34 Kukang Sitaan Polda Jabar Direhabilitasi di Bogor

Kompas.com - 20/10/2016, 10:04 WIB
Kukang Jawa sitaan Polda Jawa Barat dari sindikat perdagangan satwa dilindungi. (KOMPAS.com/PUTRA PRIMA PERDANA). Kontributor Bandung, Putra Prima PerdanaKukang Jawa sitaan Polda Jawa Barat dari sindikat perdagangan satwa dilindungi. (KOMPAS.com/PUTRA PRIMA PERDANA).
|
EditorFarid Assifa

BANDUNG, KOMPAS.com - Kesehatan 34 ekor kukang jawa (Nycticebus javanicus) hasil penindakan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah Jawa Barat pada Selasa (18/10/2016) kemarin diperiksa oleh Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia.

Kukang yang disita dari pemburu dan pengepul di wilayah Kota Bandung serta Kabupaten Bandung Barat ini direhabilitasi di kawasan hutan kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.

“Tadi malam tim rescue IAR Indonesia beserta satwa sudah sampai di Pusat Rehabilitasi di kaki Gunung Salak Bogor. Satwa aman, semalam tim medis sudah melakukan pemeriksaan kesehatan sementara. Terdiri dari 14 individu jantan dan 20 individu betina,” ujar dokter hewan IAR Indonesia, Nur Purba Priambada, melalui siaran pers, Kamis (20/102016).

Baca juga: Polda Jabar Tangkap Sindikat Penjual Kukang Jawa via Facebook

Purba menambahkan, pemeriksaan kesehatan dilakukan untuk mengetahui kondisi kukang. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan mulai dari pengecekan fisik dan pemberian obat.

Dari hasil pemeriksaan tim medis, secara umum keseluruhan kukang mengalami kondisi stres. Lima kukang memiliki luka seperti gigitan, sementara tiga individu mengalami trauma di bagian mata dan satu individu teraba ada peluru senapan angin di bagian punggung.

“Semuanya berkutu. Empat kukang giginya patah, sementara yang lainnya masih bergigi utuh,” sambungnya.

Kukang yang masih bergigi utuh memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali. Namun, tetap saja kukang yang diburu dari alam itu menderita karena diambil paksa dari habitat asalnya.

“Tim di sini bekerja sama untuk memberikan perawatan dan perlakuan sesuai dengan prinsip kesejahteraan satwa hingga akhirnya nanti mereka dapat dikembalikan ke alam,” ucapnya.  

Dia menambahkan, primata nokturnal korban perburuan dan perdagangan itu selanjutnya akan menjalani pemeriksaan kesehatan yang lebih komprehensif. Proses karantina bertujuan untuk pemulihan dan mencegah penyebaran penyakit. Kemudian maju ke tahapan rehabilitasi perilaku hingga pelepasliaran.

Manajer Operasional IAR Indonesia Aris Hidayat mengatakan, pihaknya membutuhkan waktu yang lama dan biaya besar untuk mengembalikan sifat liar kukang korban perdagangan dan pemeliharaan.

Sebab, pada umumnya kondisi kesehatannya buruk dan mengalami perubahan perilaku.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X