Industri Unggas Tanah Air Masih Bermasalah

Kompas.com - 18/04/2017, 00:10 WIB
KOMPAS.com/Fabian Januarius Kuwado Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meninjau rumah peternakan unggas di Tegineneng, Lampung, Rabu (23/4/2014).

BOGOR, KOMPAS.com - Kondisi industri perunggasan di Indonesia masih mengalami kendala di sejumlah sektor. Diawali dengan semakin mahalnya harga pakan ternak, jatuhnya harga ayam "live bird", serta diikuti jatuhnya harga telur di pasaran.

Ketua Program Studi Pascasarjana Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) Arief Daryanto menjelaskan, industri perunggasan masih dihadapkan pada sejumlah tantangan utama di sepanjang rantai nilainya.

Menurut Arief, fluktuasi kualitas dan harga day old chicken (DOC), harga pakan yang tinggi, bahan baku yang masih ekspor, dan ancaman penyakit terhadap ternak, menjadi salah satu penyebab menurunnya daya saing di sektor ini.

"Persoalan over supply dan ketidakakuratan informasi keseimbangan supply demand yang dimiliki oleh semua pelaku usaha menjadi persoalan yang menghambat perkembangan industri perunggasan. Ditambah berkurangnya daya beli masyarakat akibat ekonomi yang melambat," ucap Arief, Senin (17/4/2017).

Arief menambahkan, agar daya saing perunggasan Indonesia meningkat, perlu dilakukan modernisasi di sepanjang rantai nilai. Modernisasi itu, sambungnya, harus dilakukan dari pakan, kandang, kesehatan, energi, serta pemasaran sampai konsumen akhir. Selain itu, pemanfaatan teknologi juga perlu ditingkatkan.

"70 persen bisnis di industri perunggasan ditentukan oleh biaya pakan. Kalau kita bisa meningkatkan teknologi di bidang ini, tentu kita bisa menjaga kestabilan harga," tuturnya.

Direktur Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Jemmy Wijaya mengatakan, pihaknya sejauh ini sudah melakukan langkah untuk membantu mengatasi problem dalam industri perunggasan. Salah satu contohnya, dengan menurunkan harga pakan, tidak menambah jumlah budidaya ayam petelur, dan mengatur waktu impor indukan ayam.

"Menurut saya, masalah harga sangat bergantung dengan daya beli masyarakat. Jadi kenapa sekarang harganya naik, karena terjadi supply yang sudah menurun," kata Jemmy.

Ia pun menilai, peran perbankan dalam industri unggas tanah air, khususnya bagi peternak rakyat punya andil yang besar. Dirinya melihat, sejauh ini, keterlibatan pihak perbankan masih sangat minim.

"Itu salah satu kendala. Ada KUR, tapi batasnya masih sangat jauh dari yang dibutuhkan peternak," tutur dia.

Jemmy menyarankan, pemerintah segera mengatur skema mengenai keterlibatan perbankan untuk membantu peternak.

"Pemerintah sejauh ini sudah meminta kepada perusahaan-perusahaan ternak unggas untuk memperhatikan peternak ayam di Indonesia. Itu sifatnya kemitraan, bagaimana menggaransi sebuah harga beli," pungkas dia. 



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X