Kompas.com - 08/11/2016, 12:34 WIB
Kawasan Kota Lama masih meninggalkan jejak keindahan bangunan masa lalu di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/6/2014). Kemegahan Kota Lama yang dulu metropolis meredup seiring hancurnya bangunan-bangunan karena tak terawat setelah ditinggalkan pemiliknya. KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASAKawasan Kota Lama masih meninggalkan jejak keindahan bangunan masa lalu di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/6/2014). Kemegahan Kota Lama yang dulu metropolis meredup seiring hancurnya bangunan-bangunan karena tak terawat setelah ditinggalkan pemiliknya.
EditorCaroline Damanik

SEMARANG, KOMPAS — Kampung asli di Kota Semarang, Jawa Tengah, secara bertahap terancam hilang akibat tergerus ekspansi pembangunan mal dan hotel. Bahkan, Kampung Sekayu, Kampung Jayengan, juga Kampung Basahan di pusat kota sebagian hilang. Hal ini merisaukan anak muda.

"Seiring pesatnya pembangunan pusat bisnis, terutama di kawasan segitiga emas Semarang yang menggusur kampung asli, tentu saja sangat merisaukan warga yang tinggal di kampung. Mereka perlu jaringan kerja sama agar kampung-kampung asli bisa terselamatkan," tutur Maulana (25), warga Kampung Bustaman, Semarang, Sabtu (5/11), saat hadir dalam Rembuk Mitra Pekakota di Balai Pertemuan Kampung Malang, Purwodinatan, kawasan Johar, Semarang.

Rembuk Mitra Pekakota diprakarsai lembaga swadaya masyarakat Hysteria Semarang, diikuti perwakilan dari tujuh kampung asli Kota Semarang. Acara berlangsung Jumat-Sabtu. Menurut Direktur Hysteria Semarang Ahmad Khairudin, warga dari kampung asli ini berkumpul dan menceritakan problem kampung masing-masing.

Dalam rembuk itu muncul kegelisahan anak-anak muda dan aktivis kampung asli atas mulai hilangnya sebagian wilayahnya. Perubahan itu karena ekspansi investor yang intensif mengembangkan bisnis di segitiga emas, meliputi Jalan Gajahmada, Jalan Pemuda, dan Jalan Pandanaran.

Mulyono (49), warga Kampung Malang, Purwodinatan, mengemukakan, pihaknya bersama anak-anak muda berusaha menggerakkan warga agar lebih peduli pada lingkungannya. Ia berharap warga tidak mudah tergoda pada tawaran pemilik modal yang hendak berinvestasi sehingga menelan wilayah kampung.

Ciri kampung asli Kota Semarang, selain kekhasan atas bentuk rumah, juga kondisi lingkungan sangat padat. Kampung Mijen, misalnya, sentra pembuatan anyaman. Namun, pada 1984, ketika ada swalayan besar berdiri, sebagian kampung itu hilang.

Kampung Sekayu memiliki kekhasan rumah limasan berbahan kayu jati. Di kampung ini ada Masjid Sekayu yang dibangun tahun 1666, yang hingga kini masih berdiri. Namun, dalam dua tahun terakhir, sebagian kampung ini hilang untuk perluasan tempat parkir mal besar di tepi Jalan Pemuda. Di kampung ini lahir novelis NH Dini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan Bappeda Kota Semarang M Farchan mengakui adanya upaya penggusuran kampung asli. Namun, pelepasan aset balai kelurahan, juga keberadaan kampung asli di Sekayu, tak mudah. "Saya selaku pejabat di Bappeda juga tidak setuju jika Kampung Sekayu terdesak oleh perluasan pusat bisnis," tegas Farchan. (DIT/WHO)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 November 2016, di halaman 12 dengan judul "Kampung Asli Terancam".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kontingen Papua Sukses Raih Posisi 10 di Ajang STQHN XXVI

Kontingen Papua Sukses Raih Posisi 10 di Ajang STQHN XXVI

Regional
Apresiasi Film Dokumenter The Mentors, Ganjar: Film Ini Bagus

Apresiasi Film Dokumenter The Mentors, Ganjar: Film Ini Bagus

Regional
Dukung Pembangunan Infrastruktur di Jabar, PT Jasa Sarana Gandeng IIF dan MMI Jadi Mitra Strategis

Dukung Pembangunan Infrastruktur di Jabar, PT Jasa Sarana Gandeng IIF dan MMI Jadi Mitra Strategis

Regional
Jateng 4 Kali Berturut-turut Jadi Provinsi Terbaik Soal Keterbukaan Informasi, Begini Repons Ganjar

Jateng 4 Kali Berturut-turut Jadi Provinsi Terbaik Soal Keterbukaan Informasi, Begini Repons Ganjar

Regional
Dua Pesan Penting Ridwan Kamil untuk BUMD di Jabar

Dua Pesan Penting Ridwan Kamil untuk BUMD di Jabar

Regional
Teori Hati Bidan Eros Mengabdi di Baduy

Teori Hati Bidan Eros Mengabdi di Baduy

Regional
Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

Regional
Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

Regional
Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

Regional
Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

Regional
Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Regional
Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

Regional
Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Regional
Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Regional
Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.