Kompas.com - 12/06/2017, 20:00 WIB
Ilustrasi KompasIlustrasi
EditorCaroline Damanik

MUARA ENIM, KOMPAS — Warga Dusun III, Desa Hidup Baru, Kecamatan Benakat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, berinisial S (38), tega memerkosa anak kandungnya, D (16), selama lima tahun terakhir.

Kasus itu terbongkar setelah D berontak dan nekat memberi tahu peristiwa tersebut kepada ibu kandungnya. Ayahnya kabur saat polisi memburu tersangka setelah kasus itu terungkap.

Kepala Desa Hidup Baru Antoni ketika dihubungi dari Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (11/6), mengatakan, sepekan lalu, D mengadu kepada ibunya atas kejahatan seksual yang dilakukan ayahnya.

Mendengar kabar itu, ibu korban langsung melaporkan perbuatan itu kepada perangkat desa dan kepolisian setempat. "Kasus ini baru terungkap setelah D dan ibunya melapor ke saya dan kepolisian," katanya.

Antoni menuturkan, berdasarkan pengakuan D, perbuatan bejat S terjadi sejak usianya 11 tahun atau pada 2012 dan terakhir pada 27 April 2017. S melakukan perbuatan itu di rumah ketika istrinya keluar rumah. Saat akan dan seusai melakukan perbuatannya, S memperingati D agar tutup mulut. Jika berani cerita dengan orang lain, S mengancam akan membunuh D.

Kabur ke rumah nenek

Antoni melanjutkan, karena tidak tahan, D akhirnya kabur ke rumah neneknya di Dusun I, Desa Hidup Baru. Namun, ternyata, S tidak terima D kabur. S pun memaksa D untuk pulang kembali ke rumah.

Saat dipaksa pulang itu, D nekat mengungkap perbuatan S kepada ibu dan sanak keluarga lain di rumah neneknya. Setelah mendengar informasi tersebut, ibu D berinisiatif melaporkan kasus itu kepada perangkat desa dan kepolisian setempat.

"Setelah dilaporkan kepada polisi, polisi segera mencari S. Namun, S sudah kabur. Saat ini, S masih buron," katanya.

(Baca juga: Kerap Diperkosa Ayah Kandung, Gadis 15 Tahun Tulis Surat untuk Ibu)

Menurut Antoni, saat ini, D tampak mengalami gangguan psikologis karena rentetan perbuatan S. Ia tampak sering murung dan putus asa.

"Bahkan, beberapa kali D mengatakan, dirinya sudah habis, sudah hancur. Ia sudah putus asa," ucapnya.

Kepala Kepolisian Sektor (Polsek) Gunung Megang Ajun Komisaris Iwan Gunawan mengutarakan, pihaknya membenarkan adanya kasus itu. "D sudah tidak tahan dengan ulah bejat ayahnya. Ia nekat bercerita kepada ibu dan sanak keluarga yang lain," ujarnya.

Iwan mengatakan, hingga saat ini, pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap S.

"S sudah ditetapkan dalam daftar pencarian orang. Kami komitmen menangkap dan menuntaskan kasus ini secepatnya. Kami tidak akan kompromi untuk kasus kejahatan seksual seperti ini," ujarnya. (DRI)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Juni 2017, di halaman 22 dengan judul "Lima Tahun, Ayah Perkosa Anaknya".

 

 

Kompas TV Polisi Tangkap 7 Tersangka Pemerkosaan di Bali



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Regional
Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Regional
Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Regional
Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Regional
Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Regional
Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Regional
Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Regional
Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Regional
Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Regional
Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X