Sultan HB X Kukuhkan "Jaga Warga" untuk Cegah Terorisme di DIY

Kompas.com - 30/05/2017, 21:28 WIB
Sebanyak 221 warga DI Yogyakarta dikukuhkan menjadi anggota Jaga Warga di bangsal kantor Kepatihan, Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, Selasa (30/5/2017). Pengukuhan Anggota Jaga Warga yang berasal dari lima kota/kabupaten di DIY itu dilakukan langsung Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X. KOMPAS.com/Teuku Muh Guci SSebanyak 221 warga DI Yogyakarta dikukuhkan menjadi anggota Jaga Warga di bangsal kantor Kepatihan, Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, Selasa (30/5/2017). Pengukuhan Anggota Jaga Warga yang berasal dari lima kota/kabupaten di DIY itu dilakukan langsung Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X mengukuhkan 221 warga yang menjadi anggota Jaga Warga.

Anggota Jaga Warga ini berasal dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunungkidul.

“Pengukuhan ini saya anggap sangat penting karena bertanggung jawab terhadap keamanan di desa. Apalagi tantangan masyarakat saat ini berbeda dengan zaman dulu. Tantangan sekarang makin bervariasi, makin banyak dan makin banyak problematika,” ujar Sultan seusai mengukuhkan 221 anggota Jaga Warga di komplek Kepatihan, Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, Selasa (30/5/2017).

Baca juga: Sultan HB: Pemimpin Tidak Boleh Takut Membuat Orang Marah

Dikatakan Sultan, Jaga Warga ini bertugas menjaga rasa aman seluruh masyarakat di masing-masing desa dari ancaman yang tidak terduga, seperti peredaran narkoba dan terorisme.

Ia mencontohkan, anggota Jaga Warga harus mampu mengawasi dan mendata setiap tamu dengan wajah baru yang menginap di rumah warga di lingkungannya.

“Kalau dulu ada program tamu menginap 1x24 jam wajib lapor RT, sekarang sudah tidak ada. Kalaupun ada, paling satu sampai dua orang yang melakukannya. Tugas Jaga Warga ini untuk mengantisipasinya,” ucap Sultan.

Sultan menambahkan, Jaga Warga juga harus mampu menyelesaikan persoalan yang muncul di tingkat keluarga, RT, RW, sampai antar-kampung. Satu di antaranya mengawasi pergaulan anak-anak di lingkungannya agar tidak bergabung dengan kelompok radikal atau kelompok yang dapat menjerumuskannya.

“Jaga Warga juga harus menyelesaikan persoalan yang terjadi di tengah warga sehingga jangan sampai terjadi perkelahian antarwarga. Kalau itu terjadi ngisin-ngisini (memalukan). Sepertinya kita tidak beradab,” ujar Sultan.

Sultan mengatakan, Jaga Warga juga bertugas membentuk masyarakat sipil yang memiliki daya tahan terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di lingkungannya. Ia menilai, belum terbentuknya masyarakat sipil membuat narkoba dan terorisme dengan mudah menyebar di tengah masyarakat.

“Kalau masyarakat sipil sudah terbentuk masyarakat bisa mengatakan tidak dengan sendirinya. Dia juga membangun jaringan antarwarga dengan TNI, Polri, dan pemda. Jadi dia bisa beri informasi ada sesuatu atau kejadian di desa yang tidak semestinya,” kata Sultan.

Diakui Sultan, belum semua desa di DIY memiliki anggota Jaga Warga. Ia menyebut, pengukuhan itu baru langkah awal menampung antusiasme warga terhadap program Jaga Warga.

Baca juga: Alasan Jokowi Libatkan TNI dalam Pemberantasan Terorisme Dipertanyakan

Sebab diakuinya, ia hanya berencana membentuk Jaga Warga di 15 desa pada 2015 dan 10 desa pada 2016.

“Kami lebih baik mengakomodir partisipasi masyarakat dulu sambil minta masukan dari anggota Jaga Warga untuk menentukan kebutuhannya seperti apa. Tidak mungkin antusiasime warga ini ditahan,” ujar Sultan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Regional
Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X