Kompas.com - 22/01/2017, 14:54 WIB
Menderita gangguan jiwa empat anggota keluarga di pasuang terpisah di Mamasa sulawesi barat, KOMPAS.ComMenderita gangguan jiwa empat anggota keluarga di pasuang terpisah di Mamasa sulawesi barat,
|
EditorCaroline Damanik

MAMASA, KOMPAS.com - Keluarga Bodo’ Pole di Mamasa, Sulawesi Barat, hidup memprihatinkan di tengah hutan.

Empat anaknya menderita gangguan jiwa. Tara (27) dan adiknya, Limbong (20), sudah hampir lima tahun terakhir dipasung keluarganya secara terpisah di Desa Paladan, Kecamatan Sesena Padang, Mamasa.

Dua anaknya yang lain yang juga menderita gejala gangguan jiwa kini hidup terpisah dan tinggal di keluarga lainnya.

Dari pantauan, Minggu (22/1/2017), Tara dipasung di rumahnya. Adiknya, Limbong, dipasung terpisah di sebuh gubuk mirrp kandang kambing berukuran 1,3 x 0,80 meter persegi di samping rumahnya.

Kedua korban bersaudara ini tercatat tamat SD sejak beberapa tahun lalu namun tak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi karena alasan keluarga yang tak mampu membiayai.

Keluarga mengaku terpaksa memasung Tara dan Limbong karena keduanya dinilai kerap mengamuk dan mengancam keselamatan orang lain, lalu bepergian jauh hingga menghilang dari rumah.

Belum diketahui pasti penyebab bahwa empat anggota keluarga ini mengalami gangguan jiwa.

Jualan rumput kering

 

Bodo’ Pole, sang ibu yang sudah berusia 80 tahun berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan berjualan rerumputan yang dikenal warga Mamasa dengan nama Seong. Rumput kering ini dijual dengan harga bervariasi hingga Rp 5.000 per kilogramnya. Selain itu, nenek Bodo juga menjual sayur mayur milik petani pada saat hari pasar.

Di rumah peninggalan suami Bodo’ ini tak ada fasilitas istimewa. Hanya ada sejumlah piring, periuk dan panci tua berserakan di lantai rumahnya. Di tempat inilah Bodo’ hidup bersama putrinya Tara (27) yang dipasung. Bodo’ mengaku sedih dengan kondisi hidupnya.

“Saya cuma jualan rumput kering, biasa juga jualan sayur milik petani saat hari pasar. Tapi saya sudah tua dan tidak mampu lagi bekerja keras, tapi apa boleh buat tak ada yang bisa diharapkan,” ujar Bodo.

Bodo’ yang hanya fasih berbahasa Mamasa mengaku kerap mengutang ke sanak tetangga kampung di desanya jika persediaan beras di rumahnya tak ada lagi yang bisa dimasak unutk keluarganya.

Bodo’ mengaku kerap sakit-sakitan dan lututnya nyeri karena faktor usia, namun karena tak ada tulang punggung keluarga Bodo’ tetap terpaksa bekerja untuk menghidupi keluarganya.

Tak tersentuh bantuan

Meski sudah puluhan tahun bermukim di hutan Mamasa, keluarga Bodo’ tidak memiliki dokumen kependudukan yang sah. Mereka mengaku tidak bisa mengurus dokumen kependudukan karena kondisi kesehatan anggota keluarga masing-masing.

Keluarga dekat Bodo’ yang juga Kepala Desa Paladan, Marten, mengaku sudah menyampaikan kondisi kehidupan keluarga Bodo’ kepada aparat pemerintah daerah setempat namun hingga kini, tak ada perhatian.

Jangankan memberi bantuan sosial dan perawatan kepada keluarga Bodo', menurut Marten, petugas dinas sosial atau dinas kesehatan setempat tak pernah datang menjenguk.

“Saya sudah adukan kasus ini ke berbagai intansi pemerintah terkait, tetapi responsnya hingga kini belum ada. Padahal mereka sangat butuh uluran tangan pemerintah,” ujar Marten.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Regional
Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Regional
Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Regional
Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Regional
KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

Regional
Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Regional
Genjot Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Optimistis Capai Target

Genjot Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Optimistis Capai Target

Regional
Bertemu DPP GAMKI, Bobby Nasution Didaulat Sebagai Tokoh Pembaharu

Bertemu DPP GAMKI, Bobby Nasution Didaulat Sebagai Tokoh Pembaharu

Regional
Cegah Stunting di Jabar, Kang Emil Paparkan Program “Omaba”

Cegah Stunting di Jabar, Kang Emil Paparkan Program “Omaba”

Regional
Hadapi Digitalisasi Keuangan, Pemprov Jabar Minta UMKM Tingkatkan Literasi Keuangan

Hadapi Digitalisasi Keuangan, Pemprov Jabar Minta UMKM Tingkatkan Literasi Keuangan

Regional
Resmikan SLB Negeri 1 Demak, Ganjar Berharap Tenaga Pendidikan Bantu Siswa Jadi Mandiri

Resmikan SLB Negeri 1 Demak, Ganjar Berharap Tenaga Pendidikan Bantu Siswa Jadi Mandiri

Regional
Jabar Quick Response Bantu Warga Ubah Gubuk Reyot Jadi Rumah Layak Huni

Jabar Quick Response Bantu Warga Ubah Gubuk Reyot Jadi Rumah Layak Huni

Regional
PPKM Diperpanjang, Ridwan Kamil Minta Warga Jabar Lakukan Ini

PPKM Diperpanjang, Ridwan Kamil Minta Warga Jabar Lakukan Ini

Regional
Baru Diresmikan, Jembatan Gantung Simpay Asih Diharapkan Jadi Penghubung Ekonomi Warga Desa

Baru Diresmikan, Jembatan Gantung Simpay Asih Diharapkan Jadi Penghubung Ekonomi Warga Desa

Regional
Disdik Jabar Kembali Izinkan Siswa Gelar Studi Wisata, asalkan...

Disdik Jabar Kembali Izinkan Siswa Gelar Studi Wisata, asalkan...

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.