Alumni GP Ansor se-Indonesia Tolak "Full Day School"

Kompas.com - 17/06/2017, 21:07 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat ditemui pasca kegiatan pembagian Kartu Indonesia Pintar (KIP) di SMPN 2 Banjarnegara, Jateng, Jumat (16/6/2017). KOMPAS.com/Iqbal FahmiMenteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat ditemui pasca kegiatan pembagian Kartu Indonesia Pintar (KIP) di SMPN 2 Banjarnegara, Jateng, Jumat (16/6/2017).
|
EditorEgidius Patnistik

SEMARANG, KOMPAS.com - Gelombang penolakan terhadap kebijakan full day school (FDS) yang digagas Mendikbud Muhadjir Effendy makin meluas. Tak hanya menolak gagasan 5 hari sekolah, sejumlah komponen bahkan mulai mendesak Presiden RI Joko Widodo mengevaluasi kinerja Muhadjir karena mengusung gagasan yang dinilai usang dan kontroversial.

Ikatan Alumni Gerakan Pemuda Ansor (IKA GP Ansor), salah satu perkumpulan non-organik ormas keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), dalam siaran persnya di Ungaran, Kabupaten Semarang, Kamis (15/6/2017), menegaskan penolakan mereka terhadap kebijakan itu.

"Kami menuntut agar Pemerintah Jokowi-JK  segera  menghentikan gagasan kontroversial full day school ini dan segera mengevaluasi kinerja Mendikbud, yang ngotot dengan FDS," kata Sekretaris Umum Pimpinan Pusat IKA GP Ansor, Samsul Ridwan.

Menurut Samsul, gagasan FDS ini sudah ada sejak satu tahun lalu dan telah menjadikan suasana gaduh secara nasional. Banyak pihak menduga kebijakan FDS ini memuat egenda terselubung dan bahkan berpotensi merugikan model pendidikan sore yang sudah berkembang sejak ratusan tahun, seperti madrasah diniyah, Taman Pendidikan Quran (TPQ) dan sejenisnya.

Lihat juga: Full Day School Disebut Resahkan Guru

"Oleh karena itu kami secara tegas menolak full day school," kata dia.

Ada beberapa alasan yang menjadi dasar penolakan IKA GP Ansor menolak kebijakan ini. Menurut Samsul, FDS tidak sejalan dengan program revolusi mental yang selalu dikampanyekan oleh pemerintah.

Penyelenggaraan FDS sangat berpotensi menghilangkan kesempatan anak-anak untuk menempuh pendidikan agama di waktu sore dan malam hari. Model pendidikan itu sudah lama dirintis dan diselenggarakan masyarakat, jauh sebelum model pendidikan modern ada.

"FDS berpeluang bagi suburnya paham radikalisme bagi anak-anak, karena pemahaman agama hanya akan didapatkan dari jalur formal saja,"  kata dia.

"Jika diterapkan, maka anak didik selalu mendapatkan waktu libur yang panjang setiap pekan, yakni Sabtu dan minggu. Ini justru dikhawatirkan tidak efektif bagi anak-anak untuk membantu tumbuh kembangnya," lanjutnya.

Menurut IKA GP Ansor, FDS merupakan akal-akalan dari pemerintah dalam hal ini Kemendikbud. 

"Maka Ketua Umum PP Ika GP Ansor Mufid Rahmad mengeluarkan peringatan keras ini bagi pemerintah," kata dia.

Bupati Semarang, Mundjirin, saat diminta tanggapannya mengenai kebijakan full day school mengatakan, di Kabupaten Semarang program itu pernah diterapkan. Akan tetapi kebijakan itu  dicabut lantaran tidak efektif dan mendapatkan penolakan dari masyarakat.

"Kurang efektif, menambah biaya karena orangtua harus menganggarkan untuk ongkos angkutan bagi anaknya. Tapi kami tunggu keputusan pusat bagaimana," kata Mundjirin.

Baca juga: Full Day School Dinilai sebagai Langkah Mundur

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Unggah Postingan Bernada Kebencian pada Institusi Polisi, Ibu Rumah Tangga Ditahan

Unggah Postingan Bernada Kebencian pada Institusi Polisi, Ibu Rumah Tangga Ditahan

Regional
Mobil Polisi yang Dibakar Pelaku Penyerangan Mapolsek di Kalsel Sempat Meledak

Mobil Polisi yang Dibakar Pelaku Penyerangan Mapolsek di Kalsel Sempat Meledak

Regional
Nihil Kasus Corona, 12 Kabupaten di NTT Siap Terapkan 'New Normal'

Nihil Kasus Corona, 12 Kabupaten di NTT Siap Terapkan "New Normal"

Regional
Sepeda Motor Terbakar Usai Kecelakaan di Depan SPBU, Pelajar SMA Tewas

Sepeda Motor Terbakar Usai Kecelakaan di Depan SPBU, Pelajar SMA Tewas

Regional
Sejumlah Pantai di Bali Dibuka untuk Turis Asing, Warga Lokal Belum Diizinkan Masuk

Sejumlah Pantai di Bali Dibuka untuk Turis Asing, Warga Lokal Belum Diizinkan Masuk

Regional
Pendaftaran PPDB Surabaya Dapat Diakses lewat Aplikasi Android

Pendaftaran PPDB Surabaya Dapat Diakses lewat Aplikasi Android

Regional
Sebelum Meninggal, Polisi di Kalsel Sempat Berikan Perlawanan pada Pelaku Penyerangan

Sebelum Meninggal, Polisi di Kalsel Sempat Berikan Perlawanan pada Pelaku Penyerangan

Regional
Fakta Mapolsek Daha Selatan Diserang OTK, Anggota Polisi Tewas dan Ditemukan Dokumen ISIS

Fakta Mapolsek Daha Selatan Diserang OTK, Anggota Polisi Tewas dan Ditemukan Dokumen ISIS

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 1 Juni 2020

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 1 Juni 2020

Regional
Tak Pakai Masker, Warga Dihukum Menghafal Pancasila

Tak Pakai Masker, Warga Dihukum Menghafal Pancasila

Regional
Jajarannya Nekat Korupsi Saat Pandemi, Ganjar Langsung Seret ke KPK

Jajarannya Nekat Korupsi Saat Pandemi, Ganjar Langsung Seret ke KPK

Regional
Sambut 'New Normal' di Babel, 6 Sekolah Dibuka, Kecuali di Pangkalpinang

Sambut "New Normal" di Babel, 6 Sekolah Dibuka, Kecuali di Pangkalpinang

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 1 Juni 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 1 Juni 2020

Regional
New Normal Segera Dimulai, Warga Tak Sabar Ingin ke Pantai

New Normal Segera Dimulai, Warga Tak Sabar Ingin ke Pantai

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 1 Juni 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 1 Juni 2020

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X