Kisah Tatik Sang Perias Jenazah

Kompas.com - 13/01/2017, 15:33 WIB
Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati Tatik Winarsij, nenek yang berprofesi sebagai perias jenasah di Banyuwangi

BANYUWANGI,KOMPAS.com - Tidak banyak yang memilih profesi seperti yang dilakoni oleh Tatik Winarsih (58), warga Jalan Ikan Kerapu Lingkungan Karanganom Kecamatan Banyuwangi.

Sejak tiga tahun terakhir, ibu empat anak tersebut menjadi perias jenazah di rumah duka persemayaman Yayasan Mitra Abadi Banyuwangi.

Kepada Kompas.com Jumat (13/1/2017), Tatik bercerita, pertama kali diajak memandikan jenazah oleh kerabatnya yang terlebih dahulu bekerja di persemayaman.

"Saya ditawari, terus diajak. Saat saya tanya apa syaratnya katanya yang penting harus berani. Ya sudah saya mau aja," kata Tatik.


Saat pertama kali melakoninya, ia harus memandikan jenazah yang kondisi matanya terbuka. Ia mengaku butuh keberanian lebih untuk memandikan jenazah dan selalu memulainya dengan berdoa.

"Sekarang saya sudah terbiasa. Bahkan kalau mandi jenazahnya saya gendong langsung dibantu dengan teman. Saya bersihkan di sela-sela kulitnya. Kalau ada luka saya siram pakai air," katanya.

Tatik mengaku selain memandikan jenazah, dia juga diminta untuk merias jenazah yang akan disemayamkan.

Saat merias, Tatik selalu menyebut nama lengkap jenazah yang akan ia rias untuk meminta izin. "Biasanya saya bilang. Sekarang kan mau pulang, saya minta izin untuk merias wajahnya ya. Gitu sambil nyebut namanya," kata Tatik.

Untuk alat rias dan make-up, Tatik menggunakan alat yang sudah disediakan pihak yayasan. Terkadang pihak keluarga juga sudah menyediakan alat riasyang biasa digunakan oleh jenazah saat masih hidup.

"Saya ini nggak pernah kursus kecantikan. Paling ya hanya make-up sederhana seperti bedak, perona mata, perona pipi dan lipstik. Ada yang minta tipis-tipis saja karena dulu jenasah saat masih hidup jarang make-up," ujar Tatik.

Tidak jarang Tatik harus mengurusi jenazah saat tengah malam atau pun dini hari. Jam berapa pun dihubungi oleh pihak yayasan untuk memandikan dan merias jenazah, dia akan berangkat ke yayasan yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya.

"Mau jam 1 malam atau jam 3 dini hari saya pasti berangkat. Semacam panggilan jiwa," ungkapnya.

Selama menjalani profesi sebagai perias jenazah, Tatik mengaku tidak pernah mengalami peristiwa mistis seperti yang sering dipertanyakan oleh orang-orang lain.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorErlangga Djumena
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X