Kompas.com - 24/03/2017, 08:00 WIB
Seluruh jalanan di Pulau Bali sepi pada hari raya Nyepi menyambut tahun baru caka 1937, Sabtu (21/3/2015). Selama 24 jam, umat Hindu Bali melaksanakan ajaran caturbrata (amati geni, amati lelanguan, amati lelungan, dan amati karya). Tidak seorang pun boleh berpergian tanpa seizin pecalang, petugas keamanan adat setempat. Sebuah ogoh-ogoh masih dibiarkan tidak dibakar di pinggir jalan depan Banjar Kancil, Kerobokan, Kabupaten Badung setelah di arak berkeliling desa oleh para pemuda di malam menjelang penyepian. KOMPAS/AYU SULISTYOWATISeluruh jalanan di Pulau Bali sepi pada hari raya Nyepi menyambut tahun baru caka 1937, Sabtu (21/3/2015). Selama 24 jam, umat Hindu Bali melaksanakan ajaran caturbrata (amati geni, amati lelanguan, amati lelungan, dan amati karya). Tidak seorang pun boleh berpergian tanpa seizin pecalang, petugas keamanan adat setempat. Sebuah ogoh-ogoh masih dibiarkan tidak dibakar di pinggir jalan depan Banjar Kancil, Kerobokan, Kabupaten Badung setelah di arak berkeliling desa oleh para pemuda di malam menjelang penyepian.
|
EditorCaroline Damanik

DENPASAR, KOMPAS.com - Umat Hindu akan menjalani Tapa Brata Penyepian pada Selasa, 28 Maret mendatang.

Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Gusti Ngurah Sudiana, secara filosofi Nyepi adalah proses pergantian tahun Caka, dari tahun lama ke tahun yang baru, dari kehidupan "lama" menuju kehidupan "baru".

"Nyepi asal katanya sepi atau hening. Mengajarkan kita mengutamakan hidup dalam suasana damai yang hening dan harmonis," kata Sudiana kepada Kompas.com, Selasa (21/3/2017).

Melalui Nyepi, lanjut dia, manusia mengevaluasi kembali relasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan penciptanya serta manusia dengan alam atau dikenal dengan Trihita Karan, dengan berkontemplasi dan menjalani berbagai pantangan agar mengalami "pemutihan" diri.

Manusia mendapat kesempatan dalam hening melihat kembali kehidupan masa lalu untuk menyongsong masa depan.

Saat Nyepi, manusia menghentikan segala aktivitas rutin sehari-hari. Alam kemudian bebas bergerak sesuai rotasinya tanpa campur tangan manusia.

"Alam akan berotasi dan berproses tanpa campur tangan manusia saat Nyepi, tidak dipaksakan sesuai keinginan manusia. Alam dikembalikan pada kemurnian dan harmonisasi yang alami," kata Sudiana.

Dengan menghentikan seluruh aktivitas, maka akan mengurangi gas karbon yang dibuang ke alam. Sebab saat Nyepi, tidak boleh menghidupkan kendaraan apalagi bepergian. Alam beristirahat, udara bersih maka akan berdampak pada kualitas kehidupan manusia.

"Saat Nyepi, manusia dan semesta sama-sama mencari keseimbangan dan memperbaikinya diri dalam relasinya, sebab jika manusia rusak alam pasti rusak, sebaliknya jika alam rusak pasti manusianya juga rusak. Di sanalah letak keseimbangannya," kata Sudiana.

Pantangan

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terapkan Prokes dan PPKM di Kesawan City Walk, Pemkot Medan Lakukan Ini

Terapkan Prokes dan PPKM di Kesawan City Walk, Pemkot Medan Lakukan Ini

Regional
Ganjar Nilai Sistem Resi Gudang Grobogan Jadi Teladan Nasional, Mengapa?

Ganjar Nilai Sistem Resi Gudang Grobogan Jadi Teladan Nasional, Mengapa?

Regional
Anggap Warga Sudah Teredukasi Covid-19, Pemkab Wonogiri Longgarkan Kegiatan Ekonomi

Anggap Warga Sudah Teredukasi Covid-19, Pemkab Wonogiri Longgarkan Kegiatan Ekonomi

Regional
Diminta Khofifah Desain Masjid di Surabaya, Kang Emil: Alhamdulillah, Jadi Ladang Ibadah

Diminta Khofifah Desain Masjid di Surabaya, Kang Emil: Alhamdulillah, Jadi Ladang Ibadah

Regional
Pulihkan Ekonomi Jabar, Wagub Uu Dorong UMKM Manfaatkan Program Pemerintah

Pulihkan Ekonomi Jabar, Wagub Uu Dorong UMKM Manfaatkan Program Pemerintah

Regional
Mukhtar, Mantan Bomber Kantor Unicef Aceh Kini Jadi Petani Pepaya dan Porang

Mukhtar, Mantan Bomber Kantor Unicef Aceh Kini Jadi Petani Pepaya dan Porang

Regional
Lewat Produk UKM, Ganjar dan Dubes Ceko Diskusikan Sejumlah Potensi Kerja Sama

Lewat Produk UKM, Ganjar dan Dubes Ceko Diskusikan Sejumlah Potensi Kerja Sama

Regional
Serahkan Sertifikasi SNI ke Masker Ateja, Emil Akui Sedang Buat Kain Antivirus

Serahkan Sertifikasi SNI ke Masker Ateja, Emil Akui Sedang Buat Kain Antivirus

Regional
Bongkar Bangunan Bermasalah di Medan, Wali Kota Bobby: Mari Tingkatkan PAD

Bongkar Bangunan Bermasalah di Medan, Wali Kota Bobby: Mari Tingkatkan PAD

Regional
Positif Covid-19, Atalia Praratya Banjir Doa dan Dukungan

Positif Covid-19, Atalia Praratya Banjir Doa dan Dukungan

Regional
Ajak Pelajar Berbagi Selama Ramadhan, Disdik Jabar Gelar Rantang Siswa

Ajak Pelajar Berbagi Selama Ramadhan, Disdik Jabar Gelar Rantang Siswa

Regional
Mudahkan Rancang Perda, Gubernur Ridwan Kamil dan Kemendagri Luncurkan Aplikasi e-Perda

Mudahkan Rancang Perda, Gubernur Ridwan Kamil dan Kemendagri Luncurkan Aplikasi e-Perda

Regional
Kembali Gelar Bubos, Jabar Targetkan 127.000 Warga Dapat Takjil Buka Puasa

Kembali Gelar Bubos, Jabar Targetkan 127.000 Warga Dapat Takjil Buka Puasa

Regional
Jayakan Kembali Kota Lama Kesawan, Walkot Bobby Gandeng BPK2L Semarang

Jayakan Kembali Kota Lama Kesawan, Walkot Bobby Gandeng BPK2L Semarang

Regional
Ketua PWI Sumut Apresiasi Inisiatif Bobby Nasution Ajak Wartawan Berdialog

Ketua PWI Sumut Apresiasi Inisiatif Bobby Nasution Ajak Wartawan Berdialog

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X