Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika TNI AD Reka Ulang Pertempuran Ambarawa di Semarang

Kompas.com - 15/12/2016, 21:10 WIB
Kontributor Ungaran, Syahrul Munir

Penulis

AMBARAWA, KOMPAS.com - Hari ini, 15 Desember 2016 adalah Hari Juang Kartika atau Hari Jadi TNI Angkatan Darat.

Peringatan Hari Juang Kartika atau dulu disebut Hari Infanteri ini bertolak dari peristiwa Palagan Ambarawa, yakni pertempuran antara Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bersama rakyat Ambarawa melawan pasukan Sekutu yang diboncengi NICA pada 12 Desember 1945.

Peristiwa ini menjadi penting bagi sejarah militer Indonesia lantaran kemenangan TKR atas sekutu ini merupakan kemenangan pertama institusi militer Indonesia pasca-kemerdekaan.

Suasana heroik pertempuran Palagan Ambarawa ini kembali dihadirkan dalam peringatan Hari Juang Kartika 2016 di Lapangan Pangsar Jenderal Sudirman, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Kamis (15/12/2016).

Pertunjukan dimulai dari tentara sekutu mendarat di Semarang pada tanggal 20 oktober 1945 di bawah pimpinan Brigjen Bethel. Namun kehadiran sekutu yang diboncengi NICA, yang awalnya bertujuan melucuti tentara Jepang, ternyata membebaskan tawanan tentara Belanda dan mempersenjatainya.

Ketegangan demi ketegangan kemudian terjadi ketika tawanan Belanda bertindak sombong, serta mengabaikan kedaulatan pemerintah dengan terang-terangan berusaha untuk menduduki kembali Indonesia.

Pada tanggal 11 Desember 1945, Panglima Besar Jenderal Soedirman yang kala itu masih berpangkal kolonel mengadakan rapat dengan para Komandan Sektor TKR dan Laskar. Kehadiran Soedirman ke Ambarawa bertujuan membangkitkan semangat TKR dan rakyat setelah gugurnya Letkol Isdiman pada pertempuran sebelumnya.

Pada tanggal 12 Desember 1945 jam 04.00 WIB, pertempuran di Ambarawa berkobar. Serangan dilakukan serentak dan mendadak dari semua sektor secara berlapis. Taktik ini disebut oleh Soedirman sebagai taktik Supit Urang atau taktik mengunci atau mengurung lawan.

Akibat dari serangan ini, pasukan sekutu benar-benar terkunci lantaran suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya di Semarang putus sama sekali.

Setelah bertempur selama empat hari, pada tanggal 15 Desember 1945, akhirnya sekutu mundur ke Semarang, dan Ambarawa benar- benar bisa direbut kembali.

Memukau

Peristiwa Palagan Ambarawa yang ditampilkan dalam Hari Juang Kartika ini banyak menuai pujian para penonton.

Efek suara, properti serta penghayatan para pemainnya seolah membawa pada suasana perang yang sesungguhnya.

Beberapa kali ledakan bom meriam terdengar di tengah adegan pertempuran, suaranya menggelegar dan menggetarkan.

Lalu letusan senapan, asap di mana-mana dan bahkan pesawat terbang militer sekutu juga ditampilkan di atas udara Lapangan Pangsar Sudirman, sehingga suasana dramatis dan heroik ini benar-benar dirasakan para penonton.

"Bagian yang paling dramatis bagi saya adalah ketika Kolonel Isdiman gugur dalam pertempuran. Saat tubuhnya diangkat, rakyat menangis lalu terdengar lagu Gugur Bunga, itulah bagian yang sangat emosional bagi saya," kata Dewi, salah satu penonton,

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono saat menyampaikan amanat pada upacara Hari Juang Kartika 2016 mengakatakan, hati juang Kartika pada hakikatnya dilandasi oleh peristiwa bersejarah penting dalam mempertahankan Kemerdekaan 71 tahun silam di Kota Ambarawa.

Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Palagan Ambarawa ini telah membawa dampak politik secara internasional dan menjadi momentum penting untuk menunjukkan ekistensi TNI AD sebagai penjaga tegak kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Penyelenggaran ini merupakan sarana untuk instrospeksi diri dan salah satu bentuk pertanggungjawaban TNI AD kepada rakyat atas pembangunan kekuatan yang telah dilaksanakan," kata Kasad.

Selain drama kolosal, peringatan Hari Juang Kartika ini juga dimeriahkan dengan aksi terjun payung militer oleh 21 penerjun TNI AD yang dilepaskan dari helikopter MI 17.

Tak hanya itu, helikopter-helikopter milik korps penerbangan Angkatan Darat juga melakukan atraksi fly pass di langit Ambarawa.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com