"Uang Panai", Tanda Penghargaan untuk Meminang Gadis Bugis-Makassar - Kompas.com

"Uang Panai", Tanda Penghargaan untuk Meminang Gadis Bugis-Makassar

Kompas.com - 13/03/2017, 08:53 WIB
shutterstock Ilustrasi pernikahan

MAKASSAR, KOMPAS.com - " Uang panai" atau uang belanja untuk pengantin mempelai wanita yang diberikan oleh pengantin pria merupakan tradisi adat suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan.

Uang panai ini sejak dulu berlaku sebagai mahar jika pria ingin melamar wanita idamannya hingga sekarang. Namun, uang panai ini biasanya menjadi beban bagi pria untuk melamar wanita idamannya.

Pasalnya, nilai uang panai sebagai syarat adat untuk membiayai pesta perkawinan untuk pengantin wanita tidaklah sedikit. Nilainya bahkan bisa mencapai miliaran rupiah.

(Baca: Cerita di Balik Layar Kesuksesan Film "Uang Panai")

Uang panai memiliki kelas sesuai dengan strata sang wanita, mulai dari kecantikan, keturunan bangsawan, pendidikan, hingga pekerjaannya.

Pengaruh faktor pendidikan misalnya, jika gadis yang akan dilamar memiliki pendidikan sebagai sarjana strata 1, harga panai akan lebih mahal dari gadis lulusan SMA, sedangkan perempuan lulusan S2 akan jauh lebih mahal dari perempuan lulusan S1.

Sebagai contoh, jika uang panai bagi perempuan lulusan SMA senilai Rp 50 juta, maka uang panai bagi gadis berpendidikan S1 diperkirakan Rp 75 juta hingga Rp 100 juta. Untuk perempuan berketurunan bangsawan, nilai uang panai bisa mencapai miliaran rupiah.

Masih banyak faktor lain yang mempengaruhi nilai uang panai, seperti sang gadis misalnya sudah berhaji atau belum.

Meski demikian, nilai uang panai biasanya masih bisa didiskusikan oleh keluarga kedua calon mempelai.

Mengapa mahal?

Nilai uang panai yang mahal kerap dipertanyakan. Konon zaman dulu, para orangtua ingin melihat keseriusan sang pria dalam melamar anak wanitanya sehingga sang pria betul-betul berusaha mengupayakan uang panai untuk mendapatkan wanita pujaan hatinya.

"Makanya susah untuk mendapatkan orang suku Bugis Makassar, tapi susah pula lepasnya atau bercerai. Dalam artian, tingginya harga panai akan membuat pihak lelaki akan berpikir seribu kali untuk menceraikan istrinya karena ia sudah berkorban banyak untuk mempersunting istrinya. Pada uang panai itulah dilihat kesungguhan sang pria untuk mendapatkan wanita pujaan hatinya," kata Budayawan Sulawesi Selatan Nurhayati Rahman, Sabtu (11/3/2017).

Dosen Universitas Hasanuddin ini mengatakan, uang panai merupakan penghargaan pria kepada sang gadis yang ingin diperistri.

Menurut dia, uang panai menunjukkan dengan jelas bahwa warga Bugis sangat menghargai keberadaan perempuan sebagai makhluk Tuhan yang sangat berharga sehingga tak sembarang orang dapat meminang wanita Bugis.

Kawin lari

Dengan mahalnya uang panai, lanjut Nurhayati, banyak pasangan kekasih yang terkendala ketika hendak menikah. Oleh karena itu, banyak pula yang memilih menentang tradisi dan mengambil jalan pintas dengan kawin lari atau disebut dengan "silariang".

"Bagi orang Bugis Makassar, silariang itu peristiwa yang sangat memalukan karena bersangkut paut dengan malu atau 'siri' atau aib yang menjadi beban keluarga sepanjang hidupnya," tuturnya.

