Kasus Pembunuhan, 3 Anak Buah Dimas Kanjeng Divonis 20 Tahun Penjara

Kompas.com - 16/03/2017, 19:47 WIB
Rekonstruksi kasus pembunuhan Abdul Gani berlangsung di Padepokan Dimas Kanjeng. Tampak rekonstruksi di depan Kantor asrama putra dengan penjagaan ketat. Ahmad FaisolRekonstruksi kasus pembunuhan Abdul Gani berlangsung di Padepokan Dimas Kanjeng. Tampak rekonstruksi di depan Kantor asrama putra dengan penjagaan ketat.
|
EditorErlangga Djumena

PROBOLINGGO, KOMPAS.com - Empat terdakwa pembunuh bekas Ketua Umum Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi Abdul Gani divonis bersalah dalam sidang putusan di PN Kabupaten Probolinggo, Kamis (16/3/2017).

Keempat terdakwa yang merupakan pengikut Dimas Kanjeng itu adalah Wahyu Wijaya, Wahyudi, Kurniadi dan Ahmad Suryono. Mereka terbukti membunuh Abdul Ghani, warga Kelurahan Semampir, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Vonis dibacakan hakim ketua  Yudistira Alfian.

(Baca: Pembuang Jasad Anak Buah Dimas Kanjeng Serahkan Diri)

Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya hakim menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara untuk Wahyudi, Wahyu Wijaya, dan Kurniadi. Adapun Ahmad Suryono divonis 10 tahun penjara.

"Para terdakwa secara sah dan meyakinkan telah membunuh Abdul Gani," ujar Yudistira.

Dalam persidangan dengan pembacaan vonis itu, terungkap otak pembunuhan adalah Wahyu Wijaya dan Wahyudi. Adapun eksekutornya Kurniadi dengan cara memukulkan pipa besi ke tengkuk korban Abdul Ghani. Gani dibunuh terdakwa di ruangan Gedung Asrama Putra Padepokan.

Mayat korban selanjutnya dimasukkan ke boks plastik dalam kondisi kepala terbungkus plastik. Mayat korban dibuang ke Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah.

Hakim menilai yang memberatkan vonis, seluruh terdakwa tidak mengakui semua perbuatannya telah membunuh korban.

(Baca: Polisi Buru Tiga Anak Buah Dimas Kanjeng)

Mendengarkan putusan hakim, jaksa penuntut umum maupun penasihat hukum langsung mengajukan banding. Menanggapi vonis hakim, Muhamad Usman selaku jaksa mengatakan, hukuman yang dijatuhkan terlalu ringan.

"Seharusnya mininal seumur hidup atau hukuman mati," ujarnya.

Adapun M Sholeh, penasihat hukum keempat terdakwa, juga mengajukan banding. Alasan dia, vonis yang diputuskan majelis hakim tersebut dinilai cacat. 

Baca juga: Tukang Belanja "Benda Ajaib" Dimas Kanjeng Ditetapkan Jadi Tersangka

Kompas TV Kasus penipuan berkedok penggandaan uang yang menjerat Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng memasuki babak baru. Setelah ditangkap pada bulan September 2016, kini Taat Pribadi menjalani sidang di Pengadilan Negeri Probolinggo, Jawa Timur. Selain kasus penggandaan uang, Taat Pribadi ternyata terikat kasus pembunuhan berencana kepada dua orang pengikutnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X