Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 07/01/2017, 15:57 WIB
|
EditorFarid Assifa

MAGELANG, KOMPAS.com - Harga cabai yang merangkak naik sebulan terakhir tidak serta merta membuat para petani senang. Sebab, harga yang tinggi ternyata tidak menjamin mereka mendapat untung yang lebih besar pula.

Nur Waluyo (44), petani asal lereng Gunung Merapi, Desa Polengan, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, mengatakan, meski harga tinggi, namun tidak sebanding dengan jumlah produksi cabai di lahan pertanian mereka.

"Harga cabai mahal tapi tidak serta merta kami (petani) senang. Harga di pasaran Rp 60.000 - 80.000 per kilogram, tapi produksi cabai sangat rendah. Kalau pun untung tipis sekali," kata Nur.

Baca juga: Di Raja Ampat, Harga Cabai Rawit Rp 200.000 Per Kg

Nur berujar, dalam satu batang pohon saat ini rata-rata hanya mampu menghasilkan 0,3 kilogram cabai. Padahal idealnya, satu pohon harus menghasilkan sekitar 0,5 - 1 kilogram cabai.

Kondisi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya karena faktor anomali cuaca yang tidak menentu belakangan ini.

"Curah hujan yang tinggi, lalu angin, itu berpengaruh dengan kondisi tanaman. Ada yang busuk, ada yang terserang hama, virus, dan sebagainya," kata Nur.

Tidak hanya itu, tanaman cabai termasuk tanaman yang membutuhkan modal dan biaya perawatan yang tidak sedikit. Untuk menaman cabai, petani harus membeli musa (plastik) penutup tanah yang harganya sekitar Rp 37.000 per kilogram. Padahal, untuk lahan 1.000 meter persegi setidaknya membutuhkan sekitar 20 kilogram musa.

Lalu lanjaran (batang kayu) yang harganya sekitar Rp 675 per batang, pupuk dasar, serta ongkos tenaga mencangkul rata-rata Rp 1 juta.

"Totalnya untuk modal tanam cabai rata-rata sekitar Rp 7 juta. Tapi kalau hujan terus hasil panen akan rendah, 5-10 kali panen. Normalnya bisa panen 20 kali," ungkapnya.

Di Desa Polengan sendiri ada sekitar 3-5 hektar lahan yang ditanami cabai. Sebagian besar kondisi tanaman tidak baik, ada yang membusuk, ada juga yang terserang hama.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bone Bolango Jadi Kabupaten Panutan, Hamim Pou: Kami di Sini Serba Efisien

Bone Bolango Jadi Kabupaten Panutan, Hamim Pou: Kami di Sini Serba Efisien

Regional
Rahasia Satu Abad NU

Rahasia Satu Abad NU

Regional
Menteri ATR/BPN Sebut Program PTSL Kota Semarang Terbaik di Indonesia, Walkot Ita Beberkan Rahasianya

Menteri ATR/BPN Sebut Program PTSL Kota Semarang Terbaik di Indonesia, Walkot Ita Beberkan Rahasianya

Regional
Gerakan Memasang Tanda Batas Dinilai Penting untuk Hindarkan Masyarakat dari Konflik Tanah

Gerakan Memasang Tanda Batas Dinilai Penting untuk Hindarkan Masyarakat dari Konflik Tanah

Regional
Ganjar Terlibat Langsung Susun RPD dan RKPD, Bappenas Berikan Apresiasi

Ganjar Terlibat Langsung Susun RPD dan RKPD, Bappenas Berikan Apresiasi

Regional
Pembangunan Stasiun Pemancar di Maluku Barat Daya Telah Capai 80 Titik Lokasi

Pembangunan Stasiun Pemancar di Maluku Barat Daya Telah Capai 80 Titik Lokasi

Regional
Fajar Sadboy dan Cermin Buram Masyarakat Indonesia

Fajar Sadboy dan Cermin Buram Masyarakat Indonesia

Regional
Dukung Pelestarian Tenun Bali di Jembrana, Jokowi: Ini Dorong Industri Kreatif Budaya Lokal

Dukung Pelestarian Tenun Bali di Jembrana, Jokowi: Ini Dorong Industri Kreatif Budaya Lokal

Regional
Pemkot Semarang dan KPK Ingatkan OPD untuk Kelola PAD secara Tepat dan Maksimal

Pemkot Semarang dan KPK Ingatkan OPD untuk Kelola PAD secara Tepat dan Maksimal

Regional
Respons Banjir Dinar Indah, Walkot Semarang Rencanakan Penghijauan dan Relokasi Permukiman

Respons Banjir Dinar Indah, Walkot Semarang Rencanakan Penghijauan dan Relokasi Permukiman

Regional
Sosialisasikan Prolegnas RUU Prioritas 2023 di Kalteng, Baleg DPR Terima Lebih dari 9 Masukan

Sosialisasikan Prolegnas RUU Prioritas 2023 di Kalteng, Baleg DPR Terima Lebih dari 9 Masukan

Regional
DMC Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor di Manado

DMC Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor di Manado

Regional
Hadiri Rapimnas Fornas, Bupati Zairullah Paparkan Rencana Pembangunan Istana Anak Yatim

Hadiri Rapimnas Fornas, Bupati Zairullah Paparkan Rencana Pembangunan Istana Anak Yatim

Regional
Lokasi Vaksin Booster Kedua di Rumah Sakit Jakarta

Lokasi Vaksin Booster Kedua di Rumah Sakit Jakarta

Regional
Terima Penyandang Disabilitas Klaten, Ganjar: Ini Kejutan Karena Mereka Bawa Motor Modifikasi Sendiri

Terima Penyandang Disabilitas Klaten, Ganjar: Ini Kejutan Karena Mereka Bawa Motor Modifikasi Sendiri

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.