HTI Sumut: Kalau Dibubarkan, Dakwah Tetap Jalan karena Ini Kewajiban

Kompas.com - 10/05/2017, 09:29 WIB
Anggota Hizbut Tahrir Indonesia menolak penyelenggaraan kontes Miss World dengan berunjuk rasa di Kota Bandung, 4 September 2013. Indonesia menjadi tuan rumah kontes kecantikan dunia Miss World untuk pertama kalinya di Bali dan Bogor pada 1-14 September. AFP PHOTO / TIMUR MATAHARIAnggota Hizbut Tahrir Indonesia menolak penyelenggaraan kontes Miss World dengan berunjuk rasa di Kota Bandung, 4 September 2013. Indonesia menjadi tuan rumah kontes kecantikan dunia Miss World untuk pertama kalinya di Bali dan Bogor pada 1-14 September.
|
EditorReni Susanti

MEDAN, KOMPAS.com - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hizbut Tahrir Indonesia ( HTI) Sumatera Utara Irwan Said Batubara menilai, pembubaran organisasinya merupakan langkah represif terhadap gerakan Islam. Keputusan ini condong ke kebijakan politik kepentingan.

“Kalau HTI dibubarkan karena dinilai bertentangan dengan Pancasila dan akan membubarkan NKRI, keliru sekali. Sejak dideklarasikan 17 tahun lalu, tidak satupun ada pernyataan resmi kami yang melawan Pancasila dan NKRI. Kami malah mengajak Indonesia tetap utuh dan bersatu," kata Irwan, Selasa (9/5/2017).

Dia mengaku, aktivitas utama lembaganya adalah edukasi umat dengan gerakan dakwah sesuai konsep Islam yang mereka usung. Aktivitas ini yang dianggap miring banyak orang. Padahal ideologi Pancasila dipahami berbeda dan multi-tafsir.

Mulai era Presiden Soekarno dengan Nasakom hingga masa Presiden Joko Widodo dengan neoliberalisme dan imperialisme, tidak pernah sama.


"Ini yang kami ungkap, kami sadarkan masyarakat, bahwa ketika kita hidup dalam kehidupan kapitalisme dan sekularisme yang implikasinya neoliberalisme dan neoimperialisme, contohnya pembuatan UU yang selalu untuk menjaga kepentingan pengusaha. Zona aman mereka bergesekan dengan HTI, dibenturkanlah HTI dengan pancasila dan NKRI,” ucapnya.

Menurutnya, alasan yang digunakan tidak ada korelasinya. HTI tidak pernah menyatakan pancasila itu kufur, hanya menyatakan sistem yang ada sekarang adalah sistem kapitalis.

Persoalan negara hanya dua, pemimpin yang tidak amanah dan sistem pemerintahan yang rusak. Hizbut Tahrir bukan hanya ada di Indonesia, tapi di beberapa negara.

(Baca juga: Pemerintah Tempuh Jalur Hukum untuk Bubarkan HTI)

Soal ancaman pembubaran, bukan hal pertama terjadi. Pihaknya menjadikan situasi ini sebagai pelajaran. Apa yang terjadi saat ini kemungkinan yang menjadi kenyataan.

“Bagi kami, saat zona aman pemerintah disinggung maka reaksilah yang muncul,” tegas Irwan.

Ditanya pemicu pembubaran, dia menduga karena pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu yang dimunculkan pertama kali oleh HTI, disusul aksi menolak pemimpin kafir. Dampaknya adalah sikap Ahok yang melecehkan Al Quran dan meremehkan alim ulama.

Kembali HTI mengeluarkan pernyataan "jangan kriminalisasi alim ulama" yang berujung aksi besar-besaran umat Islam.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fakta di Balik Nenek Paulina Tinggal Sendiri di Gubuk Reyot hingga Dapat Uang Rp 10 Juta dari Presiden Jokowi

Fakta di Balik Nenek Paulina Tinggal Sendiri di Gubuk Reyot hingga Dapat Uang Rp 10 Juta dari Presiden Jokowi

Regional
Bentrok di Universitas Negeri Makassar, 2 Mahasiswa Kena Tikam

Bentrok di Universitas Negeri Makassar, 2 Mahasiswa Kena Tikam

Regional
Angin Kencang Menerjang Puncak Bogor, 300 Penduduk Desa Diungsikan ke Masjid.

Angin Kencang Menerjang Puncak Bogor, 300 Penduduk Desa Diungsikan ke Masjid.

Regional
Peringati Hari Santri, Khofifah Minta Warga Jatim Mengheningkan Cipta

Peringati Hari Santri, Khofifah Minta Warga Jatim Mengheningkan Cipta

Regional
Mulai 2020, Disparbud Jabar Akan Jadikan Situs Purbakala Wisata Sejarah

Mulai 2020, Disparbud Jabar Akan Jadikan Situs Purbakala Wisata Sejarah

Regional
Ancam Akan Bunuh, Ayah Cabuli Putri Kandung Usia 14 Tahun

Ancam Akan Bunuh, Ayah Cabuli Putri Kandung Usia 14 Tahun

Regional
Kunjungi Pengungsi Angin Kencang, Khofifah Minta Sekolah Darurat Didirikan

Kunjungi Pengungsi Angin Kencang, Khofifah Minta Sekolah Darurat Didirikan

Regional
Sambut Hari Santri, Sivitas Akademika IAIN Jember 3 Hari Pakai Sarung

Sambut Hari Santri, Sivitas Akademika IAIN Jember 3 Hari Pakai Sarung

Regional
Miliki 4 Senjata Api, Katapel, dan Senjata Tajam, Pria di Pontianak Ditangkap

Miliki 4 Senjata Api, Katapel, dan Senjata Tajam, Pria di Pontianak Ditangkap

Regional
Status Normal, Pengelola TWA Tangkuban Parahu Langsung Buka Loket Kunjungan

Status Normal, Pengelola TWA Tangkuban Parahu Langsung Buka Loket Kunjungan

Regional
Polisi Tangkap Dua Lagi Pelaku Penculikan dan Pembunuhan Sales Mobil

Polisi Tangkap Dua Lagi Pelaku Penculikan dan Pembunuhan Sales Mobil

Regional
60 Hektar Kawasan Hutan Gunung Anjasmoro Jombang Terbakar

60 Hektar Kawasan Hutan Gunung Anjasmoro Jombang Terbakar

Regional
Angin Kencang, Sebagian Akses Wisata Dataran Tinggi Dieng Tertutup

Angin Kencang, Sebagian Akses Wisata Dataran Tinggi Dieng Tertutup

Regional
Soal Ibu Kota, Bappenas Pastikan Itu Lahan Negara, Bukan Kesultanan

Soal Ibu Kota, Bappenas Pastikan Itu Lahan Negara, Bukan Kesultanan

Regional
Hendak ke Yogya, Polisi Pulangkan Suporter Persis Kembali ke Solo

Hendak ke Yogya, Polisi Pulangkan Suporter Persis Kembali ke Solo

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X