"Nangkul", Tradisi Tahunan Mencari Ikan Warga Ogan Komering Ilir

Kompas.com - 25/04/2017, 10:38 WIB
Kontributor Ogan Komering Ilir, Amriza Nursatria Sulaiman, salah seorang penangkul tengah mengangkat tangkulnya. Dari 5 hingga 6 jali memasukan tangkul ke dalam air, cuma sekali tangkul itu mendapat ikan

KAYUAGUNG, KOMPAS.com - Di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, ada tradisi tahunan cukup unik dalam mencari ikan, yang di sana disebut “ nangkul”.

Nangkul adalah mencari ikan di sungai atau rawa menggunakan jaring segi empat lebar yang ujung-ujungnya dikaitkan pada batang bambu. Ada juga batang bambu dengan panjang 4 meter yang berfungsi untuk mengangkat jaring dari air seperti pengungkit.

Di sisi jalan Riding-Sepucuk, Kabupaten OKI, yang masih masuk ke Kecamatan Kayuagung Kota, terdapat sejumlah warga yang tengah “nangkul” atau mencari ikan menggunakan alat yang disebut “tangkul”.

Baca juga: Tradisi Mendak Tirta pada Perayaan Hari Raya Nyepi di Boyolali

Nangkul adalah proses memasukkan jaring tangkul ke air sungai, lalu mengangkatnya setelah dirasa ada ikan yang didapat. Ternyata tidak mudah menangkap ikan dengan cara menangkul.

Dari 5 hingga 6 kali tangkul yang dimasukkan ke air paling hanya sekali ikan yang masuk ke dalam jaring, itu pun paling banyak 2 atau 3 ekor ikan terjaring.

Sulaiman, warga Kedaton Kayuagung mengatakan, "nangkul" adalah kegiatan tahunan warga yang dilakukan saat air dalam. Saat air dalam terjadi, ikan berkembang biak dan jumlahnya menjadi banyak.

Saat itulah warga mulai menangkul di sisi sungai dan rawa yang ada di sepanjang jalan Riding-Sepucuk.

Sulaiman mengaku sudah sejak dari pertengahan bulan Maret “menangkul” di lokasi tersebut. Dalam sehari, Sulaiman bisa mendapat 5 hingga 7 kilogram ikan jenis sapil, selincah dan tembakang. Bila beruntung bahkan bisa sampai 15 kilogram dalam satu hari.

Ikan-ikan yang didapat dimasukkan ke wadah dari jaring dan dimasukan ke air agar ikan tetap hidup. Ikan itu dijual kepada warga yang lewat dengan harga Rp 25.000 per kilo untuk ikan ukuran besar dan 20.000 untuk ikan ukuran lebih kecil.

Uang yang didapat dari penjualan ikan itulah digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Kegiatan nangkul beramai-ramai ini biasanya dilakukan setahun sekali pada bulan Oktober hingga Desember, namun beberapa tahun ini sudah berubah, sebab air di dalam sudah mulai di bulan Maret higga April,” katanya.

Sulaiman berharap agar pihak perkebunan kelapa sawit yang lokasinya digunakan warga untuk menangkul tetap membiarkan warga “menangkul” di lokasi yang berada di sisi perkebunan salah satu perusahanan perkebunan sawit itu. Karena selain sudah menjadi tradisi menangkul juga menjadi mata pencarian warga.

“Kami berharap pihak perusahaan perkebunan kelapa sawit yang lokasinya menjadi tempat kami nangkul tidak melarang kami menangkul, selain sudah menjadi teradisi tahunan, menangkul juga dapat menjadi mata pencarian tambahan bagi kami,” katanya.

Baca juga: Tanggomo, Tradisi Lisan Gorontalo yang Makin Sulit Ditemukan

Sementara itu, Fadil, salah seorang pembeli ikan mengatakan, ia sudah beberapa kali membeli ikan langsung dari penangkul. Selain karena harganya lebih murah, ikannya juga besar-besar dan masih segar.

“Lebih murah dan ikan masih segar,” katanya.



Close Ads X