Cerita Para Seniman Jalanan di Solo Lawan Vandalisme Lewat Grafiti - Kompas.com

Cerita Para Seniman Jalanan di Solo Lawan Vandalisme Lewat Grafiti

Kompas.com - 22/05/2017, 16:39 WIB
KOMPAS.com/M Wismabrata Seniman grafiti di Solo sedang melukis di salah satu tembok milik warga di Kampunh Kalitan, Solo, Senin (22/5/2017).

SOLO, KOMPAS.com - Dengan serius, dua pemuda mengayunkan cat warna di tembok di salah satu gang di Kota Solo. Kedua pemuda yang mengaku sebagai pecinta grafiti ini sudah mewarnai puluhan tembok.

Tidak ada niat untuk membuat kotor, namun justru ingin memberikan pelajaran bagaimana melukis di tembok dengan cara yang benar dan indah.

Septian Dwi Hendrawan (22), pemuda asal Sukoharjo yang sering juga disapa Asep, menjelaskan bahwa aksi corat-coretnya tersebut tidak hanya asal, tetapi sudah ada tema dan sketsanya.

"Kami sebetulnya sangat kesal dengan aksi corat-coret tidak jelas ditembok yang dilakukan anak anak muda. Tulisannya jorok dan gambarnya juga tidak jelas maksudnya apa," kata Asep kepada saat ditemui di salah satu gang kampung di Kalitan, Solo.

Asep bersama salah satu temannya, Runa, sedang melukis salah satu tembok milik warga.

"Kami selalu izin dulu dengan pemilik rumahnya. Kalau diizinkan, baru kami gambar. Kalau tidak, ya kami pergi," kata Asep.

KOMPAS.com/M Wismabrata Seniman grafiti di Solo sedang melukis di salah satu tembok milik warga di Kampunh Kalitan, Solo, Senin (22/5/2017).
Sebelum melukis, Asep menambahkan, terlebih dahulu berdiskusi dengan teman dan setelah sketsa jadi, baru mencari spot atau tembok yang bisa dilukis.

"Kami diskusi di komunitas dan siapa yang ada waktu, boleh menggambar. Kebetulan kami sudah bekerja jadi karyawan dan komunitas kita bernama FHA (Fucking Haters Art). Kami ingin melawan aksi asal corat-coret di tembok yang justru membuat kotor," kata Asep, Senin (22/5/2017).

(Baca juga: Daripada Corat-coret, Jokowi Dukung Grafiti)

Asep sembari menyemprotkan pylox menceritakan pengalamannya saat beraksi menjadi seniman jalanan.

"Kalau tidak salah pertengahan tahun 2016. Kita dah dapat izin dari pemilik rumah, namun saat itu didatangi Satpol PP. Kami dibela oleh pemilik rumah namun setelah itu dari petugas Linmas datang dan membawa ke pos," katanya.

"Tak berselang lama petugas kepolisian juga datang. Seakan pelaku kejahatan, kami hendak dibawa ke kantor polisi mas. Kita hanya dua orang. Untung saja, ada salah satu warga yang meyakinkan petugas untuk tidak menangkap kami dan boleh meneruskan grafiti asal dengan syarat memasuka logo salah satu program pemerintah tentang keluarga nasional," tambah Asep.

Sementara itu, Runa, pegiat grafiti asal Cirebon mengaku terjun ke komunitas grafiti ingin mengajak orang muda untuk tidak asal corat-coret di tembok, tetapi harus mengindahkan unsur keindahan dan juga teknik melukis.

"Saya di Cirebon juga gabung dengan komunitas grafiti overspray, lalu selama di Solo, juga berkumpul dengan teman teman grafiti di Solo. Kami modal cat sendiri saat melukis dan kami tidak ingin dicap sebagai vandalisme karena kami selalu izin dulu," katanya.

Asep dan Runa berharap, pemerintah Kota Solo memberikan lokasi bagi para seniman muda di Solo, khususnya pegiat grafiti untuk mencurahkan ide dan hasrat seni mereka.

"Di Solo ini banyak Mas komunitasnya dan tersebar di mana-mana. Kalau seandainya ada lokasi khusus, tentu tidak ada gesekan atau perselisihan dengan warga yang masih berpikir kami melakukan vandalisme," ungkap Asep.

 


EditorCaroline Damanik

Komentar

Close Ads X