Dalam tradisi Bugis Makassar, lanjut Nurhayati, silariang identik dengan kematian, tetapi mati bukan dalam arti dicari lalu dibunuh. Mati di sini bermakna dipaoppangi tana atau telah ditelungkupi atau ditutup dengan tanah.

"Jadi pelaku dianggap telah mati, tidak ada negosiasi, tidak ada rekonsiliasi, seumur hidup. Bahkan beberapa generasi tidak akan diterima lagi untuk kembali ke keluarganya selamanya dan seterusnya. Biasanya pelaku pergi merantau dan membuang diri dan tidak akan kembali lagi seumur hidup sampai beranak cucu," tuturnya.


EditorCaroline Damanik
Komentar

Terkini Lainnya

Kebijakan Libur Sekolah Saat Asian Games Tunggu Hasil Evaluasi Simulasi Lalu Lintas

Kebijakan Libur Sekolah Saat Asian Games Tunggu Hasil Evaluasi Simulasi Lalu Lintas

Megapolitan
Alat untuk Kurangi Bau Kali Item Akan Dievaluasi Sebelum Dipakai ke Lokasi Lain

Alat untuk Kurangi Bau Kali Item Akan Dievaluasi Sebelum Dipakai ke Lokasi Lain

Megapolitan
KPK Segel Sel di Lapas Sukamiskin karena Tak Ada Penghuninya

KPK Segel Sel di Lapas Sukamiskin karena Tak Ada Penghuninya

Nasional
Roy Suryo: Banyak Anggota DPR Artis Tak Bisa Lepaskan Keartisannya

Roy Suryo: Banyak Anggota DPR Artis Tak Bisa Lepaskan Keartisannya

Nasional
Korban Penipuan Modus Raja Minyak Lapor Polisi, Bawa Bukti 3 CCTV

Korban Penipuan Modus Raja Minyak Lapor Polisi, Bawa Bukti 3 CCTV

Megapolitan
Perludem Ungkap Sejumlah Alasan Perpindahan Kader Partai Jelang Pemilu

Perludem Ungkap Sejumlah Alasan Perpindahan Kader Partai Jelang Pemilu

Nasional
Kalapas Sukamiskin Diamankan KPK, Kakanwil Jabar Bakal Tunjuk Plh

Kalapas Sukamiskin Diamankan KPK, Kakanwil Jabar Bakal Tunjuk Plh

Regional
Penyintas Suku Amazon Ini Hidup Sendirian di Hutan Selama 22 Tahun

Penyintas Suku Amazon Ini Hidup Sendirian di Hutan Selama 22 Tahun

Internasional
Sudirman Said Prihatin Mendengar Kalapas Sukamiskin Terjerat OTT KPK

Sudirman Said Prihatin Mendengar Kalapas Sukamiskin Terjerat OTT KPK

Nasional
Jatuh ke Kolam Penuh Limbah, Seorang Karyawan di Sunter Tewas

Jatuh ke Kolam Penuh Limbah, Seorang Karyawan di Sunter Tewas

Megapolitan
Sudirman Said Yakin Jusuf Kalla Tak Ambisius untuk Bisa Jadi Cawapres

Sudirman Said Yakin Jusuf Kalla Tak Ambisius untuk Bisa Jadi Cawapres

Nasional
OTT di Lapas Sukamiskin, KPK Amankan Penyelenggara Negara dan PNS

OTT di Lapas Sukamiskin, KPK Amankan Penyelenggara Negara dan PNS

Nasional
Video Antrean Pendaki di Puncak Gunung Prau Viral, Ini Kata Pengelola

Video Antrean Pendaki di Puncak Gunung Prau Viral, Ini Kata Pengelola

Regional
Pengajuan JK Jadi Pihak Terkait Uji Materi Syarat Cawapres Dipertanyakan

Pengajuan JK Jadi Pihak Terkait Uji Materi Syarat Cawapres Dipertanyakan

Nasional
Kain Waring Dipasang di Dekat Tempat Makan Atlet

Kain Waring Dipasang di Dekat Tempat Makan Atlet

Megapolitan

Close Ads X