"Tutup Tambang, Selamatkan Kehidupan Kami dan Ekosistem Leuser!"

Kompas.com - 27/05/2017, 15:57 WIB
Sungai Bahorok, tempat aktivitas pertambangan galian C yang mengancam kehidupan masyarakat sekitar dan ekosistem Leuser, Sabtu (27/5/2017) KOMPAS.com/Mei LeandhaSungai Bahorok, tempat aktivitas pertambangan galian C yang mengancam kehidupan masyarakat sekitar dan ekosistem Leuser, Sabtu (27/5/2017)
|
EditorFarid Assifa

MEDAN, KOMPAS.com - Resah dengan aktivitas pertambangan bahan galian golongan bebatuan ( galian C) di Sungai Bahorok dan takut terancamnya ekosistem Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), perwakilan warga tiga desa di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat Sumatera Utara, mengadu ke Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara.

Didampingi aktivis dari Jaringan Monitoring Tambang dan Pelestarian Lingkungan Alam (JMT-Pela), warga mengatakan, keberadaan galian C milik Syah Daulat Purba bermasalah.

Rahman (50), perwakilan warga Dusun VII, Desa Timbang Lawan, mengatakan, pihaknya menolak beroperasinya galian C karena memicu ancaman ekologi warga sekitar yang tinggal di bantaran sungai.

Ancaman tersebut di antaranya erosi sempadan sungai akibat banjir, hilangnya areal pertanian dan berkurangnya tangkapan ikan mereka.

Baca juga: Tanggul Bekas Galian Tambang Jebol, Satu Kelurahan Terendam Banjir

Rahman yang bekerja sebagai pemandu wisata ini menjelaskan, Sungai Bahorok adalah salah satu sungai yang hulunya di TNGL. Kawasan ini dilindungi karena menjadi tempat tinggalnya orangutan. Lokasi ini menjadi salah satu tujuan wisata yang sangat terkenal di dunia dengan nama Bukit Lawang.

"Gara-gara galian C itu, debit air sungai turun jauh. Kami tidak bisa menggunakan perahu karet lagi untuk menyusurinya. Ini mengurangi minat turis berkunjung. Ini menghilangkan mata pencarian kami, pendapatan kami. Belum lagi jalan jadi rusak parah setiap hari dilewati truk-truk kelebihan tonase," kata Rahman, Jumat (27/5/2017).

Diungkapkannya, ada tiga desa yang terdampak langsung dengan aktivitas galian C itu, yakni Desa Timbang Lawan, Timbang Jaya dan Bukit Lawang. Semuanya masih satu Kecamatan Bahorok.

Sejak 2016 lalu, seluruh warga desa sudah mengadu ke kepala desa, lurah dan camat agar menutup tambang. Tuntutan mereka diakomodir para perangkat pemerintahan namun tidak ada realisasinya. Batu-batu dan pasir tetap diangkut dari sungai.

"Tutup tambang, selamatkan kehidupan kami dan ekosistem Leuser," ucap Rahman emosional.

Selain meminta pertambangan ditutup, Rahman juga berharap sungai dinormalisasi dan ditata ulang agar tidak terjadi lagi banjir bandang seperti 2001 lalu yang memakan korban jiwa.

Setelah dinormalisasi, Sungai Bahorok yang berair jernih dan memiliki jeram bagus bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata. Otomatis masyarakat sekitar dapat menambah penghasilan dengan berjualan makanan dan minuman sehingga akan menambah ekonomi rakyat.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kota Tegal Terima 4.000 Dosis Vaksin Sinovac, 10 Pejabat Bakal Disuntik

Kota Tegal Terima 4.000 Dosis Vaksin Sinovac, 10 Pejabat Bakal Disuntik

Regional
Polres Toraja Utara Ungkap Penipuan Jual Beli Rumah Senilai Rp 91 Juta

Polres Toraja Utara Ungkap Penipuan Jual Beli Rumah Senilai Rp 91 Juta

Regional
Positif Covid-19 Meski Sempat Divaksin, Kadinkes Banjarmasin Minta Didoakan Sembuh

Positif Covid-19 Meski Sempat Divaksin, Kadinkes Banjarmasin Minta Didoakan Sembuh

Regional
Sulut Dua Kali Pecah Rekor Tambahan Kasus Covid-19 dalam Seminggu

Sulut Dua Kali Pecah Rekor Tambahan Kasus Covid-19 dalam Seminggu

Regional
Diguyur Hujan Deras, Kota Pangkalpinang Kembali Terendam Banjir

Diguyur Hujan Deras, Kota Pangkalpinang Kembali Terendam Banjir

Regional
Sedang Mandi di Laut, Wisatawan Pantai Jayanti Cianjur Hilang Ditelan Ombak

Sedang Mandi di Laut, Wisatawan Pantai Jayanti Cianjur Hilang Ditelan Ombak

Regional
Korban Kebakaran UPT Logam Purbalingga Tewas di Toilet, Tim Labfor Temukan BBM

Korban Kebakaran UPT Logam Purbalingga Tewas di Toilet, Tim Labfor Temukan BBM

Regional
Begal Sadis yang Aniaya Penjual Nasi Kuning di Makassar Ditembak Polisi

Begal Sadis yang Aniaya Penjual Nasi Kuning di Makassar Ditembak Polisi

Regional
Video Viral Nenek 80 Tahun Hidup Sendirian Tidak Terurus, Undang Simpati Warga

Video Viral Nenek 80 Tahun Hidup Sendirian Tidak Terurus, Undang Simpati Warga

Regional
Jenazah Covid-19 yang Diambil Paksa dari RSUD Ba'a NTT Dimakamkan

Jenazah Covid-19 yang Diambil Paksa dari RSUD Ba'a NTT Dimakamkan

Regional
Kesaksian Warga yang Lihat Kakek Tarmin Diserang Puluhan Tawon hingga Tewas

Kesaksian Warga yang Lihat Kakek Tarmin Diserang Puluhan Tawon hingga Tewas

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 24 Januari 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 24 Januari 2021

Regional
Pembunuh Teman Kencan Sesama Jenis di Grobogan Jual Diri di Media Sosial dan Pernah Menikah

Pembunuh Teman Kencan Sesama Jenis di Grobogan Jual Diri di Media Sosial dan Pernah Menikah

Regional
Tak Mau Bantu Pekerjaan Rumah, Calon Pengantin Tewas Mengenaskan Dibacok Kerabatnya

Tak Mau Bantu Pekerjaan Rumah, Calon Pengantin Tewas Mengenaskan Dibacok Kerabatnya

Regional
Digelar di Masa PPKM, Dua Hajatan di Kota Solo Dihentikan Satpol PP

Digelar di Masa PPKM, Dua Hajatan di Kota Solo Dihentikan Satpol PP

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X