikan kalau kontrol cukup ke RSUD Muntilan saja," ungkapnya.

Menurut Siti, diusianya yang lebih 1 tahun, tubuh buah hatinya itu semakin memburuk. Dia harus keluar masuk rumah sakit. Praktis tumbuh kembangnya juga tidak berjalan semestinya. Vino tidak bisa merangkak, berdiri, bahkan untuk sekedar membalikkan badanpun Vino kesulitan.

"Waktu kondisinya stabil dia bisa berdiri, belajar berjalan, tapi semakin lama semakin drop, rewel, sesak nafas juga. Berat badanya hanya 6 kilogram. Kalau anak sehat, usia 1 tahun beratnya bisa 9-10 kilogram," tuturnya sembari terus membelai Vino yang mulai menangis di pangkuannya.

(Baca juga: Bayi 5 Bulan Anak Buruh Bangunan Derita Penyakit Langka Atresia Bilier)

Pencangkokan Hati Siti melanjutkan, dokter sudah mendiagnosa Vino menderita Atresia Bilier Sirosis atau kondisi yang lebih parah dari Atresia Bilier Kirosis. Kelainan ini tidak bisa sembuh jika hanya dengan pengobatan biasa.

Satu-satunya cara adalah dengan pencangkokkan hati dari organ hati orang lain (pendonor). Mendengar vonis itu, Siti dan suaminya hanya bisa pasrah.

Betapa tidak, mereka diberi tahu bahwa prosedur pencangkokan organ hati bukan perkara mudah dan murah. Biayanya mencapai Rp 1,5 miliar. Itu pun harus menunggu proses lama karena hati Vino dengan pendonor harus benar-benar cocok.

"Dokter bilang satu-satunya jalan dengan cangkok hati, biayanya berkisar Rp 1,3-1,5 miliar. Mana mungkin kami punya uang segitu banyak. Untuk biaya hidup kami saja kesulitan. Sementara BPJS kami hanya bisa membiayai Rp 300 juta saja," ungkapnya sembari menahan air mata.

Kondisi ekonomi keluarga Siti memang tergolong tidak mampu. Sang suami bekerja sebagai supir cadangan truk tambang pasir di lereng Merapi yang penghasilannya tidak tetap. Siti tidak lagi bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) karena harus fokus mengurus Vino.

Sementara itu, kakak perempuan Vino, Ririn Rismawati (11), masih duduk di bangku sekolah dasar. Selain harus minum obat, Vino juga harus mengonsumsi susu formula yang harganya tidak murah bagi Siti.

Harganya Rp 260.000 per 400 gram yang hanya cukup untuk satu minggu saja. Sebenarnya dokter menyarankan untuk mengonsumsi susu tersebut sejak lama, namun karena keterbatasan biaya baru beberapa waktu terakhir saja diberikan.

Rencananya, pada Kamis (20/7/2017), Vino akan dirujuk ke RSUP Dr Sardjito Yogyakarta lagi karena mengalami masih mengalami gangguan pernapasan sepulang dari menjalani rawat inap di RSUD Muntilan Kabupaten Magelang.

Siti pun terus berdoa dan berharap ada keajaiban dari Tuhan untuk kesembuhan anak laki-lakinya itu. Siti juga tetap bersyukur karena apapun keadaan anaknya adalah amanah yang harus ia rawat dan jalani.

“Semua sudah digariskan Allah, bagaimana pun keadaan saya sudah merawat Vino dengan sebaik-baiknya. Kalau ada dermawan, saya pasti berterimakasih. Kalau pun tidak ada, pasti Allah sudah mempunyai jalan terbaik,” pungkas Siti.

 

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Masa Tenang Pilkada, Kepala Daerah di Jateng Diminta Tak Politisasi Program Pemerintah

Masa Tenang Pilkada, Kepala Daerah di Jateng Diminta Tak Politisasi Program Pemerintah

Regional
Suami Pulang Mabuk, Wanita Ini Aniaya dengan Kapak hingga Tewas

Suami Pulang Mabuk, Wanita Ini Aniaya dengan Kapak hingga Tewas

Regional
Perjuangan Dokter Ririn Rawat Pasien Covid-19: Lihat Pasien Sembuh, Itu Sebuah Kepuasan...

Perjuangan Dokter Ririn Rawat Pasien Covid-19: Lihat Pasien Sembuh, Itu Sebuah Kepuasan...

Regional
Ada 74 Klaster Keluarga di Sleman Selama 2 Bulan Terakhir

Ada 74 Klaster Keluarga di Sleman Selama 2 Bulan Terakhir

Regional
Respons Pemkab Gresik Usai Video Keranda Jenazah Dihanyutkan Menyeberangi Sungai Viral

Respons Pemkab Gresik Usai Video Keranda Jenazah Dihanyutkan Menyeberangi Sungai Viral

Regional
Ada Siswa Positif Covid-19, Rencana Sekolah Tatap Muka di Jateng Terancam Ditunda

Ada Siswa Positif Covid-19, Rencana Sekolah Tatap Muka di Jateng Terancam Ditunda

Regional
Mobil Milik Seorang Dokter Tiba-tiba Terbakar di Parkiran RS Pekanbaru

Mobil Milik Seorang Dokter Tiba-tiba Terbakar di Parkiran RS Pekanbaru

Regional
Dirilis KPK sebagai Calon Wakil Kepala Daerah Terkaya, Muhidin: Alhamdulillah

Dirilis KPK sebagai Calon Wakil Kepala Daerah Terkaya, Muhidin: Alhamdulillah

Regional
Tertular dari Dosen, 48 Anak dan Pengurus Panti Asuhan Positif Covid-19

Tertular dari Dosen, 48 Anak dan Pengurus Panti Asuhan Positif Covid-19

Regional
Keluarga Mengamuk dan Tolak Pemakaman Pasien Corona Sesuai Prosedur Covid-19

Keluarga Mengamuk dan Tolak Pemakaman Pasien Corona Sesuai Prosedur Covid-19

Regional
Pengemudi 'Speedboat' yang Tabrakan di Musi Banyuasin Ditemukan Tewas

Pengemudi "Speedboat" yang Tabrakan di Musi Banyuasin Ditemukan Tewas

Regional
15 ASN Pemkab Ponorogo Positif Covid-19

15 ASN Pemkab Ponorogo Positif Covid-19

Regional
Intensitas Kegempaan Gunung Merapi Minggu Ini Lebih Rendah

Intensitas Kegempaan Gunung Merapi Minggu Ini Lebih Rendah

Regional
Video Hoaks Aliran Lahar Dingin Gunung Semeru Beredar di Medsos

Video Hoaks Aliran Lahar Dingin Gunung Semeru Beredar di Medsos

Regional
Tambah 3 Orang, Kini Ada 5 Anggota DPRD Lamongan Positif Covid-19

Tambah 3 Orang, Kini Ada 5 Anggota DPRD Lamongan Positif Covid-19

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X