Misteri Keberadaan Macan Tutul di Hutan Merapi

Kompas.com - 28/02/2017, 13:39 WIB
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam oleh kamera jebakan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat, 1 November 2012. CIFORMacan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam oleh kamera jebakan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat, 1 November 2012.
|
EditorErlangga Djumena

SLEMAN, KOMPAS.com — Keberadaan satwa macan tutul di hutan Merapi seakan masih menjadi misteri. Berbagai usaha, seperti memasang kamera trap, tak membuahkan hasil mendeteksi keberadaannya.

Pada tahun 2015, petugas Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) secara tidak sengaja melihat langsung satwa dengan nama latin Panthera pardus melas ini masih ada di kawasan hutan Merapi.

"Perjumpaan langsung pernah sekali, tahun 2015 lalu oleh petugas TNGM, di sisi antara Klaten dan Boyolali, tetapi sayang saat itu tidak sempat difoto," ujar Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Balai TNGM, Iskandar, saat ditemui Kompas.com, Senin (27/2/2017).

Lokasi perjumpaan dengan macan tutul tersebut berada di kawasan hutan sisi timur, yang cenderung tidak terdampak erupsi Gunung Merapi. Tepatnya di antara Klaten dan Boyolali.

Dari laporan itu, Balai TNGM mencoba mendeteksi keberadaan macan tutul dengan memasang kamera trap. Hanya saja, sampai saat ini kamera trap yang dipasang belum berhasil merekam keberadaan macan tutul.

"Kita pasang tujuh kamera trap, Selama setahun terakhir, ada empat kali kegiatan, tetapi belum berhasil. Mungkin penempatan posisinya belum tepat," ucapnya.

Namun, memang diakuinya saat melakukan penelusuran di kawasan hutan Merapi, petugas beberapa kali menemukan adanya tanda-tanda keberadaan macan tutul. Tanda-tanda itu seperti cakaran di batang pohon dan jejak macan tutul.

"Selama ini, kami hanya menemukan tanda-tandanya, cakaran di pohon dan jejak macan tutul. Tetapi, memang kami belum punya bukti fotonya," katanya.

Menurut dia, para aktivis satwa dan LSM menyampaikan mengenai keberadaan macan tutul di hutan Merapi. Data itu pasca-kejadian erupsi pada 2010 lalu.

"Kami hanya komunikasi personal dan belum melihat datanya. Namun, mereka bilang masih ada dan harus terus dicari untuk perlindungan habitat," kata Iskandar.

Iskandar menyampaikan, permasalahan kepunahan maupun berkurangnya populasi di mana pun masalah utamanya paling dominan adalah gangguan manusia. Kerusakan habitat di Jawa khususnya, itu sudah sangat besar. Belum lagi ditambah tren perburuan liar.

"Perburuan, misalnya, menggunakan senapan angin, kalau di dalam kawasan kami masih bisa tangani, tetapi kalau di luar kami tidak bisa," urainya.

Sementara itu, Putu Dhian, Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan, TNGM, menambahkan, guna mendeteksi dan memastikan keberadaan macan tutul di kawasan hutan Merapi, pihaknya masih akan memasang kamera trap.

"Beberapa bulan sekali, kami tetap akan memasang kamera trap di beberapa lokasi yang dicurigai tempat aktivitas macan tutul," katanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X