Kompas.com - 31/01/2017, 22:12 WIB
Para petani yang sedang bercocok tanam cabai di Desa Bagusan, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Pasca anjloknya harga tembakau lokal, banyak petani tembakau di Temanggung yang mengalihfungsikan lahannya untuk bercocok tanam tanaman lainnya, seperti sayur maupun cabai. Kompas.com/Alsadad RudiPara petani yang sedang bercocok tanam cabai di Desa Bagusan, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Pasca anjloknya harga tembakau lokal, banyak petani tembakau di Temanggung yang mengalihfungsikan lahannya untuk bercocok tanam tanaman lainnya, seperti sayur maupun cabai.
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorIndra Akuntono


TEMANGGUNG, KOMPAS.com –
Seorang warga Temanggung, Jawa tengah, sebut saja bernama S, sudah bertahun-tahun menjadi tengkulak tembakau. S yang merupakan warga Kecamatan Ngadirejo dikenal sebagai tengkulak tembakau di Kecamatan Parakan.

Dia memiliki rumah yang bisa dikategorikan mewah di desanya. Rumah itu memiliki dua lantai berkeramik dengan pekarangan luas dan dipagar tembok. 

S juga memiliki sebuah gudang penyimpanan tembakau. Namun karena sedang tidak musim panen, tak ada tembakau yang disimpan di sana.

Saat ditemui, S menjelaskan mengenai harga tembakau di Temanggung yang mulai menurun sejak 2012. Turunnya harga tembakau itu juga dikeluhkan para petani tembakau di Temanggung.

Bahkan sampai ada petani tembakau yang beralih menanam sayur karena lebih menjanjikan dan proses tata niaga yang lebih terbuka.

Berdasarkan penjelasan yang diperoleh S dari pihak pabrik, dalam beberapa tahun terakhir banyak tembakau berkualitas baik yang dicampur dengan tembakau kualitas rendah, atau tembakau yang grade-nya di bawah standar yang diinginkan pabrik.

"Tembakaunya dipalsuin sama yang bosok-bosokan (kualitas rendah) itu lho," ujar pria berusia sekitar 60-an tahun itu, saat ditemui di rumahnya, Minggu (25/12/2016).

(Baca: Romantika Petani Tembakau di Temanggung)

Menurut S, dicampurnya tembakau kualitas baik dengan kualitas rendah tidak pernah terjadi sebelum 2011. Dia menengarai praktik itu terjadi karena lemahnya aturan kepemilikan kartu tanda anggota (KTA) dari pabrik dan celahnya dimanfaatkan petani nakal.

S menjelaskan, awalnya para tengkulak merupakan orang-orang yang dipercaya pabrik untuk mengumpulkan tembakau dari petani. Kepercayaan itu ditandai dengan diberikannya KTA dari pabrik kepada tengkulak.

Masalah mulai terjadi ketika pemilik KTA meninggal dunia. Secara otomatis KTA-nya itu beralih ke keluarganya, meski penerus pemegang KTA itu tak mengusai pertembakauan.

Lebih jauh, KTA itu disewakan ke orang lain dengan kompensasi bagi hasil. Para penyewa KTA yang notabene bukan orang yang dipercaya pabrik ini kerap mengubah harga tembakau.

S menuturkan, tembakau kualitas rendah biasanya hanya dihargai Rp 10.000 per kilogram, sedangkan tembakau kualitas baik, dengan grade yang diinginkan pabrik, dihargai minimal Rp 100.000. 

"Kalau dicampur, kan udah untung Rp 90.000 (per kilogram)," ujar dia.

S menilai sudah seharusnya pihak pabrik mengubah sistem kepemilikan KTA. Dia berharap pemilik KTA benar-benar orang yang menguasai tembakau dan berpihak pada kepentingan petani.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Regional
Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Regional
Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Regional
Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Regional
KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

Regional
Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Regional
Genjot Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Optimistis Capai Target

Genjot Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Optimistis Capai Target

Regional
Bertemu DPP GAMKI, Bobby Nasution Didaulat Sebagai Tokoh Pembaharu

Bertemu DPP GAMKI, Bobby Nasution Didaulat Sebagai Tokoh Pembaharu

Regional
Cegah Stunting di Jabar, Kang Emil Paparkan Program “Omaba”

Cegah Stunting di Jabar, Kang Emil Paparkan Program “Omaba”

Regional
Hadapi Digitalisasi Keuangan, Pemprov Jabar Minta UMKM Tingkatkan Literasi Keuangan

Hadapi Digitalisasi Keuangan, Pemprov Jabar Minta UMKM Tingkatkan Literasi Keuangan

Regional
Resmikan SLB Negeri 1 Demak, Ganjar Berharap Tenaga Pendidikan Bantu Siswa Jadi Mandiri

Resmikan SLB Negeri 1 Demak, Ganjar Berharap Tenaga Pendidikan Bantu Siswa Jadi Mandiri

Regional
Jabar Quick Response Bantu Warga Ubah Gubuk Reyot Jadi Rumah Layak Huni

Jabar Quick Response Bantu Warga Ubah Gubuk Reyot Jadi Rumah Layak Huni

Regional
PPKM Diperpanjang, Ridwan Kamil Minta Warga Jabar Lakukan Ini

PPKM Diperpanjang, Ridwan Kamil Minta Warga Jabar Lakukan Ini

Regional
Baru Diresmikan, Jembatan Gantung Simpay Asih Diharapkan Jadi Penghubung Ekonomi Warga Desa

Baru Diresmikan, Jembatan Gantung Simpay Asih Diharapkan Jadi Penghubung Ekonomi Warga Desa

Regional
Disdik Jabar Kembali Izinkan Siswa Gelar Studi Wisata, asalkan...

Disdik Jabar Kembali Izinkan Siswa Gelar Studi Wisata, asalkan...

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.