Wajah Cihampelas, dari Kolam Renang Khusus Belanda, Patung Superman, hingga "Skywalk"

Kompas.com - 10/02/2017, 07:00 WIB
Jembatan layang khusus pejalan kaki dan pedagang kaki lima yang bernama Teras Cihampelas dibangun di atas Jalan Cihampelas, Bandung, Jawa Barat, dan mulai digunakan Rabu (1/2/2017). Jembatan setinggi 4,6 meter, lebar 9 meter, dan panjang 450 meter di atas jalan raya ini merupakan solusi penataan pedagang kaki lima di tengah sulitnya mencari lahan. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOJembatan layang khusus pejalan kaki dan pedagang kaki lima yang bernama Teras Cihampelas dibangun di atas Jalan Cihampelas, Bandung, Jawa Barat, dan mulai digunakan Rabu (1/2/2017). Jembatan setinggi 4,6 meter, lebar 9 meter, dan panjang 450 meter di atas jalan raya ini merupakan solusi penataan pedagang kaki lima di tengah sulitnya mencari lahan.
|
EditorCaroline Damanik

BANDUNG, KOMPAS.com – Cihampelas menjadi salah satu tujuan para pelancong di Kota Bandung. Letaknya yang strategis, kawasannya yang adem, berbagai produk, menjadi surga belanja dan jalan-jalan.

Namun tidak semua orang tahu, sejarah jalan Cihampelas. Her Suganda dalam bukunya "Jendela Bandung" mengatakan, dulu, Cihampelas merupakan tempat hunian yang nyaman. Daerahnya tenang, udaranya segar.

Menurut cerita, jalan tersebut dinamakan Cihampelas karena di sana banyak terdapat pohon hampelas. Nama pohon itu diambil karena salah satu sisi daunnya kasar sehingga menyerupai kertas ampelas yang biasa digunakan untuk memperhalus permukaan kayu atau benda lainnya.

Pohon hampelas tumbuh berkelompok di tempat yang memiliki mata air. Namun pada tahun 1898, air yang melimpah di sana dijadikan sumber air kolam renang yang kemudian dinamakan Europa Zwembad.

Europa Zwembad yang kemudian bernama “Pemandian Tjihampelas” atau kolam renang Cihampelas, merupakan salah satu kolam renang tertua di Kota Bandung. Tempat itu sangat eksklusif karena hanya diperuntukkan bagi bangsa Belanda dan Eropa lainnya.

Sementara penduduk pribumi, sambung Her, jangankan mandi, masuk saja tidak boleh. Mereka dianggap nista dan disamakan dengan binatang. Terbukti dengan papan peringatan: “Anjing dan pribumi dilarang masuk!”. Baru setelah Belanda kalah bertekuk lutut pada Jepang, pengumuman itu tidak ada lagi.

Dalam perkembangannya, kolam renang Cihampelas tinggal kenangan. Bangunan tersebut rata dengan tanah digantikan dengan gedung milik perorangan. Meski sempat diwarnai protes, pembangunan gedung tersebut tetap terjadi.

Sentra penjualan jins

KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Kepadatan kendaraan dii kawasan perbelanjaan di Jalan Cihampelas, Bandung, Senin (20/7/2015). Libur lebaran dimanfaatkan wisatawan dan warga Bandung untuk berlibur dan berbelanja.
Pada akhir tahun 80-an, satu per satu rumah tinggal di kawasan ini berpindah tangan. Hingga suatu hari, berdirilah sebuah toko. Toko ini dikunjungi banyak orang yang berbelanja. Reaksi positif tersebut membuat satu per satu rumah tinggal berubah menjadi toko atau dialihfungsikan menjadi komersial.

Sementara itu, pada tahun 1990-an, kawasan Cihampelas menjadi pusat penjualan jeans. Warga Bandung mengenalnya dengan “Raja Jeans”. Untuk menarik minat pembeli, pengelola toko di Cihampelas berlomba-lomba menciptakan ikon. Salah satunya dengan beragam patung super hero.

Halaman:
Baca tentang


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Muncul Klaster Penularan Covid-19 dari Satu Desa di Kulon Progo

Muncul Klaster Penularan Covid-19 dari Satu Desa di Kulon Progo

Regional
16 Pegawai BPOM Ambon Sembuh dari Covid-19, Sudah Ada yang Kembali Bekerja

16 Pegawai BPOM Ambon Sembuh dari Covid-19, Sudah Ada yang Kembali Bekerja

Regional
Mengeluh Lemas dan Tidak Nafsu Makan, Nenek Ini Ternyata Positif Covid-19

Mengeluh Lemas dan Tidak Nafsu Makan, Nenek Ini Ternyata Positif Covid-19

Regional
Cegah Krisis Pangan akibat Pandemi, Anak Muda Semarang Mulai Bertani

Cegah Krisis Pangan akibat Pandemi, Anak Muda Semarang Mulai Bertani

Regional
Proyek Tol Cisumdawu Molor karena Pembebasan Lahan, Ini Keinginan Pemilik Tanah

Proyek Tol Cisumdawu Molor karena Pembebasan Lahan, Ini Keinginan Pemilik Tanah

Regional
Keluarga Minta Pelaku Pembunuhan Staf KPU Yahukimo Dihukum Setimpal

Keluarga Minta Pelaku Pembunuhan Staf KPU Yahukimo Dihukum Setimpal

Regional
Munculkan 12 Kasus Covid-19, RS SMC Jadi Klaster Baru di Samarinda

Munculkan 12 Kasus Covid-19, RS SMC Jadi Klaster Baru di Samarinda

Regional
Staf KPU yang Tewas di Yahukimo Dikenal Idealis, Punya Mimpi Tulis Buku

Staf KPU yang Tewas di Yahukimo Dikenal Idealis, Punya Mimpi Tulis Buku

Regional
Cekcok Mulut, Residivis Pembunuhan Ini Tikam Ayah Kandung hingga Tewas

Cekcok Mulut, Residivis Pembunuhan Ini Tikam Ayah Kandung hingga Tewas

Regional
Genangan 50 Cm Surut, Tol Padaleunyi KM 130 Dapat Dilalui Kembali

Genangan 50 Cm Surut, Tol Padaleunyi KM 130 Dapat Dilalui Kembali

Regional
Jerinx Jadi Tersangka Kasus 'Kacung WHO', Ini Tanggapan IDI Wilayah Bali

Jerinx Jadi Tersangka Kasus "Kacung WHO", Ini Tanggapan IDI Wilayah Bali

Regional
Abaikan Protokol Kesehatan Saat Datangi Hajatan, 3 Warga Ini Terinfeksi Covid-19

Abaikan Protokol Kesehatan Saat Datangi Hajatan, 3 Warga Ini Terinfeksi Covid-19

Regional
Sudah 2 Kepala Dinas di Banjar Kalsel Meninggal Dunia Setelah Terinfeksi Covid-19

Sudah 2 Kepala Dinas di Banjar Kalsel Meninggal Dunia Setelah Terinfeksi Covid-19

Regional
Kesulitan Internet, Guru dan Siswa Gunakan HT untuk Pembelajaran Jarak Jauh

Kesulitan Internet, Guru dan Siswa Gunakan HT untuk Pembelajaran Jarak Jauh

Regional
65 Tenaga Kesehatan RSUD dr Soedono Madiun di Swab, Dua Positif Covid-19

65 Tenaga Kesehatan RSUD dr Soedono Madiun di Swab, Dua Positif Covid-19

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X